Tabanan, Bimasislam— Di tengah hiruk pikuk pariwisata di Provinsi Bali, wisata halal bagi turis Muslim rupanya menjadi peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Halal yang dimaksud memang masih terbatas pada akomodasi penginapan dan restoran yang memiliki sertifikat halal, namun minat pelancong untuk menyewa Biro Travel Muslim semakin naik dari waktu ke waktu.
Bimasislam berbincang dengan salah satu pelaku usaha travel halal di Pulau Bali, Muhammad Dany tentang pengalamannya mendampingi turis Muslim di salah satu pulau terbaik dunia tersebut. Pria kelahiran Mojokerto, 45 tahun lalu itu sebetulnya telah memulai usaha sejak sembilan tahun yang lalu, namun baru pada 2013 ia beralih ke segmentasi pasar Muslim seiring meningkatnya animo wisatawan Muslim yang sadar akan produk halal dalam berwisata. Menurutnya, persaingan pasar wisata Muslim di Bali relatif masih sedikit sehingga membuka peluang lebih besar. “Saingannya di sini masih sedikit” katanya kepada bimasislam, Selasa (6/9)
Bermodalkan pengalaman membuka usaha travel di Yogyakarta, Dany meluaskan pasarnya ke Pulau Dewata. Pertimbangannya hanya satu, “daerah wisata pasti lebih menjanjikan”. Hasilnya, dari modal satu sepeda onthel, kini ia sudah punya delapan mobil. Travelnya menyediakan beragam jenis kendaraan roda empat, mulai Alphard, Fortuner, HRV, Avanza, Xenia, APV hingga mobil bis. “Tergantung permintaan” katanya.
Pangsa pasarnya adalah wisatawan domestik, timur tengah, Malaysia, Melayu Singapura dan negara-negara Muslim lain. Dalam melayani customer, ia menjalin kerjasama dengan sejumlah hotel dan rumah makan yang sudah bersertifikasi halal. “Jadi kalau ada customer, kita akan sarankan untuk menginap di hotel dan restoran tertentu yang sudah menjalin kerjasama, tentu yang punya fasilitas halal,” terangnya.
Ayah dari tiga anak ini sadar bahwa banyak di antara wisatawan Muslim yang merasa bingung saat mencari makanan halal di Pulau Bali, apalagi jika kunjungan tersebut merupakan pengalaman pertama. “Banyak yang cukup bingung terutama soal makanan, padahal jika sudah tahu, mencari makanan halal di Bali tidaklah sulit.”
Jika menyusuri jalur wisata di sepanjang Pulau Bali, sebetulnya terdapat sejumlah rumah makan halal, misalnya di jalur Singaraja dekat Pura Ulun Danau Bratan terdapat deretan kedai makanan milik Muslim dari Jawa atau Nusa Tenggara Barat. Demikian pula di daerah Canggu, dari Pura Tanah Lot ke arah Kerobokan terdapat sejumlah restoran halal. Sejumlah hotel yang bersertifikasi halal pun mudah dicari di pusat-pusat wisata seperti Kuta, Nusa Dua, Sanur, Denpasar, dan sebagainya.
Dikatakan Dany, peluang untuk membuka travel Muslim di Bali cukup menjanjikan mengingat selain wisatawan dari luar negeri, turis domestik pun cukup banyak yang menghabiskan waktu di pusat-pusat wisata di pulau Bali. “Sebagai Negara mayoritas berpenduduk Muslim, turis domestik tentu didominasi oleh wisatawan Muslim.”
Meski demikian, Dany memahami bahwa travel halal yang dipimpinnya harus memiliki sertifikat halal. Oleh karena itu ia berharap seiring diberlakukannya Undang-Undang Jaminan Produk Halal yang RPPnya kini tengah dalam pembahasan, sektor jasa yang dimilikinya pun dapat memiliki sertifikat halal.
Secara terpisah, Kasubdit Produk Halal Kementerian Agama, Siti Aminah mengingatkan bahwa semua sektor usaha di bidang jasa yang menggunakan identitas halal harus memenuhi “standar halal” sebagai bentuk tanggung jawab dan perlindungan kepada konsumen.
“Audit halal adalah bentuk tanggung jawab dan perlindungan kepada konsumen. Tanpa adanya sertifikasi, maka identitas Halal yang disandang pelaku usaha belum bisa dipertanggungjawabkan.” Katanya kepada bimasislam.
(Sigit-Vikry/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



