Jakarta, bimasislam— Mantan artis sinetron, foto model, dan penyanyi, Peggy Melati Sukma, mengungkapkan di hadapan Halaqah Da’awiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusatt di Jl. Proklamasi, Jakarta (27/1), bahwa dirinya baru 18 bulan hijrah dari kehidupan glamour keartisan hingga seperti ini.
“Saya ini hijrah setelah menemukan hakikat kedirian saya setelah banyak kesenangan hidup pernah saya jalani. Saya mohon doa dari bapak dan ibu sekalian agar saya tetap istiqamah”, ungkapnya.
Lebih lanjut artis yang dikenal dengan istilah “pusing” ini mengatakan: “saya itu pelaku seni, bintang sinetron, bintang film, penyanyi, foto model, pebisnis, duta pada beberapa Kementerian. Saya memiliki 6 perusahaan, mulai dari perikanan, pesawat terbang, hingga senjata. Semua perilaku kejahiliyahan sudah pernah saya jalani. Kekuasaan punya. Harta punya. Status sosial juga punya. Namun apa yang saya miliki itu tidak menjadikan saya menemukan kebahagiaan sejati. Akhirnya saya bisa sampai ketemu dengan bapak ibu sekalian”, tuturnya dengan sangat mengharukan.
“Saya seperti ini, seperti bapak ibu lihat baru 18 bulan. Saya tidak mau dibilang telah hijrah, tetapi sedang berproses hijrah dan akan terus berproses karena hal ini tidak akan berhenti sampai di sini. Alhamdulillah, setelah saya jalani ini subhanallah anugerah Allah datang bertubi-tubi. Saya setiap hari diminta hadiri pertemuan untuk berbagi pada berbagai forum pengajian mulai tingkat masyarakat biasa hingga high level. Bahkan jadwal saya cukup padat, baik dalam maupun luar negeri. Tahun lalu selama sebulan di Australia, juga Amerika, Hongkong, Perancis, negara Asean, dan masih banyak lagi”, tambahnya.
Jujur, saya ini terlahir dari keluarga miskin. Kemudian saya sekolah mendapat rangking satu terus, kuliah S1 dan S2 lulus dengan predikat Cum Laude dan hidup di tengah metropolitan pada kelas atas. Artinya, secara pendidikan, kelas ekonomi, pergaulan, saya berada di sini. Hanya saja kenapa saya kemudian menyadari untuk hijrah dengan menggunakan hijab dan membantu berdakwah karena saya melihat kalangan dai masih jarang menyentuh kelas sosial seperti ini, imbuhnya.
Oleh karena itu, harap mantan pesinetron ini, bagi kalangan dai agar menyentuh dakwah dengan pendekatan yang tepat. Saya sering menyampikan melalui pemahaman konsep tauhid untuk membangun pondasinya. Terus, kenapa mereka sering memanggil saya untuk berbagi pengalaman hidup, karena saya ini pelaku nyata orang hidup di kota metropolitan yang membutuhkan sentuhan agama tanpa menghakimi. Sehingga, para dai seharusnya dapat menyesuaikan konteks dakwahnya, agar kalangan seperti saya ini dapat tertarik untuk belajar agama dan akhirya dapat menjadi pribadi yang ideal, tutupnya. (thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



