Kuningan, bimasislam—Berkunjung ke Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, selalu idnetik dengan wisata alam di kaki Gunung Ciremai. Meski dikelilingi tiga Kabupaten, yaitu Kuningan, Cirebon dan Majalengka, namun publik lebih mengenal Gunung Ciremai dengan wilayah Kuningan. Tak mengherankan jika setiap liburan maupun hari-hari biasa, kawasan Kuningan menjadi satu diantara destinasi alam yang wajib dikunjungi.
Namun, tahukah anda bahwa Kuningan juga memiliki destinasi wisata lain selain alam? Ya, di Kabupaten yang terkenal dengan Tape ketan nan manis itu juga menyajikan wisata religi bagi para traveler yang menyukai napak tilas sejarah. Ada banyak destinasi wisata religi yang bias dikunjungi, seperti kerukunan antar umat beragam di Kecamatan Cigugur dan Dusun Talahab yang dihuni beragam agama. Bagi traveler yang menyukai budaya, juga dapat mengunjungi wilayah Kecamatan Darma yang menjadi simbol penyebaran Islam di wilayah Kuningan.
Kecamatan Cibingbin, sekitar 40 KM ke arah timur dari pusat Kota Kuningan, juga menyajikan pemandangan alam nan eksotis. Berada di ujung Jawa Barat dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, wilayah ini dikenal luas sebagai gudang penceramah. Untuk menjumpainya, traveller cukup mengikuti beberapa agenda penrikahan atau sunnatan yang menyuguhkan beragam penceramah, dari yang pintar menguras emosi, hingga penceramah yang menyelipkan nilai-nilai Islam melalui sindirian atau lelucon.
Untuk melihat Cibingbin dalam bingkai dakwah, kita akan menjumpai pesantren besar yang telah turun temurun menjaga tradisi dakwah. Pesantren Bani Syahir, begitu terkenal di wilayah Kuningan, Brebes, Ciamis dan Cirebon. Seperti halnya pesantren tradisional, para santri diajarkan berbagai ilmu Islam dan kitab kuning. Namun ada yang beda dengan model pembelajaran di pesantren yang kini berada di generasi ketiganya. Adalah KH. Ali Basyar, putra kedua dari pendiri pesantren, KH. Jalaluddin, berbagi kisah itu saat bimasislam berkunjung di tengah perjalanan mudik.
“Masyarakat Cibingbin itu sangat kuat dalam beragama. Dan mereka begitu menghormati sosok tokoh agama. Nah, para santri sengaja kami terjunkan langsung di desa-desa mendampingi para tokoh agama dalam berdakwah. Ini model pendidikan yang telah diterapkan almarhum ayah kami,” tutur Kyai Ali saat membuka perbincangan.
Ia bercerita awal mula model pembelajaran ini. Pada tahun 70-an, wilayah Cibingbin yang mencakup hampir 20 desa, sebelum akhirnya dipecah menjadi dua kecamatan, bukanlah wilayah yang kental dengan agama. Ia mencontohkan, terdapat 3 desa yang sangat asing mengenal masjid atau musholla, yaitu Desa Cisaat, Dukuhbadag dan Bantarpanjang. Pada tahun 70-an, sang ayah membuat terobosan dengan mengirim para santri ke kantong-kantong desa di wilayah Cibingbin, mendampingi para tokoh agama yang sudah ditempatkan di wilayah tersebut.
Walhasil, terjun langsung di tengah-tengah masyarakat yang belum terlalu mengenal agama adalah sebuah tantangan. Dari sanalah muncul santri-santri yang mahir berceramah guna menarik simpati masyarakat untuk lebih mengenal agama. Seiring berjalannya waktu, model ceramah sangat mengena di masyarakat, menguatkan dakwah yang juga ditanamkan oleh para tokoh agama di desa-desa tersebut.
“Para santri ini bukan hanya mahir mengaji, namun juga mahir berceramah di hadapan masyarakat. Dari sinilah awal mula bermunculan para penceramah dari wilayah Cibingbin,” ungkapnya.
Dengan wilayah geografis berupa perbukitan, Cibingbin pun menjelma menjadi rujukan para pencari ilmu dari wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Alumnus PTIQ Jakarta ini menambahkan, dengan suasana alam yang sejuk dan jauh dari perkotaan, Cibingbin memiliki sederet penceramah sudah malang melintang. Mereka kini bahkan telah menurunkan ilmunya kepada generasi kedua. Kini, model ceramahpun mulai diberikan improvisasi dengan nada dan dakwah.
Sebagaimana pengamatan bimasislam, wilayah Cibingbin dikelilingi pemandangan alam yang sejuk. Bagi anda yang hendak menikmati ikan bakar dengan sambal khas Cibingbin, itu terdapat di sebelah selatan tepatnya di Desa Cipondok. Bergeser sedikit ke bagian barat, anda juga bisa menikmati Desa Tarikolot sebagai pusat produsen Tape Ketan yang sudah mendunia. Beranjak ke wilayah perbatasan sebelah timur, yang juga jalur alternatif menuju Brebes, Bumiayu dan Jawa Tengah lainnya, ada jejeran perbukitan nan hijau dengan panorama Gunung Tilu menjulang tinggi, menjadi hot spot untuk berselfi ria. Beranjak ke utara, terdapat pembibitan pohon jti terbesar di Jawa Barat, tepatnya di Desa Bantarpanjang. Di sanalah anda dapat menikmati jejeran ribuan model bibit pohon jati yang akan dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia.
Indah bukan?
(Jaja Zarkasyi)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



