Jakarta, Bimas Islam — Pelaksana tugas Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, mengungkapkan, Kementerian Agama (Kemenag) menempatkan pendataan nasional majelis taklim sebagai salah satu program prioritas dalam penguatan layanan keagamaan. Hal itu disampaikannya pada pembukaan Grand Final dan Anugerah Festival Majelis Taklim 2025 yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, 25–27 November 2025.
“Data yang akurat dan mutakhir akan menjadi fondasi pengambilan kebijakan pembinaan keagamaan yang tepat sasaran dan berkesinambungan,” ujarnya, Selasa (25/11/2025).
Zayadi menjelaskan, Kemenag berkomitmen untuk memfasilitasi penyempurnaan Sistem Informasi Manajemen Majelis Taklim yang dirancang untuk menghimpun profil kelembagaan, aktivitas pembinaan, hingga potensi masing-masing majelis taklim. Data tersebut diharapkan tidak hanya memotret kondisi faktual, tetapi juga menjadi rujukan dalam merancang program pembinaan yang sesuai kebutuhan masyarakat. “Data individu dan data rekapitulasi Majelis Taklim harus kita himpun seaktual mungkin agar setiap intervensi pembinaan benar-benar berbasis kebutuhan riil,” imbuhnya.
Ia menilai Festival Majelis Taklim 2025 sekaligus menjadi momentum memperkuat posisi majelis taklim sebagai ruang belajar agama yang adaptif, moderat, dan inklusif. Zayadi mengapresiasi gagasan-gagasan yang digerakkan Pokja Majelis Taklim, termasuk penyusunan direktori nasional serta Ensiklopedi Majelis Taklim sebagai upaya menumbuhkan tradisi literasi di kalangan jamaah.
Zayadi menekankan pentingnya kolaborasi lintas lembaga, baik pemerintah daerah, kepolisian, maupun mitra lainnya untuk memperkuat peran majelis taklim sebagai mitra strategis negara dalam pembinaan umat. “Majelis taklim adalah entitas khas Indonesia. Ia bukan hanya tempat mengaji, tetapi juga ruang masyarakat menemukan keteduhan, nilai keagamaan yang harmonis, serta kebersamaan,” katanya.
Zayadi menekankan bahwa majelis taklim akan memiliki peran yang semakin penting di tengah derasnya arus informasi. “Majelis taklim harus menjadi rumah penjernih. Tempat orang kembali pada nilai agama yang menenteramkan dan mencerahkan,” ujarnya.
Sistem Informasi Majelis Taklim Segera Diluncurkan
Ketua Pengurus Pusat Pokja Majelis Taklim, Nyai Sururin, menyampaikan bahwa pendataan nasional majelis taklim saat ini memasuki tahap finalisasi. Ia berharap Sistem Informasi Majelis Taklim sudah dapat diluncurkan pada peringatan Hari Amal Bhakti Kemenag tahun 2026. “Masyarakat sudah lama menunggu. Dengan sistem pendataan nasional, kita bisa melihat profil majelis taklim secara lengkap, akurat, dan terbuka,” ujar Sururin.
Ia menjelaskan, pendataan nasional merupakan program prioritas pertama sejak Pokja Majelis Taklim dilantik pada 27 Desember 2023. Melalui pendataan, pemerintah dan masyarakat dapat mengetahui kekuatan, kelemahan, karakter, serta kebutuhan tiap majelis taklim. “Profiling ini sangat penting untuk menyusun strategi dakwah yang tepat. Ada majelis taklim jamaah ibu-ibu, ada jemaah remaja, bahkan ada jemaah anak jalanan. Pola pendekatannya tentu berbeda,” ujarnya.
Nyai Sururin juga memaparkan dua program besar lain yang tengah dijalankan Pokja Majelis Taklim, yaitu penyelenggaraan Festival Majelis Taklim dan penyusunan Direktori serta Ensiklopedia Majelis Taklim Indonesia. Festival tahun ini, katanya, membuka ruang kreativitas jamaah melalui berbagai kategori lomba seperti tilawah, dakwah kebangsaan, kasidah, video profil, karya tulis ilmiah, dan fiksi.
Ke depan, ia berharap jumlah kategori lomba dapat diperluas, termasuk mode dan kuliner khas komunitas majelis taklim. “Kami ingin majelis taklim tidak hanya menjadi tempat mengaji, tetapi ruang kreasi yang hidup, berdaya, dan berkembang sesuai dinamika masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Kasubdit Kemitraan Umat Islam, Ali Sibromalisi, menjelaskan bahwa Festival Majelis Taklim 2025 merupakan hasil kerja kolaboratif yang disiapkan sejak dua bulan terakhir. Kegiatan ini diikuti 427 peserta dari 237 Majelis Taklim se-Indonesia dan mencakup enam kategori lomba, mulai dari tilawah hingga karya tulis. “Para peserta menunjukkan kemampuan terbaiknya. Mereka tampil all out dengan kreativitas yang luar biasa,” ujarnya.
Ali menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang pembelajaran dan pemberdayaan jemaah. Ia mengapresiasi antusiasme peserta dari berbagai daerah, baik yang berasal dari majelis taklim besar maupun kecil, dari wilayah perkotaan hingga pelosok desa. “Semangat mereka sangat kuat. Ada yang menempuh perjalanan jauh demi menunjukkan dedikasi terhadap dakwah dan literasi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa festival berjalan lancar berkat dukungan panitia, perangkat teknis, serta komitmen para peserta. Grand final pada 27 November menjadi puncak penampilan para finalis terbaik dari seluruh provinsi. Ali berharap festival ini dapat menjadi agenda rutin dan semakin memperluas jangkauannya setiap tahun.
Menurutnya, majelis taklim memiliki peran besar, tidak hanya sebagai ruang pembelajaran agama, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan ekonomi, pelestarian budaya, dan penguatan jejaring sosial masyarakat. “Inilah kekuatan majelis taklim: ia tumbuh dari masyarakat, untuk masyarakat, dan menghadirkan manfaat yang luas bagi kehidupan umat,” tuturnya.
An/Mr



