“Selain dikenal sebagai salah satu dusun terpencil di Kabupaten Sidoarjo, kampung Tlocor di Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, sejak dulu punya citra yang kurang baik. Maklum, kampung tambak di muara Sungai Porong itu terdapat kompleks pelacuran liar, disanalah Zaim, Penyuluh Agama Islam memberikan suluh (penerang) ditengah warung remang-remang.”
Sidoarjo, bimasislam—Belakangan, kisah seorang penyuluh agama Islam di beberapa daerah menjadi sorotan banyak pihak. Kisahnya memang selalu mengundang simpatik, kerap menginspirasi dan menggugah kesadaran. Tugas mulianya terus diuji seiring dengan perkembangan zaman. Meski berlabel mulia, tak banyak yang tau tugas berat sebagai seorang penyuluh.
Bila diibaratkan peperangan, penyuluh adalah ujung tombak dari sebuah pasukan. Dia berada digarda terdepan, tugasnya menghalau segala macam godaan hidup, meluruskan ajaran yang menyimpang dan tak jarang turut pula membangun kesejahteraan. Karena tugas beratnya itulah, bahkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kini memberi perhatian khusus terhadap penjaga umat ini.
Kisah Pak Zaim, Pembawa Suluh di Kafe Remang-remang
Adalah Muhammad Zaim Afsoh, biasa disapa Pak Zaim, seorang penyuluh agama Islam (PAI) Kecamatan Jabon, Kab. Sidoarjo menceritakan perjuangan dan harapannya dalam mengemban tugas di tempat Lokalisasi. Suatu tempat yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya. Kepada bimasislam,Zaim menceritakan lika-liku berdakwah di café remang-remang, tempat wanita menampung hasrat hidung belang.
Awal tahun 2015, Zaim resmi menerima tugas sebagai penyuluh agama di Kec. Jabon. Seorang aparatur sipil Negara (istilah lain dari PNS) memang diwajibkan menerima segala bentuk tugas dari Negara, termasuk bertugas di daerah yang memiliki resiko sosial yang berat. Dengan berbekal pengalaman memberi penyuluhan di daerah tertinggal, Zaim optimis dirinya dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat.
Zaim sebetulnya bisa saja memilih zona aman untuk menjalankan tugas pokok seorang penyuluh. Dengan berkeliling dari masjid ke masjid, dari mushalla ke mushalla, atau dari masjelis taklim ke majelis taklim lainnya, dirinya sudah dianggap memenuhi kewajiban sebagai penyuluh. Namun, Zaimternyata memiliki pikiran lain, dirinya merasa terpanggil untuk memberikan suluh ditempat yang memang semestinya, tempat yang jarang disapa karena dinilai kotor. Sebagai seorang yang memiliki ilmu agama, Zaim merasa berdosa jika membiarkan orang terjerumus karena ketidaktauannya. Dari situlah Zaim memutuskan untuk masuk ke Lokalisasi di Desa Tlocor.
Siang itu, kata Zaim, dia membulatkan tekatnya menyambangi tempat yang beberapa tahun terakhir ramai dikunjungi pemuas nafsu. Terdapat sekitar 10 rumah berjajar rapi, mirip motel di pinggiran pantai Anyer, Banten. Di 10 rumah yang tampak sederhana itulah terdapat puluhan pekerja seks komersil (PSK) bekerja, tepatnya ada 24 PSK.
“Saya awalnya hanya bismillah, kami masuk melalui pendekatan dengan tokoh masyarakat, selain itu, melakukan pendekatan kepada “kepala suku”, alhamdulillah kami diterima dengan baik”, ungkap Zaim.
Kepala suku yang dimaksud bukanlah seorang keturunan raja atau orang sakti, kepala suku menurut Zaim adalah orang yang dapat mengendalikan seluruh PSK. Namanya Ibu Erma (nama samaran), dengannya Pak Zaim membuka jalan komunikasi hingga berhasil mengadakan pengajian rutin. Ditempat itu, Ibu Erma memiliki 3 rumah yang disewakan, karenanya dia sangat disegani.
Menurut data yang dimiliki Zaim, para PSK umumnya tamatan sekolah dasar (SD), mereka berasal dari luar Kabupaten Sidoarjo. Rata rata berumur 30 tahun, ada yang masih umur 22 tahun, ada juga yang sudah berumur 35 tahun. Mereka berasal dari Pasuruan, Mojokerto, Lumajang, Blitar, Probolinggo, bahkan ada yang dari Banten.
Meski mendapatkan kesempatan baik, Zaim tidak lantas mendakwahkan tentang ajaran agama yang justru dapat membawa ke jalan buntu jika salah caranya. Menurutnya, pada prinsipnya manusia memiliki sisi kehidupan yang berbeda, oleh karena itu, Zaim pun lebih memilih menyentuh hati terdalam setiap PSK yang ikut taklim dengannya. “Saya tidak langsung masuk ke agama, tapi ke peroslankehidupan. Mereka juga terpaksa kan disana, alasannya komplek misalnya ekonomi atau ditinggal pasangannya”, ujar Zaim.
Tidak lama setelah kedatangan Zaim dilokasi itu, disepakati sebuah aturan bahwa hari kamis dan jumat dibatasi jam transsaksi. Alasan utama adalah karena keberadaan lokalisasi Tlocor dekat dengan pemukiman warga. Bahkan, bagi yang melanggar peraturan akan kena denda. “Alhamdulillah, langkah awal kami berhasil membuat sebuah aturan, saya bilang hari kamis malam itu kan sayyidul ayyam,bagi yang melanggar didenda 300 ribu rupiah, yang didenda pengelolanya”, ungkap Zaim.
Tentang Shalat
Dikisahkan Zaim, seluruh PSK sebelumnya mereka meninggalkan shalat lima waktu. Namun setalah dilakukan pembinaan mereka ada yang shalat kembali meski tidak full. Alasan Zaim menyuruh Shalat adalah karena Shalat memiliki arti penting, yaitu hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
“Apapun shalat itu kan urusan manusia dengan Allah, diterima atau tidak itu urusan yang diatas. Hambatan datang justru dari orang disekitarnya, mereka juga kadang dicemooh oleh temennya sendiri, “PSK kok sholat, mana mungkin diterima”, ujar Zaim menirukan.
Disitulah Zaim tertantang untuk lebih dalam menjelaskan tentang apa yang didakwahkan. Dirinya menyadari, bahwa semua butuh proses. “Saya sampaikan tentang shalat, bahwa shalat itu adaah sebuah harapan agar anak-anaknya tidak seperti mereka, dan Alhamdulillah mereka dapat memahami. Sekarang, minimal hari kamis mereka mendoakan orang tuanya setelah melaksanakan shalat”, kata Zaim.
Lambat laun kegigihan Zaim dalam memberikan pemahaman agama mulai menampakkan hasil, bahkan Ibu Erma, sang kepala suku juga ikut rutin mengaji. Setiap kali suara motor Zaim terdengar, puluhan PSK itu bergegas kumpul dirumah Tante Erma. Layaknya sebuah masjis Taklim, mereka duduk lesehan menunggu Pak Zaim yang siap memberi motivasi tentang kehidupan.
Kepada para PSK, Zaim selalu menekankan bahwa meski mereka sedang berada di lembah hitam, namun hidup belum berakhir, masih ada hari esok untuk memperbaiki keadaan. “Hidup itu kan baru koma bukan titik, kita mengejar titiknya itu yang khusnul khatimah”, tegasnya.
Rupanya Zaim tidak hanya memberikan materi baik tentang kehidupan maupaun muatan agama. Kesehatan para PSK juga menjadi priorotas layanan. Terkait hal ini, atas nama PAI, dirinya bekerjasama dengan puskesmas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Lalu apa harapan Pak Zaim? Dirinya berharap dapat bekerjasama dengan banyak instansi dan komponen masyarakat untuk terus membina lokalisasi Tlocor. Saat disinggung mengenai penutupan, Zaim tidak berani berjanji, dirinya hanya berharap suatu saat mereka akan kembali pulang, menjalani hidup yang lebih baik.
“Harapan kami sebagai penyuluh, kami harus bekerjasama dengan dinas terkait. Soal penutupan itu wilayah instansi lain, melihat mereka ingat dengan Allah, saya sudah senang, mudah-mudahan mereka semua ditunjukkan jalan untuk pulang, kembali ke keluarga dan hidup normal sesuai anjuran agama”, pungkas Zaim.
Kini, wajah Tlocor dan sekitarnya semakin berubah. Jalan raya kian mulus, ada dermaga baru, objek wisata Pulau Sarina dan Pulau Dem, hingga kolam-kolam pemancingan dan depot ikan segar tersedia. Lantas, bagaimana nasib lokalisasi Tlocor? Tentu tugas Pak Zaim pun kian berat. (syam/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



