Oleh:
M. Syafaat*
Malam hari itu Direktur Urais Binsyar Pak Haji Agus Salim tak lama selepas mendampingi Kiai Asrorun Niam dlm penyampaian Materi Fatwa Layanan Syariah di Media Digital, tiba-tiba muncul di pintu keluar ruangan sembari melintasi dan menyapa tongkrongan kopi di parkiran yg dibikin dadakan ala-ala santri kobongan.
Di parkiran itu Kiai Husni Istiqlal dibarengi Buya Abu Daud, Camerad Abi S Nugroho, Kaji Pipit Aidul Fitriyana dan bberapa sobat para content creator dr media-media keren keislaman tampak sangat senang karena disamperin oleh sosok kebapakan itu dgn sapaan canda yg lepas namun penuh sahaja.
Ya, kesehajaan adalah sifat yg tak bisa dilepaskan dari diri sosok kelahiran 57 tahun lalu itu. Di balik kesahajaan seghalibnya tertanam benar tekad prinsip kesungguhan untuk melakukan perubahan.
Bagi sosok yg dikenal dgn jiwa pendidik ini, dimana dan kapanpun agenda pembahasan produk atau rumusan kebijakan itu dilaksanakan maka akan benar-benar beliau "pantengin" sampai selesai dan tuntas. Sedikitnya ada beberapa yg tercatat, seperti perumusan program prioritas yg perlu didasarkan atas riset atau kajian yg solid, perumusan Buku Umum Keagamaan, Koordinasi Pusat-Daerah berbasis efektifitas struktur dan pemaksimalan fungsi hingga pelaksanaan kegiatan yg tidak lagi melulu serapan melainkan dgn output yg terukur.
Beberapa jejak emas kebijakan Direktorat Urais Binsyar lainnya terutama dlm mendukung layanan keagamaan yg moderat dan inklusif empat tahun belakangan ini tidak terlepas dari sentuhan tangan Pak Dir Yai ini. Kunci berharga di balik lahirnya kebijakan yg maslahat itu, ungkapnya hanya dapat diperoleh dari langkah sinergi dan kolaborasi, buah kemufakatan bersama pemilik mandat itu sendiri, yaitu masyarakat luas.
Kembali pada malam itu, seperti momen penuh kehangatan lainnya, Pak Haji Agus yg baru saja mendapat respon jempol dari Prof Dirjen Kamar karena telah menggawangi helatan keren bertemakan "fatwa keagamaan di media digital berbasis moderasi beragama" bersama punggawa-punggawa media muda dari NU, Bincang Syariah, Bincang Muslimah, Harakah, Iqra, Republika, MUI, Muhammadiyah, Tajdid Persis, Nahdaltul Wathan, Perti, Darussunnah dan kawan-kawan, tiba-tiba saja mengucapkan pamit kepada sahabat-shabat tongkrongan muda.
Tak cukup sekali ungkapan pamit malam itu beliau sampaikan, hampir tiga kali rasanya ia mengulang, "saya mah maaf gak bisa ikut menginap ya, karena harus lanjut monev ke Tapos Tangerang nih". (Tentu saja, ungkapan ini dipahami sebagai candaan, untuk tidak menyebutkan kerinduannya kembali pulang ke rumah, karna Tapos adalah nama kampung dimana keluarga besar Pak Haji tinggal dan menetap)
Ya Allah Gusti, ternyata itu adalah penanda pamitan yg sesungguhnya, yg terucap langsung dari alm. Pak Haji Agus.
Almarhum Pak Haji Agus yg sedianya (tak kurang dr sebulan) akan meresmikan Mushola Nurul Futuhat di Cimanggu Pandeglang (sebuah desa di dekat ujung kulon, dgn riwayat praktik baik dlm penyelesaian problem keagamaan dgn harmoni, buah apik kerja para perangkat-tokoh-ulama setempat) ternyata tidak dapat mewujudkan cita-cita mulianya itu.
Sore tadi, setelah melewati fase tak sadarkan lebih dari satu hari, Pak Haji Agus Salim pun benar-benar pamit dan dengan sebenar-benarnya pamit. Senyum bahagia di malam hari itu adalah sapaan purna yg menghantarkan pengabdiannya bagi bangsa dan ibu pertiwi.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, selamat berpulang Pak Haji Agus Salim doa tahlil, yasin dan fatihah kami menyertai.
Juga penyertaan lantunan doa kami haturkan kepada Alm. Kiai Nasuha Abu Bakar, sosok suluh FKPAI Banten (wafat jumat 10/09) yg bersamamu telah mewartakan hikmah keagamaan di tanah barat pulau jawa ini dgn nilai kesederhanaan dan kesahajaan.
Ya ayyatuhanafsul muthmainnah irji ila rabbik rhadiyatan mardiyah. Fadkhul fi ibad, wadkhulil jannah. Al Fatihah.
*Pelaksana pada Ditjen Bimas Islam
*Pelaksana pada Ditjen Bimas Islam



