Oleh:
Ust Amiruddin (Abu Timeung)*
Sebagai negara majmuk, yang dilatarbelakangi perbedaan suku, ras, agama, budaya, haluan politik dan beda misi tentu sangat rentan terjadi konflik di Indonesia. Terutama konflik yang bersumber dari agama. Secara konstitusional, negara mengakui enam agama, tetapi tidak tertutup kemungkinan konflik muncul kapan pun.
Tampaknya, Kemenag RI mampu menganalisa kemungkinan tersebut, sehingga berinisiatif membentuk tim damai, yang disebut Penyuluh Agen Resolusi Konflik (PARK). Baik konflik antar agama, intraagama, dan konflik sosial lainnya.
Lalu, apa arti agen? Agen diartikan sebagai orang atau badan yang diberi kuasa untuk mewakili dan bertindak atas nama pemberi kuasa. Jika dipahami, tugas tersebut sangat berat, mendamaikan pihak yang bertikai bukan persoalan gampang. Apalagi pihak yang bersiteru telah masuk level tertinggi dalam problematika. Daya pikir mereka sudah tidak terkontrol, sehingga tidak tertutup kemungkinan ada aksi nyata yang dilakukan dan merugikan pihak lain.
Kedamaian memang harapan semua orang. Bahkan dalam konstitusi negara, pada alenia ke-4 Pembukaan UUD 1945 disebutkan “ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Ini menjadi bukti cita-cita besar leluhur bangsa Indonesia adalah kedamaian, bukan hanya nasional, tetapi mencakup antero dunia. Itu sebab, Indonesia selalu berada pada pihak yang mengusung kedamaian ketimbang mendukung negara yang membuat kerusuhan di dunia.
Tokoh Menag RI, Kamaruddin Amin pernah berkata, Penyuluh Agama Islam harus mampu membaca realitas dan dinamika sosial keagamaan yang berkembang di masyarakat. Ini penting sebagai bekal menjadi tim mediasi di lapangan. Christopher E. Miller dalam buku A Glossary of Terms and Concepts in Peace and Conflict Studies menggambarkan resolusi konflik merupakan pendekatan untuk menyelesaikan konflik melalui pemecahan masalah secara konstruktif.
Penerapan resolusi konflik tidak memiliki konsep baku. Apa pun yang diupayakan untuk mengurucut pada perdamaian, maka itulah penjabaran resolusi konflik. Karenanya, dalam praktik di lapang, ada aneka strategi yang dilakoni agen resolusi konflik.
Salah satunya mediasi. Posisi mediator harus dikenal oleh pihak terlibat konflik. Secara psikologi, orang asing yang tidak pernah dikenal dapat mempersulit keadaan. Sebab mereka yang tidak ingin berdamai tidak menginginkan pihak ketiga masuk dalam kasusnya. Tetapi, agen resolusi konflik pun harus cerdas, misi mendamaikan harus dijalankan dan terwujud. Soal teknisnya, tentu para agen ini punya sejuta acara untuk melemahkan hati dan niat pihak bertikai.
Tidak heran muncul istilah “pisau analisis”, seperti ungkapan Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Kementerian Agama, Adib dalam majelis Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyuluh Agen Resolusi Konflik, yang berlangsung 22-25 Maret di Hotel Lorin Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Senjata ampuh yang wajib dimiliki Agen Resolusi Konflik (ARK) adalah pisau analisis. Jika mampu didalami, makna pisau analisis ini cukup luas, bahkan tanpa batas. Pada intinya apa pun strategi konstruktif demi mencapai kesepakatan damai, lebih khususnya menciptakan persatuan Indonesia, maka itu bagian dari kemampuan agen resolusi konflik untuk menerjemahkan konsep pisau analisis.
Hal lain dari pisau analisis adalah membangun sistem komunikasi dua arah, tanpa mengabaikan satu pihak. Komunikasi agen menjadi penentu redupnya masalah. Bahasa-bahasa santun dan menghormati semua pihak akan membantu lemahnya niat pertikaian. Itu sebab, kemampuan berinteraksi seorang agen harus terlatih dan kompeten. Paling penting, menghindari cara komunikasi yang dapat memantik masalah baru atau mengompori masalah yang ada.
Penyelesaian konflik juga mesti memperhatikan kearifan lokal. Misalnya di Aceh, ada Peradilan Gampong, yang terdiri atas perangkat desa seperti kepala desa (keuchik), imam desa, tuha peut dan tuha lapan (semacam dewan tingkat desa). Peradilan tersebut tidak memiliki lembaga khusus dan tidak berkantor. Tetapi akan muncul ketika ada sengketa dan konflik antar masyarakat.
Perannya untuk mendamaikan pihak kontroversi hingga menemukan titik senyum (damai). Keberadaan pengadilan tersebut untuk meminimalisir jumlah sengketa yang masuk ke Pengadilan Negeri atau Mahkamah Syariyah di Aceh, sehingga beban negara lewat pengadilan semakin kecil. Pendekatan ini persis dengan metode yang ditawarkan Wirawan dalam buku Konflik dan Manajemen Konflik, berupa intervensi pihak ketiga. Dalam kondisi ini, Penyuluh Agen Resolusi Konflik dapat menjadi fasilitator peradilan gampong, sebab struktur tim penyelesaian konflik sudah ada dari pihak desa.
Selain melakukan represif, wajib pula menerapkan upaya preventif. Preventif penting digalakkan oleh ARK, sebagai teknik deteksi dini terhadap kemungkinan munculnya konflik. Hal ini sebagai langkah menekan dan menangkal benih-benih permusuhan, sehingga tidak meletus perpecahan lebih luas dalam masyarakat.
Pada era digitalisasi, bibit konflik rentan terjadi di media sosial (medsos). Fasilitas internet telah menebarkan bergabai informasi positif dan negatif, sehingga dampak narasi negatif mempengaruhi publik atau seseorang untuk bersikap tidak sopan, bahkan melanggar hukum dan norma agama. Jika tidak saling menghargai dan mengedepankan ego dalam segala hal, maka potensi konflik terbuka lebar.
Artinya, beban agen resolusi konflik bukan hanya di alam nyata, tetapi juga di dunia maya, dengan cara menebarkan narasi positif lewat medsos. Intinya, negara menghendaki terciptanya persatuan dalam kebhinekaan, supaya visi misi pembangunan negara tidak terkendala.
Agen resolusi konflik harus memahami psikologi pihak bertikai, supaya mudah mengendalikan dan menemukan solusi.
Beri hadiah
Konflik yang berujung damai selalu memberikan dampak dan manfaat bagi kedua pihak, bahkan untuk publik. Misal, kecelakaan antara mobil dengan sepedar motor. Jika sepakat damai, tentu akan saling diuntungkan walau harus mengeluarkan uang. Karena soal untung bukan hanya finansial, tetapi keluar uang juga bisa menguntungkan, karena menolak sesuatu yang lebih melarat.
Penulis ingin menarasikan satu strategi damai, namun tidak bisa diterapkan pada semua kasus. Mungkin hanya konflik ringan antarkeluarga, konflik wartawan dengan narasumber, atau peristiwa mini lainnya.
Orang berkonflik perlu didudukkan bersama, yang ditengahi mediator. Sebaiknya, sebelum pihak bertikai datang, mediator menyediakan makanan dan minuman, yang dapat dinikmati mereka. Sebelum membahas objek masalah, persilakan mereka makan dan minum. Siapkan makanan dan minum yang membuat mereka nikmat saat menyantapnya.
Dalam adat Aceh, memuliakan tamu itu penting. Caranya, siapa pun yang datang ke rumah atau di tempat lain, dimuliakan dengan hidangan makanan dan suguhan minuman, walau sekedar air putih.
Beberapa pengalaman dapat disimpulkan bahwa diksi komunikasi yang digunakan pihak bersengketa lebih adem saat didengar. Hampir tidak muncul egoisme dan sikap marah. Sehingga sangat membantu tim mediator untuk memberikan masukan demi mencapai kata damai. Padahal, orang yang berkonflik sudah menyiapkan beberapa tanggapan untuk membenarkan sikap dan keputusannya. Ketika berada di majlis mediasi, justru hasrat itu hilang karena diperlakukan istimewa oleh pihak yang cinta damai.
Merujuk literatur Islam, Rasulullah sangat menganjurkan memberikan hadiah pada sesama. Sebab hadian dapat menimbulkan cinta dan kasih sayang. Aisyah pernah mengabarkan;
“Rasulullah menerima hadiah dan membalasnya," (HR. Bukhari dan Muslim)
Syekh Mustafa Al Adhawy dalam buku Fikih Akhlak mengatakan Rasulullah menerima hadiah dari muslim dan nonmuslim. Ia juga menerima hadiah dari laki-laki dan perempuan.
Riwayat lain diperoleh dari Abu Hurairah;
“Jika aku diundang untuk makan kaki atau paha kambing, tentu aku memenuhinya. Jika aku diberi hadiah kaki kambing atau paha kambing, tentu aku menerimanya," (HR . Bukhari).
Uraian tersebut menjadi catatan penting bahwa memberikan hadiah sangat dianjurkan. Karena hadiah sumber kegembiraan. Saat orang bahagia, otomatis melupakan problem kehidupan. Walaupun tidak melupakan secara totalitas, minimal telah memberi ruang untuk menempuh jalan damai.
Salam damai. Penyuluh harapan bangsa untuk persatuan.
SAAT Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) mengumumkan Seleksi Penyuluh Agen Resolusi Konflik (SPARK) 2022, saya teratrik dan ikut mendaftar. Hanya saja Allah berkehendak lain, tidak lulus. Tidak mengapa, sebab saya melihat banyak yang berkompeten dan ingin andil sebagai Agen Resolusi Konflik (ARK), demi pengabdian untuk kedamaian Indonesia. Artinya masih banyak orang, terutama Penyuluh Agama Islam yang bercita-cita menjadi juru damai. Tentu ini harapan bagus, sebab masih ada yang peduli kerukunan dan ketertiban dari beragam sentimen kehidupan.
*Penyuluh Agama Islam, Aceh Besar



