Lebak, bimasislam—Menjadi garda terdepan pelayanan ummat menjadi kebanggan tersendiri bagi Hidayat. Lelaki yang menghabiskan separuh usianya untuk berdakwah ini adalah satu diantara penyuluh agama Islam Non PNS yang digelar serentak desember 2016 silam. Baginya, bersama tujuh rekannya, adalah sebuah kehormatan diberikan amanah oleh negara. Karena dakwah adalah dunia yang ia jalani sejak muda, maka tugas sebagai penyuluh menambah semangatnya untuk melayani ummat.
Desa sawarna tidak hanya terkenal dengan keindahan pantai dan alam di sekitarnya. Sawarna juga menyimpan beragam spirit tentang keteguhan dan model dakwah yang patut dicontoh. Di sinilah Hidayat bersama aparatur desa dan remaja memakmurkan masjid-masjid dengan beragam aktifitas keagamaan. Setidaknya terdapat 2 masjid dan 3 mushalla yang secara bergiliran menyelenggarakan pengajian. Saat bimasislam berkunjung ke pusat wisata pantai yang terkenal dengan Tanjung Layar ini, nampak sederet agenda pengajian yang telah ia susun bersama para tokoh agam di wilayah Sawarna.
“Di sini semua pihak terlibat. Remaja, tokoh agama, aparat desa. Masing-masing memiliki agenda pengajian, dan semua kita terlibat. Itulah mengapa di sini setiap pengajian selalu ramai oleh jamaah,” ujarnya saat berbincang di sepanjang pantai Sawarna.
Hidayat mengisahkan satu budaya yang selama ini dijunjung tinggi para tokoh agama dan jamaah di wilayah Sawarna. Bagi masyarakat Sawarna, menghadiri pengajian yang diselenggarakan salah satu kelompok masyarakat adalah sebuah kehormatan. Setiap ada pengajian, ia akan mengajak para jamaahnya mengikutinya meski sangat jauh jaraknya.
Dakwah Partisipatoris
Selasa malam, tanggal 25 April 2017, Pantai Sawarna baru saja diguyur hujan deras, tak tanggung-tanggung hampir dua jam lebih lamanya. Derasnya hujan saat itu tak luput dari tiga sambaran kilat dengan iringan petir yang menggelagar. Gelagar kilat tak hanya berhasil mengalahkan suara debur ombak yang bertubi kali menghantam karang-karang besar di pesisir Tanjung Layar, namun juga sedikit mencuri perhatian para jamaah Majlis Ta’lim Mushola Al-Ikhlas, Kampung Lebak Peuteuy Desa Sawarna yang malam itu sedang mengadakan tradisi rajaban, sebuah rutinan jam'i, dengan pimpinan majelis Hidayat.
Peristiwa Isra Mi’raj yang mengangkat perjalanan suci Rasulullah Saw yang disertai salah satu hikmah tentang diturunkannya perintah shalat di dalam Islam, oleh Hidayat kali itu disandingkan dengan tafsir perjalanan masyarakat pesisir pantai yang di satu sisi menjalankan kehidupan melaut mereka sebagai nelayan dengan kewajiban fardhi mereka dalam menunaikan ibadah shalat lima waktu di sisi yang lain.
Suasana kekhidmatan dalam rajaban di musolla kecil di pesisir pantai yang lautnya berbatasan langsung dengan samudera hindia itu berlangsung cukup hangat. Ada ghirah kuat yang tampaknya ditanamkan oleh Hidayat dalam mengimbangi antusiasme jamaah pengajian yang kuat bertahan lebih dari 60 menit dari sedianya waktu yang sudah dijadwalkan.
Hidayat adalah satu dari 8 penyuluh agama non pns yang beberapa waktu lalu diangkat dan disahkan oleh Kementerian Agama sebagai pemegang amanah juru dakwah di Kecamatan Bayah, Lebak, Banten.
Presentase kehadiran jamaah pada tiap kali pengajian Hidayat ini tergolong unik, karena memiliki tingkat kestabilan yang senantiasa bertahan. Dan pada keunikannya yang lain pola tertib administratif tegas diterapkan Hidayat dengan ketersediaan absensi kehadiran, yang terdiri dari identitas diri, dusun, juga paraf atau tandatangan dari masing-masing jamaah.
Hidayat pun mengisahkan, bahwa "Awalnya para jamaah sempat bertanya-tanya perihal absensi kehadiran dalam pengajian. Maklum umumnya secara tradisionil kegiatan pengajian berjalan secara alami, jamaah hadir, duduk menyimak, mengajukan pertanyaan, kesimpulan dan kembali pulang ke rumah masing-masing. Namun, seiring berjalannya waktu disertai penjelasan yang disampaikan, bahwa tata administratif merupakan bagian dari pola dakwah dan metode penyuluhan agama kekinian. Tak ayal, jamaah pengajian kian dapat memahaminya, bahkan jika dalam pengajian, absensi tidak sempat dibagikan, sang ustadz justru mendapatkan teguran, “Pak Ust kok absensi tidak disebarkan, kan saya belum tandatangan" demikian jamaah Hidayat berujar.
Geliat kesadaran atas pola absensi itu kemudian berbuah tak jauh dari pangkal pohonnya. Dalam ikhtiar menjaga ghirah keagamaan di antara jamaahnya, Hidayat menggunakan metode dakwah yang dialogis partisipatoris (bottom top). Kesuksesan dakwah dialogis partisipatoris Hidayat selain karena memberikan kesempatan bagi para jamaah untuk menentukan tema penyuluhan, juga ditujukan sebagai penyeimbang bagi kenyamanan jamaah dalam menerima materi penyuluhan. Dengan demikian stabilnya jumlah jamaah yang berkisar pada angka 30 hingga 50 orang itu tidak terlepas dari kreatifitas metode penyuuluhan yang digagas Hidayat.
Belajar dari pola dan penyampaian materi yang saat ini dijalani dan disampaikan oleh Hidayat, tampak ia seakan memosisikan para pendakwah sebagai suluh di tengah belantara medan dakwah yang semakin menantang.
Syahdan, sebagaimana halnya fungsi suluh, kehadiran Hidayatpada malam-malam dan kesempatan di kala pengajian majelis ta’lim itu berlangsung juga adalah cahaya yang tak hanya menyinari segenap pemahaman keagamaan jamaahnya saja, melainkan juga pelita bagi aktifitas dakwah di sepanjang pinggiran pantai Sawarna.
(Jaja Zarkasyi-Syafaat/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



