Oleh:
M. Fuad Nasar*
Sewaktu Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. diangkat sebagai Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, sekitar 2006, saya bertugas sebagai perwakilan dan penghubung Kementerian Agama dalam susunan keanggotaan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Penugasan di Baznas berlangsung dari 2004 sampai 2015, selama periode Ketua Umum Baznas Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc.
Dalam periode tersebut, Pak Nasar adalah anggota Dewan Pertimbangan Baznad. Dalam susunan Dewan Pertimbangan Baznas, tiga nama lain yang saya kenang ialah almarhum H. Muchtar Zarkasyi, SH (mantan Inspektur Jenderal Kementerian Agama) sebagai Ketua Dewan Pertimbangan, almarhum Prof. Dr. Nasrun Haroen, MA (Direktur Pemberdayaan Zakat) sebagai Sekretaris Dewan Pertimbangan, dan Drs. H. Mubarok M.Si (mantan Dirjen Penyelenggaraan Haji).
Pada acara Halal Bihalal Idul Fitri Keluarga Besar Baznas bersama Forum Zakat (FOZ), 14 September 2011, di Kantor Baznas Jln. Kebon Sirih 57 Jakarta, Pak Nasar menyampaikan taushiyah yang menyentuh hati di depan para Pengurus Baznas dan amilin yang mewakili berbagai organisasi pengelola zakat tingkat pusat. Saya sempat mencatat butir-butir taushiyah yang disampaikannya ketika itu.
Mengawali ceramahnya Pak Nasar mengupas penggunaan istilah kata “amil” dalam Al Quran. Dalam Al Quran, kata “amilat” otomatis bermakna perbuatan positif. Tetapi kalau kata “fa’il” adalah campur baur, bisa positif dan bisa pula negatif, seperti pada surat Al-Fil [105] ayat 1.
Pak Nasar menggugah perhatian hadirin dengan kalimat yang berkesan mengenai pentingnya kepribadian amil. “Jika kita perhatikan dalam Al Quran dan Hadis, ternyata tidak gampang menjadi amilin. Amilin adalah pasti orang-orang yang luhur, jujur, ikhlas dan tidak boleh cacat. Begitulah ekspektasi Al Quran terhadap para amil,” ungkapnya.
“Amilin adalah pekerjaan yang sangat luhur. Bukanlah seorang amilin kalau perbuatannya bertentangan dengan pengertian kata amil itu sendiri. Semua sahabat yang diutus oleh Rasulullah SAW untuk menjadi amilin adalah orang-orang yang ash-shadiqin. Mereka tidak mau mengambil harta zakat, meskipun memenuhi syarat. Jika orang memperebutkan kapasitas sebagai amil, maka itu adalah bertentangan dengan sejarah. Ramai-ramai mengurus zakat, tetapi tidak mau mengambil harta zakat, itulah kepribadian amil. Oleh karena itu saya mengajak, jadilah amil dalam pengertian yang sesungguhnya. Amil dengan segala tanggung jawab lahir dan batin,” tegas Pak Nasar.
Pak Nasar berpesan kepada jajaran Baznas, “Jadilah amil yang sekaligus sahabat spiritual para umat kita. Amilin bukan sekadar menjadi manajer dan pengelola Baznas. Tugas seorang amilin bukan sekadar menyampaikan bantuan materi kepada mustahik, tetapi tugas amilin adalah juga memberi nasihat, solusi dan bahkan tempat konsultasi bagi umat. Seorang amilin harus bisa menjadi tempat curhat umat. Umat yang tidak memiliki sahabat spiritual dikhawatirkan menjalani kehidupannya secara gersang. Jika umat tidak memiliki sahabat spiritual, berarti tidak ada orang yang bisa dipercaya.”
Pak Nasar menyampaikan, alangkah kikir dan pelitnya kita sebagai muslim kalau yang kita keluarkan dari harta kita hanya zakat yang 2,5 persen itu. Zakat adalah kewajiban minimal. Selain zakat, ada shadaqah, infaq, wakaf, hibah, wasiat, nazar, waris, dan sebagainya.
Ungkapan ini sekaligus penekanan bahwa umat Islam dalam menunaikan ibadah dengan harta jangan berhenti pada kewajiban zakat saja yang merupakan rukun Islam. Masih banyak “pundi-pundi” dana umat yang perlu digerakkan untuk membangun kesejahteraan yang merata dan berkeadilan.
Dalam ceramahnya di Baznas pada 2011, Pak Nasar yang kini diamanahi tugas negara sebagai Menteri Agama mengingatkan tentang hakikat keikhlasan bagi para amilin dan segenap pekerja di jalan kebaikan pada umumnya bahwa semua yang kita lakukan adalah ibadah. “Kalau kita ikhlas tidak akan pernah kecewa. Kalau kita ikhlas tidak akan pernah cape,” pungkasnya.
*Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama
Tulisan ini dikutip dari testimoni penulis pada buku Nasaruddin Umar & The New Istiqlal (2021) dengan beberapa editan.



