Jakarta, Bimas Islam – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak ormas Islam untuk berbagi gagasan dan pengalaman dalam forum Silaturahmi Ormas Islam Membangun Harmoni Bangsa di Rumah Dinas Menteri Agama, Jakarta, Jumat (19/9/2025). Dalam kesempatan ini, Menag mengulas sejumlah isu penting, mulai dari tingginya angka perceraian, program beasiswa, masih adanya buta huruf, ekonomi umat, hingga gagasan ekoteologi sebagai bagian dari penguatan peran agama di tengah masyarakat.
Menag menyampaikan, silaturahmi ini bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan ruang sharing and caring untuk mendengar suara ormas Islam. “Saya ingin mendengar langsung aspirasi dan masukan. Kemenag tidak bisa berjalan sendiri tanpa melibatkan ormas Islam sebagai mitra strategis,” ujarnya.
Ia menekankan, tingginya angka perceraian harus menjadi perhatian bersama. Menurut Menag, perceraian tidak hanya berdampak pada pasangan suami istri, tetapi juga anak-anak dan struktur sosial masyarakat. Karena itu, ia meminta program Bimbingan Keluarga Sakinah di bawah Bimas Islam diperkuat dengan kolaborasi lintas ormas.
Selain perceraian, Menag juga mengungkapkan pentingnya akses pendidikan. Ia menggarisbawahi program beasiswa bagi generasi muda, terutama dari keluarga kurang mampu, harus diperluas. “Beasiswa adalah investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi emas Indonesia. Ormas Islam dapat menjadi jembatan dalam menjangkau penerima manfaat yang tepat,” jelasnya.
Menag menambahkan, persoalan buta huruf, baik buta aksara maupun buta huruf Al-Qur’an, masih menjadi tantangan nyata. Ia meminta agar program literasi keagamaan lebih diperkuat. “Kita harus memastikan anak-anak kita tidak hanya bisa membaca dan menulis, tetapi juga memahami nilai-nilai agama yang menebarkan kasih sayang dan toleransi,” imbuhnya.
Dalam forum ini, Menag juga mengangkat konsep ekoteologi. Menurutnya, agama tidak bisa dipisahkan dari isu lingkungan. “Ekoteologi adalah cara pandang baru bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah. Islam mengajarkan keseimbangan alam, dan ormas Islam memiliki peran besar untuk menggerakkan kesadaran ekologi umat,” tegas Menag.
Ia menutup dengan ajakan agar silaturahmi dengan ormas Islam terus berlanjut, bukan hanya untuk merespons persoalan umat, tetapi juga untuk merancang masa depan bangsa. “Kebersamaan kita hari ini adalah fondasi harmoni bangsa ke depan,” pungkas Menag.
Dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kemenag, Abu Rokhmad mengungkapkan bahwa Bimas Islam siap menindaklanjuti arahan Menag. Menurutnya, masukan dari ormas Islam menjadi bagian penting dalam merumuskan kebijakan dan program pembinaan umat.
Abu mencontohkan, program Bimbingan Perkawinan, Penguatan Keluarga Sakinah, hingga pemberdayaan literasi keagamaan akan diperkuat dengan melibatkan ormas sebagai mitra di lapangan. “Kolaborasi ini akan mempercepat penyelesaian persoalan yang disoroti Menag, khususnya angka perceraian dan literasi umat,” katanya.
Ia juga mengungkapkan komitmen Bimas Islam untuk memperluas akses beasiswa bagi anak-anak bangsa. Menurut Abu, pendidikan adalah kunci mengurangi ketimpangan sosial. “Kami sedang menyiapkan desain program yang lebih tepat sasaran, dengan pendampingan ormas Islam,” jelasnya.
Kemenag, lanjut Abu, mengintegrasikan konsep ekoteologi ke dalam sejumlah program strategis, mulai dari Gerakan Penanaman Satu Juta Pohon Matoa. "Dimensi ekoteologi juga diperkuat melalui program Masjid Berdaya Berdampak (MADADA), di mana masjid didorong tidak hanya menjadi pusat ibadah dan sosial, tetapi juga agen pelestarian lingkungan melalui kegiatan penghijauan, pengelolaan lahan, dan kampanye kesadaran ekologis berbasis jemaah," ungkapnya.
Abu menilai penting untuk memasukkan perspektif lingkungan dalam program dakwah dan pembinaan. “Ini adalah pesan besar dari Pak Menteri yang akan kami implementasikan. Agama harus tampil sebagai kekuatan moral dalam menjaga bumi,” tandasnya.
An/Mr



