Jakarta, Bimas Islam — Kementerian Agama menekankan pentingnya dakwah sebagai sarana penguatan mental anak dan remaja agar tidak mudah frustrasi, putus asa, hingga terjerumus pada tindakan ekstrem di tengah kompleksitas persoalan kehidupan.
Hal tersebut disampaikan Direktur Jaminan Produk Halal (JPH) Kementerian Agama Fuad Nasar saat mewakili Wakil Menteri Agama Dr. H. Romo R. Muhammad Syafi’i dalam acara pelepasan Kafilah Dakwah Ramadan 1447 H/2026 M Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir di Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama dan Kementerian Haji, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
“Dakwah yang dilakukan para dai dan daiyah di perkotaan maupun pedesaan diharapkan mampu memperkuat mental anak dan remaja agar tidak mudah frustrasi, putus asa, apalagi sampai bunuh diri, betapa pun beratnya masalah kehidupan,” ujar Fuad.
Fuad mengapresiasi STID Mohammad Natsir yang pada Ramadan tahun ini kembali mengirimkan dai dan daiyah ke 31 provinsi di Indonesia serta ke negara tetangga, yakni Malaysia dan Timor Leste. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang secara konsisten menjalankan program pengiriman dai ke daerah terpencil dan terluar selama puluhan tahun.
Menurut Fuad, Kementerian Agama berharap kafilah dakwah tersebut dapat memberi dampak nyata dalam membina akidah dan amaliah umat, sekaligus mencerahkan intelektual dan spiritual masyarakat.
Dalam pembekalan tersebut, Fuad menjelaskan, Islam merupakan agama dakwah yang diperkenalkan kepada umat manusia melalui proses penyampaian nilai-nilai yang berkelanjutan. Ia mengutip pemikiran pendiri Dewan Dakwah Mohammad Natsir dalam buku Fiqhud Da’wah yang menyebutkan, “risalah merintis, dakwah melanjutkan.”
Ia mengungkapkan, dakwah Islamiyah merupakan upaya mentransformasi umat dari kondisi yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik. Ruang lingkup dakwah mencakup pembentukan individu, pembinaan umat, hingga kontribusi terhadap pembangunan bangsa dan negara. “Dakwah adalah usaha mengubah keadaan yang negatif menjadi keadaan yang positif,” jelasnya.
Fuad juga mengingatkan bahwa dakwah merupakan kerja berkelanjutan lintas generasi yang membutuhkan sinergi dan saling melengkapi antarsesama umat Islam. Perbedaan pandangan, menurutnya, tidak boleh justru merusak hasil dakwah yang telah dilakukan.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kemampuan komunikasi para dai dan daiyah. Seorang juru dakwah, kata Fuad, harus mampu memahami karakter audiens serta kondisi sosial masyarakat tempat dakwah dilakukan.
“Bicaralah kepada manusia sesuai dengan taraf pemikirannya. Karena itu, sosiologi dakwah dan psikologi dakwah penting untuk dikuasai. Dai dan daiyah juga tidak boleh berhenti belajar dan membina kepribadian,” tegasnya.
Fuad menambahkan, materi dakwah perlu disesuaikan dengan kebutuhan umat, baik di perkotaan maupun pedesaan, tanpa mengesampingkan tema-tema pokok ajaran Islam. Kontekstualisasi dakwah diperlukan agar pesan agama relevan dan solutif.
Ia menilai tema dakwah saat ini semakin luas, mencakup persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dalam bidang sosial, dakwah diharapkan turut memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan kesadaran halal, serta mendukung upaya pencegahan perceraian dan perkawinan anak. Adapun dalam bidang ekonomi, dakwah perlu menyentuh etos kerja, kedermawanan, dan literasi keuangan syariah.
Selain itu, Fuad mendorong penguatan dakwah lingkungan melalui pemahaman fikih lingkungan dan ekoteologi guna menumbuhkan kesadaran menjaga keseimbangan alam. “Dakwah tidak boleh disederhanakan hanya sebatas khutbah dan ceramah. Dakwah memiliki dimensi yang luas,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Fuad menyampaikan pesan kepada para dai dan daiyah yang akan bertugas di berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri. “Selamat menunaikan tugas dakwah. Sampaikan pesan-pesan Islam tentang kerukunan umat manusia dan perdamaian dunia dengan penuh optimisme,” tutupnya.
Acara tersebut turut dihadiri Sekretaris Pembina DDII Pusat Natsir Zubaidi, Wakil Ketua Umum DDII Pusat Ahmad Misbahul Anam dan Mohammad Noer, Ketua STID Mohammad Natsir Dwi Budiman Assiroji, serta Ketua LPPM STID Mohammad Natsir Lukman Ma’sa.
Nam/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



