Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Baiturrohim, Dede Lukman, mengatakan keterbukaan masjid merupakan upaya pengurus untuk menjaga fungsi sosial masjid di tengah dinamika jalur Pantura. Menurutnya, sejak awal masjid ini hadir bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang pelayanan bagi masyarakat dan pengguna jalan.
“Masjid ini sudah berdiri sejak 1967. Dari dulu kami berusaha menjaga agar masjid tetap terbuka dan bermanfaat. Saat arus mudik dan balik, kebutuhan pemudik itu sederhana: tempat parkir, toilet, wudu, dan ruang untuk istirahat sejenak,” ujar Dede Lukman saat ditemui di masjid, Selasa (30/12/2025).
Ia menjelaskan, Masjid Baiturrohim memiliki area parkir yang cukup luas, teras masjid yang lapang, serta dukungan ambulans yang siaga. Fasilitas tersebut memungkinkan pemudik beristirahat dengan aman tanpa mengganggu arus lalu lintas Pantura yang padat.
Selama libur Nataru, Dede menyebut jumlah pemudik yang singgah mencapai lebih dari 150 orang. Layanan diberikan secara swadaya, melibatkan unsur KUA, penyuluh agama, dan Kementerian Agama, yang turut membantu pengelolaan masjid ramah pemudik di wilayah tersebut.
Selain pelayanan singgah, Dede Lukman menyimpan harapan besar agar masjid dapat semakin mandiri secara ekonomi. Ia menginginkan adanya kantin atau UMKM khusus masjid yang hasilnya bisa digunakan untuk kesejahteraan takmir, pengurus DKM, serta jemaah di sekitar masjid.
“Kami ingin masjid ini bukan hanya tempat singgah, tapi juga pusat pemberdayaan. Kalau ada kantin masjid, hasilnya bisa membantu operasional dan kesejahteraan jamaah. Itu mimpi kami ke depan,” ujarnya.
Salah satu pengunjung, Jevita (34), merasakan manfaat dari masjid ramah tesebut. Pemudik asal Bali itu singgah bersama keluarga kecilnya pada Selasa pagi sekitar pukul 09.00 WIB, sedang dalam perjalanan pulang setelah berlibur dari Bandung dan berwisata ke Ciater, Subang. Ia kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalur Pantura Patokbeusi.
Ia mengatakan awalnya hanya berniat berhenti sebentar untuk memarkir kendaraan dan menggunakan toilet umum. “Kami lewat Pantura dan butuh berhenti sebentar. Saya ingat pernah baca berita soal program Masjid Ramah Pemudik dari Kemenag, jadi coba masuk ke masjid ini,” tuturnya.
Sebagai pemeluk agama nonmuslim, Jevita sempat merasa ragu. Ia khawatir kehadirannya tidak diterima. Namun keraguan itu langsung sirna setelah disambut dengan ramah oleh pengurus masjid.
“Awalnya saya takut tidak diterima karena kami nonmuslim. Tapi ternyata orang-orang di sini sangat ramah. Kami dipersilakan parkir, ke toilet, bahkan boleh isi ulang air minum,” katanya.
Tak hanya itu, Jevita dan keluarganya juga diperbolehkan beristirahat sejenak di pendopo dekat masjid. “Kami bisa selonjoran sebentar, anak-anak juga tenang. Rasanya hangat sekali, seperti benar-benar diterima,” ujarnya dengan mata berbinar.
Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam baginya. Menurut Jevita, keramahan Masjid Baiturrohim menjadi contoh nyata bahwa ruang ibadah juga bisa menjadi ruang kemanusiaan yang inklusif bagi siapa pun yang membutuhkan.
Kasubdit Kemasjidan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Nurul Badruttamam, mengatakan, pada momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Kementerian Agama menyiapkan 6.919 masjid ramah pemudik di berbagai wilayah Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk memastikan masyarakat yang melakukan perjalanan mendapatkan akses tempat istirahat yang aman dan layak di jalur-jalur padat lalu lintas.
Ia menjelaskan, akhir tahun memiliki dimensi keagamaan sekaligus sosial, karena selain perayaan Natal bagi umat Nasrani, terdapat pula libur sekolah dan libur Tahun Baru yang mendorong tingginya mobilitas masyarakat.
“Fasilitas masjid untuk melayani para musafir merupakan bagian dari kebijakan masjid ramah yang dikembangkan Kemenag. Kebijakan tersebut mencakup masjid ramah lansia, ramah anak, ramah perbedaan, dan ramah lingkungan, dengan tujuan memperkuat peran masjid sebagai ruang ibadah sekaligus ruang sosial yang melayani kebutuhan masyarakat secara luas,” pungkasnya.
An/Mr



