Sumba, bimasislam—Ditjen Bimas Islam akan menerbitkan buku yang mengeksplorasi pengabdian penghulu dan penyuluh di daerah pelosok dan pedalaman. Rencana penyusunan buku tersebut telah disampaikan oleh Kabag Data, SI, dan Humas, Alatief, dan disambut baik oleh Dirjen Bimas Islam, Muhammadiyah Amin.
Sejumlah daerah yang menjadi lokasi peliputan antara lain Simeuleu (Aceh), Kepulauan Riau, Sumba (NTT), Mentawai (Sumbar), Pandeglang (Banten), Sangihe (Sulawesi Utara), Dompu (NTB), dan sebagainya.
Dipilihnya profesi penyuluh agama Islam dan Penghulu sebagai obyek yang dimunculkan, dimaksudkan agar masyarakat mengetahui bagaimana pengabdian kedua profesi tersebut terutama di daerah-daerah terdalam.
“Di banyak daerah, ada penyuluh yang untuk mengajari ngaji, harus berjalan melalui medan yang sangat berat. Berkilo-kilo meter jauhnya, tetapi mereka tidak mengeluh. Hal seperti ini perlu kita angkat agar masyarakat luas mengetahui bagaimana perjuangan para petugas Kementerian Agama tersebut yang memang tidak mudah.” ujar Alatief.
Sementara itu, ditambahkannya, profesi penghulu di daerah-daaerah juga memiliki kisahnya sendiri. Pelayanan untuk mencatat nikah di daerah-daerah tidak sederhana, terutama yang berada di daerah kepulauan. “Ada yang menumpang kapal masyarakat, menumpang kapal Pemda, atau ada yang harus naik kapal besar dengan waktu berlayar yang cukup lama. Hal semacam ini juga perlu diangkat.”
Di NTT, penghulu yang diangkat bernama Ahmad Hamdi Mulyo, penghulu pada KUA Katikutana, Sumba Tengah. Pengabdian pria yang juga mendapat tugas tambahan sebagai Kepala KUA di tempatnya bekerja memiliki tantangannya tersendiri. “Pengetahuan masyarakat di daerah tentang prosedur pelayanan nikah, banyak yang perlu diluruskan.” katanya.
Saat pertama kali mandapat amanah sebagai kepala KUA di pulau timur Indonesia itu, banyak hal yang dihadapi Hamdi. Salah satunya kata dia, minimnya pemahaman masyarakat terkait prosedur pendaftaran nikah.
“Sejak menjadi kepala KUA, yang menjadi PR pertama saya mensosialisasikan prosedur pendaftaran nikah sesuai peraturan karena seringkali calon pengantin besok mau nikah hari ini baru daftar padahal tidak ada suatu alasan yg mendesak melainkan kekurangpahaman masyarakat atas prosedur nikah. Tapi alhamdulillah sekarang masyarakat sudah bisa memahami prosedur nikah,” ujarnya.
Letak geografis juga menjadi tantangan lain bagi Hamdi. Tak jarang ia harus berjalan cukup jauh dengan kondisi medan yang berat untuk melaksanakan pencatatan nikah.
Selain letak geografis, tradisi masyarakat setempat juga menjadi tantangan tersendiri dalam pengabdian sebagai penghulu. “Terutama yang berkaitan dengan tradisi, hal ini membutuhkan pandangan yang bijak dan penuh kearifan.” pungkasnya.
Secara terpisah, Dirjen Bimas Islam menyambut baik penerbitian buku tersebut. “Saya berharap buku ini memberikan gambaran bagaimana pengabdian penyuluh agama dan penghulu di daerah yang memang beraneka ragam tantangannya.” Katanya.
(sigit-nizar/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



