Oleh:
Dr. H. Jamaluddin M. Marki, Lc. M.Si*
Dr. H. Jamaluddin M. Marki, Lc. M.Si*
Kementerian Agama akan menggelar Penerangan Agama Islam (Penais) Award (dahulu PAI Award) pada akhir Agustus 2025 di Jakarta. Ajang tahunan ini bukan hanya wadah peningkatan kompetensi Penyuluh Agama Islam, tetapi juga bentuk apresiasi Kemenag sebagai instansi pembina jabatan fungsional bagi para penyuluh terbaik yang berkontribusi dalam pembangunan nasional. Selain itu, Penais Award juga menjadi sarana silaturahmi bagi penyuluh agama Islam dari seluruh Indonesia.
Penyuluh Agama bukan sekadar profesi atau jabatan fungsional, melainkan panggilan jiwa. Di balik aktivitas mereka yang kerap jauh dari sorotan media, tersimpan dedikasi besar untuk merawat akidah, membina umat, dan menjaga harmoni sosial. Mereka adalah “penjaga suara langit” yang menyampaikannya dengan penuh kesabaran di bumi Nusantara yang kaya budaya dan keyakinan.
Dakwah tidak hanya berlangsung di mimbar-mimbar megah, tetapi juga hadir dalam perbincangan sederhana di sudut desa, dalam peluh penyuluh yang berjalan kaki menembus pelosok, dan dalam ketulusan tanpa pamrih. Penais Award 2025 hadir sebagai ikhtiar untuk menyalakan cahaya harapan, menyuarakan nilai keikhlasan, dan menampilkan kisah nyata para penyuluh yang mengabdikan diri di tengah masyarakat, dari kota hingga desa terpencil.
Tahun ini terdapat 90 nomine dari 9 kategori penghargaan, yakni:
1. Peningkatan Literasi Al-Qur’an
2. Pendampingan Kelompok Rentan
3. Kesehatan Masyarakat
4. Pemberdayaan Ekonomi Umat
5. Pendampingan Hukum
6. Pelestarian Lingkungan
7. Metode Penyuluhan Baru
8. Penguatan Moderasi Beragama
9. Anti Korupsi
Kategori Anti Korupsi merupakan tambahan baru hasil kolaborasi dengan KPK. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat peran penyuluh sebagai ujung tombak edukasi antikorupsi di masyarakat. Penghargaan ini sekaligus menjadi indikator efektivitas program penyuluhan yang berjalan serta strategi menanamkan nilai integritas secara lebih luas.
Proses penilaian dilakukan melalui beberapa tahap, termasuk portofolio dan presentasi. Tahap akhir melibatkan tim juri independen dari UI, UIN Jakarta, Universitas PTIQ, praktisi IT, peneliti BRIN, serta melibatkan tanggapan publik dari 19.886 responden profesional.
Tema Penais Award 2025 adalah “Bergerak, Berinovasi dan Berdampak”. Tema ini sejalan dengan semangat Kemerdekaan RI ke-80, “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.”
“Bergerak” dalam konteks Islam identik dengan amal, yakni perbuatan baik yang bernilai pahala.
Dalam Al-Qur’an, kata amal muncul 620 kali dalam berbagai bentuk, dengan akar makna bekerja dan bergerak. Pergerakan adalah sunnatullah; seperti mesin yang bergerak, menimbulkan energi yang mampu melahirkan ide-ide kreatif, karya inovatif, dan manfaat besar bagi umat. Namun, kesuksesan sejati tetap berpangkal pada cinta dalam melakukannya.
Menurut Maulana Rumi, cinta adalah “perasaan universal” yang menyatukan manusia dengan semesta, tabib segala kelemahan, dan kekuatan penggerak kehidupan. Cinta melahirkan keikhlasan (lillahi ta’ala) yang menjadi ruh dalam setiap amal. Filosofi ini tercermin dalam tari Sufi Mevlevi Sema, yang menghadirkan keindahan spiritual lewat gerakan berputar, selaras dengan putaran alam semesta.
Dalam semangat bergerak, berinovasi, dan berdampak, penyuluh agama dituntut terus meningkatkan kualitas layanan keagamaan. Mereka adalah pengayom keberagaman, garda terdepan menjaga harmoni sosial, serta penjaga relasi antara manusia, lingkungan, dan alam semesta.
Mari wujudkan Indonesia Maju dengan layanan keagamaan yang berdampak luas, inovasi tiada henti, serta karya nyata yang bermanfaat bagi umat.
*Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam



