M. Fuad Nasar
(Pemerhati sejarah)
Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika (Asian African Conference Commemoration) di Jakarta dan Bandung dari tanggal 19 sampai 24 April 2015 telah berlangsung dengan sukses. Semangat solidaritas dan energi kultural bangsa-bangsa Asia-Afrika disegarkan kembali di tengah perubahan dunia yang bergerak sangat dinamis.
Sejarah mengabadikan betapa KAA merupakan peristiwa penting bagi negara-negara di Asia dan Afrika untuk bangkit dan tampil membina dunia baru. Dalam KAA pertama yang berlangsung 18- 25 April 1955 di Bandung dicetuskan 10 kesepakatan yang dinamakan Dasasila Bandung. Prinsip-prinsip KAA menghendaki dunia yang bebas dari imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya.
“Kegiatan Peringatan KAA bukan hanya sekedar perhelatan nostalgia yang mengenang kejayaan masa lalu. Pertemuan ini juga dimaksudkan untuk memperkuat jembatan kerjasama di berbagai bidang antara negara-negara di kawasan Asia dan Afrika. Kalau tahun 1955 kita dihadapkan dengan kemiskinan dan kolonialisasi, saat ini, jujur saja, geopolitik dan ekonomi dunia juga belum seimbang. Palestina misalnya, masih berjuang meraih kemerdekaannya. Juga gap pembangunan semakin menganga. Lebih dari satu milyar penduduk hidup dengan dua dollar per hari. Bandung Message akan menegaskan komitmen bersama untuk solidaritas politik, perkembangan ekonomi dan hubungan kultural yang kuat.” Demikian ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Retno L.P. Marsudi.
Semangat dan pesan KAA enam dasawarsa lalu masih relevan dengan dimensi kepentingan bangsa-bangsa Asia-Afrika dewasa ini. Kesuksesan KAA 1955 memiliki resonansi yang tidak boleh dilupakan, yaitu terselenggaranya Konferensi Islam Asia-Afrika pertama tahun 1965 di Bandung.
Oleh karena itu tahun ini bukan hanya tahun peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika, tapi juga Setengah Abad Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA). Sayangnya KIAA belakangan ini nyaris terlupakan dari ingatan kolektif bangsa Indonesia.
Endang Saifuddin Anshari dalam buku Wawasan Islam: Pokok-Pokok Fikiran Tentang Islam dan Ummatnya (1986) membuat catatan mengenai Konferensi Islam Asia- Afrika sebagai berikut: “Konferensi Islam Afrika diselenggarakan tahun 1965 di Bandung, Indonesia, dan Dr. Ir. Soekarno, Presiden RI ketika itu – lepas dari setuju tepat atau tidaknya – telah diangkat menjadi Pahlawan Islam dan Kemerdekaan. Sementara itu H. Achmad Sjaichu diangkat sebagai Ketua Organisasi Islam Asia Afrika (O.I.A.A.) kemudian ganti nama menjadi Organisasi Islam Internasional (O.I.I.).”
Konferensi Islam Asia-Afrika diadakan di waktu umat manusia di seluruh dunia dihadapkan dengan persoalan-persoalan sulit yang memerlukan penyelesaian segera. Dalam konferensi tersebut umat Islam di Asia-Afrika mengutus wakil-wakilnya dengan penuh keyakinan bahwa Islam dapat menyumbangkan pedoman dasar dalam mencari penyelesaian yang dihadapi umat manusia dewasa itu.
Puncak bersejarah peristiwa KIAA di Bandung tahun 1965 melahirkan “Deklarasi Konferensi Islam Asia-Afrika”. Pada penutupan KIAA digelar Rapat Akbar Umat Islam di Gelora Bung Karno Jakarta. Presiden Soekarno menerima gelar kehormatan sebagai “Pahlawan Islam dan Kemerdekaan” yang diumumkan dalam Rapat Akbar KIAA. Majalah PEHAI (Perdjalanan Hadji Indonesia) yang kemudian berganti nama menjadi Majalah Islam Kiblat edisi No 3 – Tahun Ke XII/1965 melaporkan; rakyat banyak dari berbagai golongan umat Islam, penuh sesak membanjiri Stadion Utama Gelora Bung Karno ketika menyambut dan menghadiri Rapat Akbar KIAA.
Sejalan dengan Peringatan 60 Tahun KAA dan Setengah Abad KIAA, mari kita simak kembali butir-butir Rekomendasi KIAA dan renungkan dari perspektif kesinambungan perjuangan umat Islam, antara lain:
(1) Konferensi Islam Asia-Afrika mengutuk imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dalam politik, militer, ekonomi, kebudayaan dan moral. Kolonialisme menimbulkan perpecahan-perpecahan antar-rakyat dan telah merampas hak-hak azazi dari banyaknya rakyat Islam. Konferensi ini juga merasa cemas, melihat adanya gangguan terhadap perdamaian di antara umat Islam Asia-Afrika.
(2) Konferensi ini mengajak semua negara untuk mempergunakan semua penemuan-penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan untuk kepentingan umat manusia dan untuk kebaikan hidup, dan terutama supaya menghentikan pembuatan-pembuatan senjata nuklir dan pendirian penghalang-penghalang serangan nuklir, dan untuk mempergunakan tenaga nuklir guna maksud-maksud damai.
(3) Umat Islam harus merupakan suatu front kesatuan terhadap agresi yang dilakukan oleh suatu negara non-Islam terhadap salah satu dari mereka dan harus memberikan bantuan apa saja kepada negara Islam tersebut yang telah menjadi sasaran daripada agresi seperti itu.
(4) Supaya dibentuk suatu Panitia guna mempelajari dan mencoba memecahkan pertikaian-pertikaian yang dihadapi negara-negara kolonial.
(5) Supaya dibentuk suatu Panitia untuk merencanakan suatu Piagam yang mengupas Keadilan Sosial dan Kemajuan secara terperinci bagi Dunia Islam atas dasar mukaddimah ini dan mengambil pertolongan dari warisan hukum Islam. Piagam ini supaya dihormati oleh semua negara-negara Islam yang berdaulat.
(6) Konferensi melihat adanya bahaya di dalam penyerbuan peradaban Barat yang dekaden terhadap Masyarakat Islam dan berseru kepada Pemerintah Negara-Negara Islam untuk membimbing kehidupan Moral Umat Islam berdasarkan Moral Islam yang tinggi untuk melindungi Kepribadian Islam. Juga diserukan kepada Pemerintah Negara-Negara Islam untuk melaksanakan Perundang-Undangan Islam yang diambil dari Al Quran dan Sunnah, dan mencari bimbingan daripada warisan hukum Islam dan jangan menerima sistem hukum dari Barat.
(7) Konferensi ini berseru kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) supaya menjadi lebih efektif dan supaya diperhitungkan kenyataan-kenyataan situasi dunia yang ada di dalam komposisinya, pekerjaannya dan lain-lain.
Konferensi Islam Asia-Afrika menyatakan pentingnya penghormatan mutlak terhadap hak-hak kaum minoritas Islam di negara-negara bukan Islam. Konferensi selanjutnya menetapkan akan mendirikan suatu organisasi Islam untuk melindungi hak-hak kaum minoritas Islam terhadap diskriminasi di segala bidang, pengusiran dan pembunuhan massal. KIAA merekomendasi pendirian Bank Pembangunan Asia-Afrika dengan tujuan membiayai negara-negara anggota dan menyerukan kepada negara-negara Islam yang kaya untuk memasukkan dana ke dalam bank tersebut. Juga pembentukan suatu lembaga untuk meneliti dan mempelajari ajaran-ajaran Islam dalam bidang ekonomi.
Dalam bidang kebudayaan, menganjurkan agar kepada umat Islam seluruh dunia diserukan untuk menggunakan Kitab Suci Al Quran sebagai bimbingan untuk mengatur cara hidupnya sesuai dengan Islam dan cita-cita Islam. Rekomendasi KIAA menganjurkan didirikannya Pusat Organisasi Tablighul Islam di bawah pelindungan KIAA. Organisasi ini akan mempunyai sebuah pusat untuk membiayai penyebaran Islam dan Kantor Pusat Penerangan Islam.
Selanjutnya dalam mukaddimah pembentukan Organisasi Islam Asia-Afrika (OIAA) antara lain dinyatakan, “Sesungguhnya Umat Islam sedunia adalah bersaudara dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Agama Islam adalah pedoman perjuangan mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Adalah kewajiban bagi umat Islam untuk membebaskan rakyat-rakyat Islam dari penjajahan, penindasan, kezaliman dan membentuk dunia baru yang adil, makmur dan ber-Ketuhanan Yang Maha Esa dan yang beriman kepada ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw.”
Organisasi Islam Asia-Afrika (OIAA) yang dideklarasikan di forum KIAA bertujuan, (a) Dunia baru yang adil dan makmur sesuai ajaran Islam, (b) Persatuan, Solidaritas, dan kerjasama masyarakat Islam sedunia. (c) Berlakunya hak-hak azazi manusia menurut ajaran Islam, termasuk perlindungan terhadap golongan minoritas Islam. Sekretariat Jenderal OIAA disepakati berkedudukan di Jakarta. OIAA pada waktu itu telah memiliki aset tanah yang rencana akan dibangun Gedung Sekretariat Jenderal OIAA di Jalan M.H. Thamrin Jakarta Pusat (kini lokasi gedung BPPT). OIAA kini tinggal kenangan sejarah tanpa ada kelanjutannya.
Populasi bangsa-bangsa Asia-Afrika terdiri dari mayoritas bangsa muslim. Peta demografis ini bukan suatu kebetulan tanpa makna. Bangsa-bangsa di Asia dan Afrika tidak hanya diikat oleh persaudaraan kemanusiaan(ukhuwah insaniyah), tetapi juga persaudaraan yang lebih kokoh yaitu ukhuwah Islamiyah.
Lalu, pesan apa yang dapat diambil dari Konferensi Asia Afrika bagi umat Islam, selain perlunya menghidupkan kembali pesan KIAA dan OIAA yang sudah dilupakan?
Saya ingin menggarisbawahi intisari Khutbah Jum’at yang disampaikan Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat di hadapan delegasi KAA di Bandung sebagai berikut: “Pada tanggal 24 April, tepat 60 tahun yang lalu, bangsa-bangsa Asia Afrika menyatakan kesepahaman dan kebersamaan untuk bangkit dan bersatu memiliki cita-cita kemerdekaan dan perdamaian yang hakiki untuk menggapai kesejahteraan bersama di Kawasan Asia Afrika. Allah berfirman:‘Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.’ (QS Al Hujurat ayat 10). Karena keislaman pula bangsa-bangsa Asia-Afrika itu seperti satu bangunan yang sangat kuat, mereka bersatu, saling membantu dan saling menolong. Seperti sabda Rasulullah, ‘Seorang mukmin pada mukmin lainnya, seperti satu bangunan yang kokoh, saling menopang satu sama lain.’ Mereka harus bersatu, tidak boleh berseteru. Persatuan menghasilkan kekuatan, kebersamaan, dan kesejahteraan, sementara perpecahan hanya akan menimbulkan kelemahan dan penjajahan.”
Sebagai kesimpulan, memperingati KAA tidak sempurna tanpa mengaitkan semangat dan pesan KAA dengan Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA) tahun 1965. KIAA adalah sebuah cermin sejarah menarik tentang muktamar perjuangan umat Islam untuk membentuk dunia baru yang diridhai Allah Subhanahu Wata’ala. ***
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



