Oleh:
Pirman*
Pada keluarga Nabi Ibrahim kita belajar, bahwa ketaatan dan cinta sejati hanya untuk Dia; Allah Yang Maha Menciptakan dan Maha Kuasa.
Pada keluarga Nabi Ibrahim kita mengetahui, taat dan cinta memang tanpa tapi dan kerap kali sukar diterima logika pada mulanya.
Pada keluarga Ibrahim Sang Kekasih Allah kita menginsyafi, cinta suami kepada istri, ketaatan istri kepada suami sejatinya hanyalah sarana untuk taat dan cinta kepada Allah.
Maka pada keluarga Ibrahim, kita tahu bahwa perjuangan seorang suami dan ayah tak selalu soal liburan, makan-makan, apalagi foto-foto; melainkan tentang pengorbanan sepenuh hati, kerja keras peras keringat, juga kerja cerdas agar anak dan istri yang diamanahkan kepadanya selamat dari neraka yang menyala siksanya.
Di dalam kerja-kerja itu, Ibrahim Sang Khalilullah tak hanya berderai air mata cinta, tetapi bersimbah keringat pengorbanan bahkan darah perjuangan.
Pada keluarga Ibrahim yang mulia, kita juga belajar bahwa kecintaan istri kepada suami tidak selalu pada sesuatu yang disukai istri atau suami, melainkan pada apa yang membuat Allah Ridha.
Maka Ibunda Hajar sama sekali tak tertawa sumringah apalagi update status saat ditinggal Ayahanda Ibrahim, tetapi hatinya penuh ikhlas bahwa pengorbanan itu dialamatkan kepada Allah yang mereka cintai.
Pada keluarga ini pula, kita sebagai orang tua layak menyadari sepenuh hati, bahwa kecintaan orang tua kepada anak bukan hanya untuk apa yang orang tua sukai, tetapi bagaimana orang tua mengantarkan anaknya menjadi taat, takut, bakti, dan cinta hanya pada Allah Yang Telah Menciptakannya.
Saat anak benar cintanya pada Allah, sungguh ia akan menjadi sosok yang amat sangat berbakti, mencintai, dan rela berkorban untuk orang tuanya atas nama Allah, dalam rangka menapaki Sunnah Nabi yang mulia.
Sebagai anak, pada keluarga Ibrahim kita juga belajar bahwa ketaatan, cinta, dan bakti kepada orang tua sejatinya adalah taat kepada Allah dan laksanakan perintah mulia Sang Nabi.
Namun ketika sebagai anak masih sering kita berkata 'nanti' untuk perintah kebaikan, 'ah' pada nasihat dan teguran orang tua, atau bahkan kalimat kasar dan bentakan; tampaknya masih jauh mimpi kita menjadi Ismail yang teguh hati bertutur tegas, "Wahai Ayahku, lakukan apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu," saat akan disembelih.
Masih jauh mimpi kita seperti Ismail yang saleh ketika ayah atau ibu memanggil dan butuh kepada kita, lalu mudah sekali berkata, "Sebentar ya Pak/Bu, musuhnya (game) belum mati," atau, "Sebentar, sedang ada kerjaan."
Ya Allah, sungguh jauh kami dengan teladan Ibrahim, tapi dengan Rahman dan Rahim-Mu, limpahkanlah cinta kasih dan keteguhan untuk menjadikan Sayyidina Ibrahim dan Sayyidina Muhammad sebagai cinta sejati dan sosok yang mampu kami cintai serta teladani dengan kemampuan terbaik yang Engkau berikan.
Selamat Iduladha 1443 hijriah. Mari sembelih keegoisan dan kepongahan diri. Semoga dengannya makin subur cinta di dalam jiwa kepada Tuhan, Nabi, sesama dan semesta. []
*Penulis adalah Jurnalis Bimas Islam



