Oleh:
Abdul Fattah
Perilaku Seks Pranikah Remaja
Survey yang dilakukan BKKBN tahun 2014-2015 menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan, dimana terdapat 46 % remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah, yang lebih mengejutkan, didaerah pedesaan yang dianggap relatif aman, terdapat 40 % remaja yang pernah melakukan hubungan terlarang tersebut.
Ketika membaca artikel hasil survey tersebut, saya pun tak henti-hentinya menggaruk dan mengusap kepala, walaupun terasa tidak gatal. Hal ini mengingatkan penelitian yang pernah saya lakukan saat menyusun dan menyelesaikan tesis terkait perilaku seksual remaja di DKI Jakarta pada tahun 2008 silam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 58% remaja usia 14 – 19 tahun yang pernah melakukan seks pranikah, bahkan remaja yang belum pernah melakukan hubungan seks sebesar 42%, separuhnya lebih sudah pernah melakukan kontak fisik dengan pasangannya, seperti berpegangan tangan, berciuman, meraba genital, bahkan saling menggesek genital masing-masing. Maaf, saya tidak bermaksud vulgar, akan tetapi inilah realita yang harus dihadapi.
Lalu apakah faktor yang menyebabkan perilaku tersebut?
Terdapat banyak faktor, seperti :
1. Pendidikan Agama yang kurang memadai;
2. Perhatian dan pengawasan yang kurang dari orangtua;
3. Lengkapnya sarana dan prasarana yang mendukung, seperti maraknya rumah kost, internet yang mudah diakses, film dan sinetron yang tidak mendidik, mudahnya membeli alat kontrasepsi dan sebagainya;
4. Industrialisasi hiburan yang membentuk lifestyle remaja.
Fenomena ini memang menakutkan, dengan membayangkan putra-putri kita yang hidup di jaman milenial seperti sekarang, bagaimana kita melindungi, mengawasi dan mendidik mereka agar tidak terjerumus perilaku tersebut.
Industrialisasi Hiburan
Penelitian yang pernah saya lakukan yaitu menghubungkan pengaruh strategi pemasaran perusahaan kontrasepsi dengan perilaku seksual remaja di DKI Jakarta menunjukkan bahwa peran perusahaan/sektor swasta dinilai cukup besar, dikarenakan mereka dengan sengaja menciptakan trend-trend baru pergaulan, atau dengan istilah “gaul” ke tengah remaja di DKI Jakarta sekaligus “mendompleng” popularitas program social marketing pemerintah melalui program keluarga berencana yang sempat populer sejak tahun 1980an dengan positioning atau jargon “dua anak cukup”.
Bahkan saat observasi lapangan ke beberapa klub malam yang mayoritas pengunjungnya adalah remaja, didapati promosi perusahaan-perusahaan tersebut berupa games, kuis dan sebagainya. Salah satunya apabila pengunjung membawa kondom dengan merk tertentu, maka akan diberikan hadiah berupa voucher diskon minuman dan makanan di klub tersebut, pada saat itu, promosi tersebut selalu ada di klub-klub malam di DKI Jakarta.
Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan pemain besar dalam industri kontrasepsi, memiliki jaringan usaha dibidang entertainment, broadcast dan sebagainya yang dengan mudah menyisipkan budaya hedonisme sebagai lifestyle ke tengah remaja di Indonesia. Argumen dan alasan mereka bersifat homogen, yaitu mendukung program Pemerintah dalam mencegah penularan penyakit menular seksual (PMS). Dugaan saya yang tentunya harus diteliti lebih lanjut, ini merupakan agenda terselubung perusahaan-perusahaan tersebut, dimana ada pemain besar sebagai shareholder yang berpusat di negeri Barat yang menghendaki membangun budaya hedonisme diiringi dengan pembentukan lifestyle yang berujung kepada Dollar. Sungguh sangat mengkhawatirkan.
Positioning Bimas Islam
Bimas Islam memiliki Visi “Terwujudnya Masyarakat Islam Indonesia yang Taat Beragama dan Sejahtera Lahir Batin” serta misi “Meningkatkan Kualitas Bimbingan, Layanan Keagamaan, dan Pemberdayaan Potensi Ekonomi Umat Islam Indonesia".
Sudah sangat jelas bahwa fenomena tersebut sudah melenceng dari jalur visi dan misi Bimas Islam. Harus ada intervensi Pemerintah melalui Bimas Islam dalam meluruskan fenomena tersebut. Faktor penentu dari fenomena tersebut terletak dalam pendidikan keluarga sebagai unit terkecil.
Membangun bangsa pada hakekatnya adalah membina dan mendidik manusia. Di sisi lain, pranata pendidikan manusia yang utama adalah keluarga sebagai madrasatul ula yang mengenalkan nilai-nilai kemanusiaan yang paling dini. Keluarga merupakan tulang punggung pembangunan sumber daya manusia. Secara universal, dunia internasional juga mengakui bahwa keluarga juga merupakan salah satu komponen utama demi tercapainya pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang disusun pada konferensi pembangunan berkelanjutan PBB tahun 2012 dan disepakati secara internasional di tahun 2017. Karena itulah, membangun ketahanan keluarga yang kokoh dan tangguh merupakan kebutuhan mendasar suatu bangsa. Hal ini sejalan dengan agenda prioritas pembangunan yang disebut dalam Nawa Cita yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.
Hal ini lah yang dapat diintervensi oleh Bimas Islam melalui program peningkatan ketahanan keluarga. Terdapat upaya yang komprehensif dari Bimas Islam melalui program-program yang menjadi program prioritas nasional seperti Bimbingan Pranikah baik bagi Calon Pengantin maupun bagi remaja, yang bertujuan untuk membekali calon pengantin dan remaja untuk mempersiapkan serta memampukan mereka dalam menghadapi kehidupan berkeluarga di masa datang. Selain itu, terdapat beberapa program yang terfokus kepada pencegahan kawin anak dan pencegahan seks pranikah remaja. Program-program inilah yang diharapkan dapat mengikis fenomena yang telah dijabarkan di atas.
Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan upaya bersama yang melibatkan segenap masyarakat Indonesia yang dapat dimulai dari keluarga kita masing-masing melalui pendidikan, pengawasan, dan kasih sayang kepada putra-putri tercinta di rumah.
*Kepala Seksi Bina Perkawinan dan Keluarga Sakinah



