Sorong, bimasislam— Beberapa waktu terakhir, sejumlah informasi sensitif terkait hubungan antar umat beragama seringkali muncul dengan mengatasnamakan Papua atau Papua Barat, menjawab berita sensitif tersebut, tim bimasislam punya goodnews saat bertugas mengunjungi pulau besar di ujung timur Nusantara itu.
Perjalanan tim bimasislam, Andi Pabenteng dan Yos Runiza yang ditugaskan untuk meninjau proyek pembangunan gedung balai nikah dan manasik haji melalui pembiayaan sukuk atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), membawa kabar baik terkait kerukunan umat beragama di pulau terbesar kedua di dunia itu.
Sebagaimana diketahui, luas kecamatan di Papua Barat jauh lebih besar dari rata-rata kecamatan di daerah lain, akibatnya perjalanan menuju lokasi tujuan menghabiskan waktu tempuh yang lebih lama. Dalam perjalanan menuju lokasi balai nikah dan manasik haji, tim bimasislam didampingi oleh kepala Kankemenag Kabupaten Sorong, Dawed Marthen Syaranamual, yang beragama Protestan, serta seorang pembimas agama Hindu bernama I Ketut Dwijanagara.
Nampak sekali pejabat Kemenag tersebut tidak membeda-bedakan perhatian, sekalipun kedatangan tim terkait dengan urusan KUA yang notabene milik umat Islam. “Tolong perhatikan kami di Sorong,” katanya sebagaimana diceritakan Andi Pabenteng kepada wartawan bimasislam, Rabu (25/5). Tentu saja maksud ‘tolong perhatikan’ adalah pelayanan terhadap umat Islam, mengingat tujuan kedatangan tim untuk memantau proyek pembangunan KUA.
“Mereka benar-benar tidak membedakan perhatian dan pelayanan pada siapapun, meski berbeda agama,” tambah Andi.
Saat tiba waktu shalat Jumat, Marthen Syaranamual mempersilakan Tim Bimasislam untuk menunaikan ibadah. “Silakan Shalat dulu, saya menunggu disini,” katanya. Tim bimasislam pun beranjak menuju Masjid diantar oleh Ketut Dwijanagara yang menunggu hingga pelaksanaan shalat Jum’at selesai.
Keharmonian yang disaksikan tim bimasislam tak berhenti disitu. Saat tiba di gedung KUA, terlihat Kantor Urusan Agama yang melayani umat Islam di tingkat kecamatan itu berdiri berhadap-hadapan dengan sebuah Gereja. “Ini adalah pemadangan keharmonian antar umat beragama yang perlu menjadi teladan di wilayah lain.”
Dikatakan Andi, perjalanan dinas ke Papua Barat memang relatif lebih melelahkan dari pada wilayah lain di Indonesia. Meski demikian, kelelahan bertugas tersebut hilang kala melihat spirit persaudaraan sesama anak bangsa terasa begitu erat meski berbeda agama.
Saat Andi menanyakan apakah lokasi KUA yang berseberangan dengan Gereja itu tidak mengakibatkan gesekan antar pemeluk agama, Kepala Kankemenag Sorong mengatakan: “Kita boleh beda agama, tapi kita tetap bersaudara,kan?
“Konflik yang terjadi di wilayah timur Indonesia lebih diakibatkan ulah pihak ketiga yang tidak rela melihat kerukunan anak Bangsa,” jelasnya.
Oleh karena itu, sebagai Kasubbag Perencanaan dan Anggaran, Andi berpesan kepada seluruh pejabat di lingkungan Bimas Islam baik tingkat pusat maupun daerah, agar dalam menyusun anggaran selain harus memperhatikan dampak yang nyata bagi pelayanan terjadap umat Islam, juga perlu terus memperhatikan dampak guna meningkatnya hubungan yang harmonis dalam kehidupan beragama, baik sesama maupun antar pemeluk agama berbeda.
(sigit/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



