Karangkencana, Kuningan, bimasislam—Tidak banyak tokoh yang memilih tinggal di desa, di saat ajakan karir lebih mentereng datang menghampiri. Bukan hanya keasrian desa yang selalu dirindukan, namun lebih dari itu, mereka memilih menjadi pelayan umat, berdakwah daris atu desa ke desa yang lain. Mengawal umat agar tetap berada dalam barisan dakwah Islam yang dengan damai.
Jauh dari modernitas, gemerlap teknologi dan sarana hiburan, itulah kesan yang bimasislam rasakan saat menjelajah Kecamatan Karangkancana, Kuningan, Jawa Barat. Air jernih mengalir dipesawahan yang tengah menghijau, juga ikan-ikan yang tengah berenang dalam kolam-kolam, ditunjang suasana alam yang sejuk menjaidkan wilayah ini sebagai tempat yang ideal bagi anda yang “jenuh” dengan kehidupan kota. Di sini kita bisa menikmati keintiman dengan alam, mendaki bukit, melewati pematang sawah, dan tak lupa menikmati kearifan lokal dari para tokoh agama yang penuh dengan nilai-nilai budi pekerti.
Tepatnya di Desa Gunung Jawa. Berdirilah sebuah pesantren yang cukup tua, Bani Sanjur. Dikelilingi kolam ikan dan beberapa bangunan pondok, Pesantren ini tepat berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat desa. Bahkan sulit untuk memisahkan pesantren dengan masyarakat sekitar. Itulah ciri khas pesantren yang menjadi destinasi para pencari ilmu di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.
“Amanat ayah mertua dulu, katanya jangan membuat yayasan atau sekolah formal. Jagalah tradisi ini,” begitulah obrolan pembuka bimasislam dengan KH. Syarifuddin, tokoh di balik kokohnya tradisi kitab kuning di wilayah Karangkencana dan sekitarnya.
Diawali tahun 72-an saat dirinya menimba ilmu di Pesantren Bani Syahir, Kecamatan Cibingbin, Kuningan, ia terbiasa berkeliling menyampaikan ceramah di masjid-masjid. Saat itu ia bersama beberapa santri ditugaskan khusus untuk menjadi juru dakwah di kantong-kantong masyarakat yang masih jauh dari agama. Dari sanalah ia tumbuh sebagai penceramah ulung yang terus berkeliling dari satu desa ke desa hingga keluar provinsi.
Saat itulah seorang tokoh pesantren Bani Sanjur melihatnya sebagai sosok yang ideal meneruskan pesantren. Akhirnya ia pun diminta untuk menikah dengan putri pak kyai dan menetap disana menjadi sosok yang hingga kini tegak mengawal amanah dakwah.
“Saya besar di desa, mendapat ilmu di desa, rasanya banyak kabaikan yang saya peroleh di desa. Saya memutuskan tetap menjadi bagian dari akar rumput. Semampu saya melayani masyarakat yang membutuhkan,” ungkapnya merendah.
Memiliki lima orang putra dan putri, ia pun tenar sebagai sosok penceramah ulung yang tak lupa melakukan regenerasi. Menurutnya, regenerasi adalah sesuatu yang wajib demi dakwah yang berkelanjutan. Ia pun sering memberikan kesempatan kepada yang muda untuk mengisi ceramah-ceramah keagamaan.
Lelaki kelahiran Salem, Brebes 1958 ini mengingatkan pentingnya mengawal akar rumput. “Jangan biarkan umat mencari-cari ahli agama, kitalah yang harus datang dan hadir di kehidupan mereka,” pungkasnya seraya mengajak bimasislam mengikuti agenda ceramahnya.
Sosok yang gemar bercocok tanam ini mengisyaratkan pentingnya tokoh agama untuk selalu hadir dalam memberi solusi permasalahan yang dihadapi umat. Menurutnya, ketertarikan masyarakat terhadap ajakan beragama yang aneh-aneh disebabkan jarak yang memisahkan antara umat dan ulama. Karena itulah, ia mengajak para tokoh agama senantiasa berada di tengah-tengah umat, hadir memberi jawaban atas keingintahuan atas ajaran agama.
Kyai Syarifuddin adalah wajah nyata kiprah para kyai di desa yang setia mengawal dakwah di akar rumput.
(Jaja Zarkasyi)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



