Tasikmalaya, bimasislam—Direktorat Jenderal Bimas Islam telah meluncurkan program pembinaan kehidupan keagamaan melalui peningkatan perekonomian, khususnya di daerah rawan konflik. Salah satu lokasi yang menjadi sasaran adalah Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya yang beberapa tahun ke belakang terjadi konflik antara warga masyarakat dengan pemeluk JAI. Sebanyak 16 kelompok usaha yang telah ada mendapatkan bantuan dana pengembangan usaha, disamping bantuan operasional bagi penguatan peran Majelis Taklim sejumlah 3 lokasi dan pembangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Bahrussalam Desa Kutawaringin Kecamatan Salawu.
Bimasislam beberapa waktu lalu (16-19/9) berkunjung dan bersilaturahim dengan masyarakat binaan, didampingi Kasi Bimas Islam Kemenag Kabupaten Tasikmalaya Drs. H. Danial Abdul Kholik, Kepala KUA Kecamatan Salawu, Drs. H. Ana Suryana dan jajaran pemerintahan Desa Kutawaringin. Di desa yang berada di atas perbukitan, terdapat 6 kelompok binaan, meliputi kelompok ternak kambing, pembibitan ikan dan usaha pembuatan keripik singkong dan gula merah. Dalam tinjauan bimasislam, ketiganya berkembang cukup baik, mengingat para anggota binaan sebelumnya telah memulai usahanya sehingga telah memiliki pengalaman.
Begitupun di Desa Tenjowaringin. Kelompok binaan membuka usaha pembuatan rengginang, warung makan dan ternak ikan. Dipimpin langsung oleh Bapak Atang Rostaman, terdapat 3 kolam ikan yang semuanya berisi ikan siap jual. Menurut Atang Rostaman, bantuan dialokasikan bagi penguatan home industri yang memang sudah berkembang di masyarakat Tenjowaringin meski dalam skala yang kecil.
“Bantuan tersebut bagi kami sangat besar manfaatnya karena membantu memperkuat unit-unit usaha yang sebelumnya sudah ada,” tuturnya.
Hal menarik yang dapat dilihat di kedua desa binaan ini adalah tingginya partisipasi masyarakat untuk mengoptimalkan bantuan. Desa Kutawaringin misalnya, mendapatkan alokasi bantuan pembangunan MI sebesar Rp. 360.000.000,-. Kini, tiga lokal kelas dengan konstruksi tingkat dua dan luas 7 m x 7 m nampak megah berada di perbukitan yang hijau. Menurut Kang Asep, tokoh sekaligus Kepala MI Bahrussalam, masyarakat sangat antusias membantu pembangunan, dari mulai tenaga, makanan hingga materi lainnya. Hasilnya, anggaran yang sebelumnya hanya cukup membangun kelas pembelajaran yang sederhana, justru kini menjadi lokal kelas yang sangat luas dan siap dibangun di atasnya tiga lokal.
“Seluruh masyarakat di sini, tidak melihat latar belakang kelompok dan pahamnya, bersama-sama membangun MI. Ini awal yang baik, artinya melalui lembaga ini kebersamaan yang sebelumnya sempat terkoyak, dapat kami rangkai kembali. Ini point penting bagi kami,” tuturnya.
Menurut Kasi Bimas Islam, Drs. H. Danial Abdul Kholik, pihaknya secara intensif membangun komunikasi dengan seluruh stake holdersdi Kecataman Salawu guna memantau pelaksanaan bantuan Bimas Islam. Hal ini bertujuan agar bantaun dapat dikelola secara baik dan berdampak bagi perekonomian masyarakat dan juga penguatan kerukunan.
“Hasilnya memang belumlah fantastis, tapi kita bisa melihat semangat dan kerjasama antar masyarakat mulai nyata dan kini silaturahim begitu erat. Kami yakin dan mendorong tokoh-tokoh lokal menjadi penggerak bagi penguatan kerukunan, kami yang di luar memberi support, karena tokoh-tokoh lokal ini lebih paham dan mengerti suasana dan kondisi.” tegasnya.
Kang Danial, begitu biasa disapa, kembali nmenegaskan bahwa faktor partisipasi masyarakat sangat menentukan keberhasilan pembinaan. Tanpa adanya partisipasi, mustahil program-program pembinaan dapat berjalan secara baik, termasuk dalam pembinaan kerukunan di Kecamatan Salawu. (kangjeje/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



