Jakarta, Bimas Islam — Penghulu Ahli Muda KUA Setiabudi Jakarta Selatan, yang juga merupakan kreator konten penghulu, Muhammad Zidni Ilmi, membagikan strategi membuat konten yang menarik perhatian publik bagi penghulu dan penyuluh di era digital. Menurutnya, konten KUA perlu memiliki nilai, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta dikemas dengan cara yang menarik.
Hal itu disampaikan Zidni dalam kegiatan Humas KUA Level Up dengan materi “Strategi Kehumasan di Era Digital”, Kamis (24/9/2026), melalui Zoom Meeting.
Ia mengatakan, humas KUA saat ini tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi perlu hadir, bercerita, membangun kepercayaan, dan mengelola komunikasi publik secara kreatif.
Menurut Zidni, terdapat tujuh prinsip yang dapat digunakan dalam mengelola komunikasi publik, yaitu Listen, Engage, Value, Express, Leverage, Understand, dan Prove. Prinsip tersebut mencakup mendengarkan kebutuhan publik, membangun interaksi, memberikan manfaat, menyesuaikan cara penyampaian, mengoptimalkan sumber daya, memahami audiens, serta menunjukkan bukti kinerja dan dampak pelayanan.
Ia menjelaskan, konten yang menarik perhatian publik biasanya memiliki satu atau beberapa unsur, seperti curiosity atau rasa ingin tahu, usefulness atau manfaat, surprise, keunikan, emosi, dan human story. Unsur tersebut dapat menjadi pemicu sebuah konten untuk dibicarakan dan menjangkau lebih banyak orang.
Namun, Zidni mengingatkan agar penghulu dan penyuluh tidak menjadikan viral sebagai tujuan utama. “Viral adalah efek, bukan tujuan utama. Kalau kemudian viral, itu adalah amplifikasi,” jelasnya.
Menurutnya, konten KUA seharusnya dibuat agar layak dikenal karena memberikan manfaat. Alur komunikasi publik yang perlu dibangun adalah informasi tersampaikan, masyarakat memahami, masyarakat percaya, kemudian masyarakat terbantu.
Untuk meningkatkan peluang sebuah konten mendapatkan perhatian, Zidni menyarankan penghulu dan penyuluh menemukan niche atau fokus topik yang dikuasai sekaligus dibutuhkan masyarakat. Beberapa topik yang dapat dikembangkan antara lain pernikahan, konsultasi keluarga, zakat dan wakaf, serta edukasi hukum.
Selain menentukan topik, pembuat konten perlu menemukan hook atau pembuka yang menarik. Zidni menyebut tiga detik pertama sebagai bagian penting dalam menarik perhatian. Ia juga menyarankan satu video membawa satu pesan, menampilkan manusia, dan menggunakan contoh nyata.
Dari sisi perangkat, pembuatan konten tidak harus menggunakan peralatan mahal. Menurut Zidni, penghulu dan penyuluh dapat memulai dengan smartphone, mikrofon, dan tripod. Hal terpenting adalah audio yang jelas, visual yang cukup, dan pesan yang kuat.
“Jangan hanya membuat konten tentang KUA. Buat konten yang membuat masyarakat memahami KUA, mempercayai KUA, dan merasakan manfaat kehadiran KUA,” ujarnya.
Zidni juga membagi konten kehumasan digital ke dalam lima kategori, yaitu informasi, edukasi, inspirasi, human interest, dan entertainment. Konten informasi dapat berisi jadwal pelayanan, pengumuman, program, serta alur dan persyaratan layanan KUA. Konten edukasi dapat mengangkat hukum perkawinan, keluarga sakinah, wakaf, zakat, remaja, dan layanan KUA lainnya.
Sementara itu, konten inspirasi dapat mengangkat kisah keluarga, perjuangan pelayanan, maupun kisah ASN. Konten human interest dapat mengangkat pasangan unik, pernikahan lintas negara, tradisi daerah, dan sisi humanis pelayanan. Adapun konten entertainment dapat dikemas melalui humor ringan, storytelling, challenge, kuis, behind the scene, maupun hal menarik lainnya.
Dalam membuat konten, Zidni juga mengingatkan pentingnya integritas digital ASN. Konten harus akurat dan edukatif, netral dan transparan, serta memperhatikan privasi dan persetujuan masyarakat yang ditampilkan.
Ia menegaskan bahwa data seperti NIK dan dokumen warga harus dilindungi. Pengambilan foto atau video juga perlu disertai izin. Selain itu, pembuat konten tidak boleh mengeksploitasi kesedihan atau persoalan warga hanya demi mendapatkan perhatian publik.
Sebelum dipublikasikan, konten juga perlu melalui pemeriksaan sederhana, yakni memastikan informasi benar, bermanfaat, beretika, aman bagi privasi, serta sesuai dengan prinsip ASN yang netral dan profesional. “Jangan hanya menjadi tukang posting. Jadilah storyteller lembaga,” kata Zidni.
Menurutnya, media sosial dapat menjadi ruang dialog antara KUA dan masyarakat. Karena itu, konten bukan sekadar alat publikasi, tetapi juga jembatan untuk menyampaikan informasi, menunjukkan manfaat layanan, dan membangun kepercayaan publik.
Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama Thobib Al Asyhar menekankan pentingnya keterlibatan humas sejak awal dalam mengomunikasikan kerja KUA. Menurutnya, hal tersebut diperlukan untuk membangun kebanggaan terhadap KUA sebagai bagian dari Kementerian Agama yang memiliki tugas penting dan berhubungan langsung dengan masyarakat.
Karena itu, Thobib meminta informasi yang disampaikan KUA melalui berbagai kanal komunikasi tidak sekadar menceritakan kegiatan rutin. Konten perlu menunjukkan program unggulan, kontribusi, serta manfaat nyata yang diberikan KUA kepada masyarakat.
Menurutnya, arah komunikasi tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar agar layanan Kementerian Agama tidak berhenti pada pelaksanaan program, tetapi dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Karena itu, setiap unit kerja perlu mampu menjelaskan layanan yang diberikan, persoalan yang dibantu diselesaikan, serta dampak yang dihasilkan bagi masyarakat.
“Yang mereka pedulikan adalah apa yang sudah diberikan kepada masyarakat, apa dampaknya, apa manfaatnya. Itulah yang harus kita ceritakan,” katanya.
Msk/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



