Jakarta, bimasislam—Menurut pakar Humas Agus Laksamana yang mengutip pendapat Warren Buffets bahwa selama 20 tahun membangun reputasi bisa rusak seketika karena sekali twit di media sosial yang salah. Demikian dikatakannya di hadapan peserta Bimtek Peningkatan Kualitas Kehumasan Bimas Islam, Ditjen Bimas Islam Kemenag RI, di hotel Lumire, Jakarta (6/4).
“Warren Buffets adalah orang terkaya di dunia, dia bilang: ‘dalam lima menit, reputasi yang anda bangun 20 tahun akan berubah’, tapi sekarang sudah berubah, bukan hanya satu menit, tapi hanya dengan sekali twit saja”, kata Ketua Pehumas tersebut dengan sangat antusias.
Lebih lanjut Agung mengatakan bahwa saat ini masyarakat sangat menginginkan sesuatu yang instan. Mereka mencari passion dan time yang tepat dan hanya peduli dengan berita yang sesuai dengan keinginan mereka.
“Jika Kementerian Agama (Bimas Islam, red) ingin membuat berita yang akan diminati oleh masyarakat, dengan target 250 juta rakyat, ia akan bersaing dengan 350 ribu berita lain per menitnya”, ujarnya.
Namun, katanya, saat ini kita mendapat tantangan yang sangat berat dengan merebaknya berita hoax. Menurutnya, berita hoax benar-benar menjadi ancaman, dan jika tidak disikapi dengan bijak menjadi problem serius.
“Kota Macedonia menghasilkan ratusan berita palsu yang merupakan order dari Russia. Juga kemenangan Donald Trump ada banjir berita hoax untuk menghancurkan reputasi Hillary Clinton. Yang lebih menarik, adalah bagaimana berita hoax ini dimuat ulang oleh media-media ternama seperti The New York Times, dan sebagainya”, tandasnya.
“Pada akhirnya, orang-orang di balik pembuatan fake news ini ternyata adalah anak-anak muda yang ngopi setiap pagi, naik kemana-mana dengan mobil BMW, mereka tak peduli siapa Trump, yang mereka pedulikan adalah Google Adsnya. Karena itu, kalau kita sudah bertemu media, semua sudah jadi on the record. Sangat berhati-hatilah dengan media. Karena tidak ada yang rahasia dengan mereka”, pesan konsultan kehumasan di berbagai perusahaan ini.
Saat sesi tanya jawab, Agung memberikan atensi khusus bahwa setiap pegawai (ASN) adalah Humas, sehingga diperlukan setiap pegawai memiliki pemahaman dan informasi yang cukup tentang institusinya agar tidak terjadi masalah di kemudian hari. Selain itu, untuk menjadi pemenang bukan siapa yang kuat, tetapi siapa yang mampu beadaptasi dengan lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti oleh 66 orang, 34 dari seluruh provinsi di Indonesia, dan 32 dari internal Ditjen Bimas Islam, Biro Humas, dan Mitra Bimas Islam, yaitu Baznas dan BWI.
(thobib/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



