Oleh:
Syafaat*
Hujan yang datang tiba-tiba dengan curah cukup tinggi beberapa pekan terahir mengakibatkan banjir di beberapa kawasan di Kabupaten Banyuwangi, mengakibatkan banyak kerusakan, baik infrastruktur fasilitas umum, rumah warga hingga hilangnya beberapa kendaraan dan ternak. Tak perlu menyalahkan siapapun, juga tidak perlu mengutuk hujan, apalagi tukang sarang yang katanya dapat memindahkan calon hujan dari wilayah tertentu ke wilayah tertentu, menyalahkan mereka yang sedang mengadakan festival yang mengundang para ahli sarang hujan untuk memindahkan mendung-mendung tipis ke wilayah yang jauh dari lokasi festifal.
Kita hanya perlu membantu meringankan beban saudara-saudara yang terkena musibah sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, kedepan bagaimana hujan yang memang harus turun ini dapat dimanfaatkan sebaik baiknya, air hujan tersebut yang sebagian telah tersesap bumi dapat mengalir pada saluran yag semestinya, tidak lagi menggunakan jalan raya untuk digunakan menuju muara, apalagi masuk ke rumah warga dan meluluh lantahkan perkampungan. Sudah menjadi takdir bagi air berjalan dari tempat yang tinggi menuju ketempat yang lebih rendah, meresapkan diri kedalam tanah yang dapat menyuburkan tanam-tanaman, karenanya perlu dibantu agar air hujan tersebut dapat melaksanakan takdirnya tanpa merusak permukiman.
Pahlawanku Teladanku yang menjadi tema hari pahlawan tahun 2022, dengan harapan agar perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dapat menginspirasi dan memotivasi untuk meneruskan perjuangan mengisi kemerdekaan dalam pembangunan, tak perlu mengangkat senjata, setiap orang dapat memberikan kontribusi sesuai kemampuan, keahlian dan ketrampilan masing-masing, karenanya dalam kondisi bencana seperti saat ini, sangat dibutuhkan simpati dan empati, dan tidak sekedar selfie dan menjadikan wilayah bencana sebagai destinasi wisata.
Menjadikan keikhlasan para pahlawan sebagai teladan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indinesia, merupakan keniscayaan untuk meneruskan perjuangan mereka, tentunya dengan senjata dan strategi yang berbeda, karena kondisi dan musuh yang dihadapi tidaklah sama, para pahlawan yang dulu mengangkat senjata melawan para penjajah karena bangsa penjajah menggunakan senjata dan kekerasan untuk merebut wilayah serta menguasai sumber daya alam Indonesia, tentunya sangat berbeda dengan kondisi zaman yang harus dihadapi bangsa Indonesia saat ini, senjata yang digunakan saat ini sangat berbeda dengan senjata yang digunakan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Para pahlawan merebut kemerdekaan bukan hanya mempertahankan wilayah saja, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana negara ini dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan anak cucunya. Tentunya sangat tidak lucu jika setelah merdeka yang berkuasa yang menikmati adalah anak cucu para penjajah dan mereka yang mendukung kaum penjajah, menjadikan penduduk pribumi yang dulu keluhurnya merebut kemerdekaan negeri ini sebagai kaum buruh di rumah sendiri. Tentunya juga tidak dapat dibenarkan jika menggunakan kekerasan untuk merebut kemerdekaan yang benar-benar merdeka pada saat ini.
Spirit jiwa kepahawanan para pendahulu kita dapat kita jadikan penyemangat untuk mempertahankan warisan kemerdekaan ini agar dapat dinikmati, dan tidak menikmarti kemerdekaan semu, apalagi kenikmatan itu bukan dinikmati oleh bangsa sendiri. Karenanya teladan keuletan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan perlu kita teladani agar semangat tersebut menjiwa dalam setiap anak negeri, sehingga benar-benar memperjuangkan untuk pembangunan negara hingga sejajar dengan bangsa lain yang lebih duu merdeka.
Para penjajah dulu merupakan kaum minoritas yang mampu mengendalikan bangsa Indonesia yang saat itu menjadi kaum mayoritas yang masih tercerai berai, yang pada akhirnya mempunyai kesadaran kolektif untuk memperjuangkan kemerdekaan yang seharusnya menjadi miliknya. Kesadaran kolektif tersebut perlu dipupuk agar tetap berada pada jiwa masyarakat Indonesia yang diharapkan mampu mengelola sumber daya yang dimilikinya untuk kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. Jiwa nasionalisme dan kecintaan terhadap produl sendiri tersebut perlu dipupuk, terlebih dengan gempuran produk luar negeri yang begitu masif hingga jika tidak hati-hati akan memperpuruk produk dan ekonomi anak negeri.
Jumlah penduduk yang begitu tinggi merupakan salah satu sumber daya yang dapat digunakan sebagik-baiknya untuk memacu pembangunan, namun sumber daya manusia tersebut akan menjadi beban yang memberatkan jika tidak disertai dengan kualitas yang memadai, tidak disertai dengan kecintaan terhadap negeri sendiri. Dan merupakan keharusan bagi pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa agar tercipta kesejahteraan bersama.
Peningatan kualitas sumber daya manusia bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah saja, melainkan menjadi kewajiban kolektif bagi seluruh warga negara, karena Negara ini didirikan bkan oleh kelompok tertentu saja, tetapi juga merupakan perjuangan bersama bangsa Indonesia, meskipun ada beberapa peristiwa penghianatan yang dilakukan oleh orang-orang atau kelompok tertentu yang hidup di bumi pertiwi.
Keteladaan para pahlawan tersebut sebagai gambaran bahwa dalam meraih sebuah tujuan harus dilakukan secara bersama-sama sesuai dengan kemampuan, keahlian dan keterampilan masing-masing. Spirit kepahlawanan harus dipupuk dengan nilei nilei sejarah yang diajarkan kepada penerus bangsa, agar terjadi kewaspadaan pada diri bangsa bahwa negeri ini berdiri atas perjuangan para pahlawan yang perlu dipertahankan dan tidak terjadi penjajahan dalam bentuk lainnya.
*Penulis adalah ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwang



