Oleh:
Jaja Zarkasyi*
Sebagai santri Gedongan, kami begitu kehilangan dengan wafatnya KH. Mukhlas Dimyati, sosok yang telah menjadi kiblat para pencari ilmu. Beliau bukan hanya sebagai guru, namun juga ayah bagi anak-anak Nusantara yang tengah memperdalam ilmu keislaman. Medio 1995-1998, kami adalah bagian dari para santri yang menimba ilmu di Pesantren Gedongan, Cirebon, Jawa Barat. Di sinilah spiritualitas Gedongan menjadi magnet bagi kami untuk menimba sebanyak-banyaknya keilmuan Islam, baik ilmu syariat maupun ilmu hakikat. Dan beliau adalah salah satunya.
Tulisan ini tidak bermaksud mengungkit kesedihan keluarga besar Gedongan, namun untuk bermuhasabah, bahwa Allah telah mengambil salah satu hamba terbaiknya, dan di sisi lain sebuah tantangan bagaimana kita menjadi penerus atas apa yang telah beliau tulis dalam perjalanan hidupnya. Sosoknya tidak hanya menjadi ikon Gedongan, namun telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa ini dalam mengawal perubahan.
Menengok Gedongan 24 tahun silam mengingatkan kami akan tradisi pesantren yang mengajarkan tiga arti penting menjadi santri, yaitu memuliakan ilmu, guru dan masyarakat. Pertama, seorang santri diajarkan untuk memuliakan ilmu dengan menempatkannya di posisi yang tertinggi. Hal-hal kecil memuliakan ilmu di antaranya tidak menyimpan kitab di lantai, apalagi terinjak-injak. Kitab-kitab itu harus disimpan di tempat yang lebih tinggi agar tidak terinjak atau tercecer. Cara membawanya pun diatur, misalnya mendekapnya di dada saat berjalan, tidak dilempar-lempar atau diayun. Beberapa sahabat kami bahkan membungkus kitab-kitab tersebut dengan kertas agar tidak rusak.
Bukan hanya secara fisik, memuliakan ilmu juga dilakukan dengan cara berwudu sebelum membacanya. Secara spiritual, berwudu sebelum mengaji mengajarkan kebersihan hati dari sikap-sikap negatif yang bisa menghalangi masuknya ilmu. Misalnya sikap sombong, angkuh, menyepelekan, semua itu akan menghambat bagi seorang santri dalam memahami apa yang dibacanya.
Di sisi lain, berwudu juga meningkatkan daya konsentrasi, sebuah keniscayaan bagi siapapun yang hendak memahami sebuah kitab. Biasanya para santri akan diperkenalkan dengan kitab-kitab secara bertahap, dari mulai yang ringan seperti safinah an-najah untuk kitab fikihnya, al-waraqat untuk kitab ushul fikih, atau tafsir Jalalain. Semakin bertambah tahun, kitab yang dikaji semakin tebal dan mendalam. Atas alasan inilah konsentrasi sangat dibutuhkan agar benar-benar bisa memahaminya. Dan berwudu adalah salah satu cara meningkatkan konsentrasi.
Kedua, memuliakan guru. Memuliakan guru tidak bisa diartikan sebagai pengkultusan, atau taklid buta. Memuliakan dimaknai sebagai menghormati kapasitas keilmuannya sekaligus berharap dapat mengikutinya mengamalkan ilmu tersebut.
Bagi kami, guru/kiai bukan sebatas hubungan timbal balik murid dan guru, di mana hubungan tersebut selesai seusai mengajar. Guru bagi kami adalah ayah sekaligus mursyid yang akan menjadi rujukan dalam menapaki jalan spiritual dan keilmuan. Bagi kami, mursyid adalah sosok sentral yang menggerakkan, mengarahkan dan membimbing. Ilmu tentang tawadu’ itu bisa dibaca dalam buku-buku, namun mempraktekkan konsep tawadhu’ itu butuh contoh, dan contoh itu ada dalam sosok mursyid.
Mursyid memegang penuh kendali kurikulum spiritual. Ia menjadi penuntun para santri menapaki tahap demi tahap jalan spiritual, mengarahkan jika ada yang telah keluar dari jalan itu. Cara menjadi dewasa dalam berfikir dan bersikap mungkin bisa dibaca dalam buku-buku. Namun untuk benar-benar menerapkan teori dan tahapan menjadi dewasa, di sinilah peran mursyid dalam membimbing dan mengarahkan sangat nyata.
Dalam keseharian, minimal tiga kali kami berjumpa dengan kiai: sorogan subuh, mengaji di kelas dan bakda sholat isya. Di luar itu, kami terkadang juga berkebun, menanam bawang atau membangun asrama secara gotong royong. Di sinilah kami bisa merasakan banyak hal tentang sikap, perilaku dan ajarannya yang hanya kami bisa pelajari dengan melihat.
Sangat lumrah bagi para santri Gedongan berkebun atau beraktivitas lainnya bersama para kiai. Medio 1995, Gedongan masih sangat hijau. Hamparan sawah dan tanaman bawang menghijau di sisi kanan dan kiri jalan menuju pusat desa. Dialiri sebuah sungai yang cukup besar, masyarakat Gedongan diwarisi kondisi alam yang sangat subur. Kondisi inilah yang menjadikan para santri diajarkan langsung bercocok tanam, diasuh langsung oleh para kiai.
Dalam bahasa lain, pelajaran yang kami peroleh bukan sebatas yang didengar dan dibaca. Kami juga berkesempatan mengikuti dan mempraktekkan teori-teori kehidupan dalam keseharian di bawah asuhan sang mursyid. Dalam praktiknya, kami diajarkan untuk tidak berbicara keras, tidak mendahului berjalan, atau bahkan menuntun sepeda ketika berpapasan dengannya. Semua itu sangat membekas dalam diri kami sebagai model kesahajaan hidup dan penghormatan terhadap ilmu.
Ketiga, memuliakan masyarakat. Dalam keseharian, kami membaur dengan masyarakat Gedongan. Kobong para santri biasanya berdampingan dengan rumah warga. Para santri juga berasal dari warga sekitar. Kondisi inilah yang mendorong terjadinya sosialisasi yang begitu erat antara santri dan masyarakat. Bahkan, hubungan keduanya juga terbangun dalam bentuk kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, seperti membangun rumah, panen atau kegiatan lainnya. Walhasil, sangat sulit membedakan mana santri dan warga, karena keduanya melebur dalam satu identitas “santri” yang sama.
Tantangan terbesar bagi santri Gedongan ketika tiba dan memulai pelajaran adalah menjadi bagian keluarga besar Gedongan. Mungkin saja masing-masing santri datang dari status sosial yang berbeda, ekonomi yang berbeda pula dan banyak lagi perbedaan-perbedaan yang lainnya. Maka, ketika semuanya melebur menjadi satu, ada sebagian santri yang memilih “pulang kampung” sebelum sempat berkembang. Sebagian besar lainnya justru menikmati kebersamaan ini.
Para kiai tidak pernah membatasi para santrinya bersosialisasi dengan masyarakat. Hal ini tak lain adalah bagian dari proses pendidikan karakter yang sangat menentukan masa depan para santri setelah lulus nanti. Karakter sosial yang dibangun dilandasi pada prinsip persamaan status, kebersamaan dan kesetaraan. Inilah pondasi dasar sebuah bangsa yang berperadaban.
Kami sendiri biasa diundang untuk sekedar makan atau minum di rumah warga. Sebaliknya, kami pun biasa mengirim makanan yang dibawa para orang tua saat bestel (-istilah bagi kunjungan wali santri ke pondok). Kedekatan kami bahkan semakin kuat dengan keterlibatan dalam berbagai kegiatan keagamaan, seperti maulid nabi. Kami tidak hanya hadir, namun juga membaur di masjid dan saling bergandengan tangan.
Kami diajarkan memuliakan masyarakat. Sebagai pendatang, kami diajarkan untuk menjadi tamu yang baik, seraya berusaha menjadi bagian dari masyarakat sekitar. Dialog dua arah menjadi cara kami untuk menumbuhkan sikap saling menghormati. Jika ada masalah, kami selesaikan secara kekeluargaan. Begitulah kami, santri dan masyarakat menjadi keluarga.
Masih banyak warisan yang diajarkan para kiai di Gedongan. Meski para kiai sepuh tersebut telah wafat, namun ajaran, sikap dan tuntunannya hingga kini masih diingat. Gedongan tidak hanya tempat menuntut ilmu, namun juga rumah yang nyaman untuk tumbuh-kembang menjadi sosok yang berwawasan luas dan bersahaja.
Jika hari ini salah satu sosok itu telah tiada, maka itu bukan berarti terhentinya spiritualitas Gedongan. Almarhum Kiai Mukhlas adalah sosok yang darinya mengalir ragam keilmuan yang tak bisa kita baca dalam kitab-kitab, beliau banyak mewariskan spiritualitas yang diperoleh melalui oleh batin. Ajarannya akan terus hidup dan mengalir dalam nadi setiap santri.
Selamat jalan guru, semoga kami bisa melanjutkan ajaranmu.
Allahummagfirlahu
*Alumnus Pesantren Gedongan, Cirebon



