Oleh:
M. Fuad Nasar*
Nabi Muhammad diperjalankan tengah malam dengan roh dan jasadnya secara kilat, menggunakan kendaraan super-cepat Buraq, dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis Yerusalem Palestina, yang diberkahi sekeliling perjalanannya. Dari Baitul Maqdis dibawa “naik” menembus tujuh lapis langit (ruang angkasa) dan audiensi ke Sidratul Muntaha. Di sana Nabi yang mulia mendengar langsung goresan kalam Allah SWT. Menjelang shubuh, Nabi telah kembali ke bumi. Isra’ dan Mi’raj secara keseluruhan menggambarkan keesaan Allah dan kemahakuasaan-Nya yang tidak dibatasi dimensi ruang dan waktu.
Sebelum melakukan perjalanan Isra’ dan Mi’raj, Nabi menjalani pembedahan oleh malaikat di pinggir telaga zamzam dekat Ka’bah di pusat kota suci Mekkah. Hati dan jantung Nabi saat itu dibersihkan. Dalam perjalanan yang amat spektakuler Nabi Muhammad menggunakan kendaraan Buraq didampingi Malaikat Jibril.
Nabi mengunjungi tempat-tempat bersejarah, mulai dari Yastrib (kota yang kemudian menjadi tempat hijrah Nabi), Bukit Thursina (tempat Nabi Musa menerima wahyu Ilahi dua puluh abad sebelum Muhammad yaitu Ten Commadment), Betlehem (perkampungan tempat lahirnya Nabi Isa), Madyan (tempat Nabi Syu’aib pertama kali mengembangkan ajaran Allah), dan Masjidil Aqsha tempat perhentian akhir yang dalam Al Quran disebut “masjid yang terjauh”.
Isra’ dan Mi’raj yang sulit diterima oleh akal manusia, menjadi ujian berat bagi keimanan umat Islam ketika itu. Kata sastrawan dan budayawan Ali Audah, “Iman tak mungkin diukur dengan akal.”
Hikmah utama Isra’ dan Mi’raj menyingkap tiga “relasi perenial” yang perlu terus dijaga dalam kehidupan beragama ialah: Pertama, hubungan manusia dengan Khaliknya (Allah Maha Pencipta). Kedua, hubungan manusia untuk dirinya pribadi, dan Ketiga, hubungan manusia dengan sesama manusia. Hal tersebut terangkum di dalam hikmah ibadah shalat yang diinstruksikan langsung oleh Allah kepada Rasulullah Muhammad di dalam Isra’ dan Mi’raj.
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj disebut oleh ulama internasional Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili sebagai suatu “perjalanan Ilahiyah” yang tiada bandingannya dan hanya berlaku satu kali dalam sejarah. “Tidak pernah ada di dalam sejarah kemanusiaan suatu peristiwa yang berhak untuk dibanggakan dan dikagumi, diagungkan dan dianggap suci seperti halnya Isra’ dan Mi’raj yang menjadi mukjizat, lambang kebesaran dan kehormatan bagi Nabi-Rasul Islam, Muhammad SAW.” tulis Wahbah ulama besar asal Suriah itu.
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah membuka horison perkembangan ilmu fisika, kedokteran, antariksa, psikologi, futurologi dan lainnya. Peristiwa pembedahan yang dialami Nabi menginspirasi tindakan pembedahan dalam ilmu kedokteran. Sarana kendaraan supercepat Buraq mengilhami penemuan kendaraan cepat untuk menghubungkan jarak geografis di muka bumi. Isra’ dan Mi’raj membangun imajinasi penerbangan luar angkasa.
Kisah pembedahan dada Nabi Muhammad menginspirasi dokter-dokter Arab muslim untuk memecahkan rahasianya sekian abad kemudian. Ibnu Siena (980 – 1037) memelopori cara pengobatan pasien dengan metode pembedahan (operasi). Kisah Isra dan Mi’raj menginspirasi Ibnu Siena yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran Islam dan mahaguru bagi para dokter di Barat sehingga menulis novel berjudul Risalah et Thayr (Cerita Tentang Burung). Seorang ilmuwan Barat, Wenberg mengatakan bahwa ini adalah alasan tentang adanya manusia terbang.
Seorang teknokrat Abbas Ibnu Firnas (810 – 887) tercatat sebagai ilmuwan muslim dan first aviator penemu pembuatan konstruksi alat terbang bersayap menyerupai burung. Ia berhasil menerbangkannya di Cordoba, Spanyol pada abad ke-IX. Abbas Ibnu Firnas terinspirasi dari kisah peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Nabi Muhammad dalam perjalanan Mi’raj-nya ke luar angkasa dipertemukan dengan arwah para Nabi dan Rasul terdahulu. Dalam lawatan supranatural itu Nabi Muhammad menyaksikan secara visual reward and punishment atas segala perbuatan yang akan diterima oleh setiap diri di Hari Akhir. Nabi menyaksikan suatu keharusan moral (moral necessity) bahwa setiap perbuatan baik dan jahat di dunia, sekecil apapun, pasti menerima balasan sesuai keadilan Ilahi.
Saat audiensi di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad menerima perintah mendirikan shalat lima waktu dari Allah SWT. Shalat merupakan syariat abadi kepada seluruh umat Nabi Muhammad. Shalat satu-satunya syariat Islam yang diterima oleh Rasulullah secara langsung dari Allah tanpa perantaraan Malaikat Jibril.
Peringatan Isra’ dan Mi’raj mengandung makna memperingati diturunkannya perintah shalat sebagai tiang agama. Shalat menghubungkan jiwa manusia dengan Sang Maha Pencipta. Di mana saja dan dalam kesibukan apa saja, suara azan yang memanggil untuk shalat lima waktu mengingatkan bahwa kehidupan dunia harus selalu dikaitkan dengan Allah. Panggilan azan menjadi pengingat bahwa Allah Maha Besar dan hanya Dia (Allah) yang berhak disembah dan diagungkan di alam semesta.
Isra’ dan Mi’raj sebagai peristiwa besar dalam sejarah yang menakjubkan telah membentuk motto “Dari Masjid Ke Masjid” (From Mosque to Mosque). Mari kita renungkan, kenapa dari masjid ke masjid, karena masjid melambangkan kesucian jiwa, pikiran, dan perbuatan, sedangkan ruang angkasa melambangkan obsesi ilmu pengetahuan dan teknologi yang ingin dicapai oleh manusia setinggi-tingginya. Pesan moralnya bahwa nilai-nilai kesucian dan kebenaran seyogyanya terjaga dalam segala situasi, termasuk di bidang Iptek yang tidak bebas nilai, tetapi harus dipandu oleh agama dan moral.
Setiap gerak dan perbuatan umat Islam haruslah mencerminkan kemuliaan pandangan hidup atau way of life sebagai muslim dan menjadi cerminan syiar Islam. Di samping syiar Islam di masjid-masjid dan mushalla, umat Islam secara kontekstual perlu memberi perhatian terhadap syiar Islam di tengah kehidupan masyarakat dan bangsa, seperti syiar Islam di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kesehatan, ekonomi syariah, kesenian, kebudayaan dan lain-lain. Jangan menjadi muslim hanya ketika berada di masjid.
Umat Islam sebagai pemeluk agama dan sebagai Warga Negara, dituntut agar hidup dengan sifat-sifat dan perilaku yang baik, melakukan hubungan sosial yang harmonis serta produktif menghasilkan amal shaleh, dimana itu juga termasuk ke dalam syiar Islam.
Dalam kaitan dengan hikmah Isra’ dan Mi’raj, motto "Dari Masjid Ke Masjid" sebagaimana dikemukakan oleh tokoh ulama Indonesia Prof. H. Zainal Abidin Ahmad dalam buku Kisah Isra' dan Mi’raj, menggambarkan suatu motto di hati setiap orang beriman mengenai kesucian pada setiap melakukan perjalanan, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. “Berjalanlah ke seluruh tempat di tanah air, ke kota-kota atau pun kampung dan desa, dari pulau ke pulau dan dari kota ke kota, tetapi berangkatlah dengan mensucikan hati dan niat di dalam perjalanan itu, sebagaimana sucinya niat Nabi Muhammad di dalam Isra-nya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.” tulis Zainal Abidin Ahmad.
Seorang muslim dan cendekiawan muslim, ketika berpikir tentang Islam, tidak boleh meninggalkan fondasi Al-Quran dan Sunnah. Islam datang dengan konsep final di dalam akidah dan ibadah, tetapi di luar daripada itu, Islam mengajarkan konsep ijtihad untuk kemaslahatan manusia. Islam sudah lengkap dilihat dari sisi ajaran pokok, nilai-nilai fundamental atau syariah, namun menyangkut nilai-nilai instrumental dan fiqih, Islam terbuka terhadap ijtihad kemanusiaan. Islam bukanlah agama yang konservatif atau kaku menghadapi dinamika zaman. Islam diturunkan Allah sebagai agama yang modern dan moderat dimana cahaya Islam menyinari segala tempat dan zaman.
Dalam suasana memperingati Isra’ dan Mi’raj, umat Islam seyogyanya merasa terpanggil agar menguasai dan mengamalkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan hidup manusia sesuai dengan perintah agama. Peringatan Isra' dan Mi'raj mengingatkan umat Islam agar mengisi peran dan andil dalam memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dalam rangka menguak rahasia-rahasia alam semesta. Kita perlu menyelaraskan antara ilmu dengan keimanan dan antara kepentingan dunia dengan kepentingan akhirat sesuai doa yang diucapkan sehabis shalat: Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ‘azaabannaar.
*Sesditjen Bimas Islam



