Pangandaran, bimasislam-- Geliat perubahan pelayanan nikah sangat dirasakan oleh masyarakat Kecamatan Parigi, Pangandaran, Jawa Barat. Penerapan biaya pencatatan nikah Rp 0 di dalam kantor dan jam kerja, disambut antusias oleh masyarakat. Begitu pula, bagi mereka yang hendak melangsungkan pernikahnnya di luar kantor, tidak lagi was-was harus menyiapkan budget tambahan, karena cukup menyetorkan Rp 600.000 ke Bank yang ditunjuk. Bagi para penghulu, ketentuan ini juga memberikan rasa aman, nyaman dan setara dengan beban kerja yang mereka pikul.
Seperti dituturkan Saepul Wila, sang Kepala KUA Parigi yang pagi itu, jum’at (17/2), tengah menerima seorang calon pengantin (catin) yang hendak melangsungkan pernikahan. Sejak penerapan ketentuan biaya nikah di pertengahan 2014, pihaknya semakin bersemangat melakukan terobosan dalam pelayanan masyarakat. Meski belum ditunjang fasilitas perkantoran yang layak, namun ia dan jajaran menekankan pentingnya sikap ramah dan kerja cepat saat melayani masyarakat.
“Kami terapkan prinsip pelayanan yang ramah, cepat dan transparan. Masyarakat di sini mudah menerima penjelasan kami tentang ketentuan biaya nikah, alhamdulillah tidak terlalu sulit menerapkan aturan ini,” tuturnya dengan penuh keramahan.
Saepul menambahkan, pendekatan kekerabatan dalam pelayanan di KUA memberikan dampak besar bagi kualitas kepuasan masyarakat. Ia mencontohkan, untuk tahun 2016, sebanyak 50% dari 416 peritiwa nikah, dilangsungkan di Kantor KUA meski dalam keterbatasan. Masyarakat tak lagi merasa dipersulit atau risih menikahkan anaknya di KUA. Sebaliknya, sikap ramah dan transparan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan gedung KUA sebagai bali nikah.
Disinggung tentang kursus calon pengantin di wilayahnya, penghulu yang baru 2 (dua) bulan pindah dari KUA Kecamatan Cimerak ini memiliki kiat tersendiri, yaitu melalui pemberdayaan para penyuluh yang berjumlah 9 (sembilan) orang. Selain kegiatan Suscatin formal di kantor KUA, materi Suscatin juga disisipkan dalam materi pengajian dan penyuluhan oleh Penyuluh Agama Islam. Menurutnya, edukasi yang berkesinambungan menjadi kunci sukses dalam sosialisasi nilai-nilai Suscatin.
“Kami bangun sinergi dengan para penyuluh. Jadi mereka juga diminta membantu menyampaikan nilai-nilai Islam tentang pernikahan,” pungkasnya.
Melalui edukasi berkesinambungan melalui penyuluhan, lanjutnya, angka kehamilan di luar nikah hampir berada di titik nol. Dalam catatannya selama memangku jabatan kepala KUA Parigi, belum ditemukan kasus pernikahan yang didahului kehamilan.
Hal yang sama diungkapkan Kepala Seksi Bimas Islam Kabupaten Pangdandaran, Nana Supriatna. Sebagai wilayah pemekaran, pihaknya saat ini masih dihadapkan pada penataan saranadan infrastruktur. Meski masih dalam proses penataan, pihaknya bersyukur tingginya partisipasi masyarakat dalam mensukseskan ketentuan biaya pencatatan nikah ini. Dengan 10 Kecamatan yang menjadi wilayah kerjanya, Nana optimis dapat terus membangun tata kerja berbasis pelayanan prima.
“Kami bekerjasama dengan para tokoh agama dan juga pemerintah daerah dalam mensukseskan beberapa program unggulan. Alhamdulillah, kami saat ini telah menjalin kerjasama dengan Pemda Pangandaran untuk program Ajengan Masuk Sekolah (AMS) dan pemberdayaan guru ngaji. Kami kira ini awal yang baik untuk membangun Pangandaran sebagai pusat destinasi pariwisata internasional,” ungkapnya.
Kabupaten Pangandaran masih baru seumur jagung. Namun geliat pembangunan mulai nampak dan memberi dampak bagi masyarakat. Tak ketinggalan, jajaran Kementerian Agama Kabupaten Pangandaran juga terus berbenah melahirkan ide-ide inovatif untuk melayani dan melakukan bimbingan keagamaan. Setidaknya, hadirnya program AMS dan guru ngaji serta pelayanan nikah di KUA, menjadi cacatan penting bahwa perubahan itu terus menujukkan arah yang semakin jelas.
(jaja/thobib/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



