Jakarta, bimasislam--Senyum bersahaja senantiasa menyertai aktifitas perempuan kharismatik ini. Semangat Praja Muda Karana mengiringi langkah dan sepak terjangnya. Sebagai abdi pencerah umat dengan semangat muda yang suka berkarya, perempuan kelahiran Sumedang ini telah menggegapgempitakan Jambore Nasional dari masa ke masa. Beliau adalah Asiah Suriadikusumah atau yang akrab dipanggil Bunda As.
Takkan banyak yang menyangka bahwa wanita energik ini hampir berusia 78 tahun. Perempuan yang juga berprofesi sebagai dosen ini lahir pada tanggal 5 oktober 1938. Dengan jiwa muda yang terus berkarya untuk bangsa, ternyata telah menjadikan pahlawan tanpa tanda jasa ini tetap muda dan punya semangat membara.
Sebagai panitia Jamnas dibidang perkemahan, Bunda As mempunyai tanggung jawab sebagai koordinator perkemahan putri. Memimpin sekitar 12.500 peserta putri yang terbagi menjadi subcam dan pasukan, menjadi tugas Bunda As. Sebagai orang yang memiliki kearifan dan kaya pengalaman, menjadikan Bunda As sebagai tempat curahan hati dan konsultan kakak-kakak Pramuka. Semua itu dilakukan dengan baik oleh Bunda As. Sebagaimana kinerja yang ditunjukkan Bunda As dalam pelaksanaan Pra Jambore Nasional pada tanggal 19-23 Juli yang lalu. Tetap bersemangat meski masa istirahat yang makin tak cukup. Tak tergambar letih sama sekali apalagi keluh kesah. Pribadi yang bertanggung jawab dan sosok teladan selalu dikaderkan Bunda As.
Kepramukaan sebagai proses pendidikan diluar lingkungan sekolah dan keluarga telah dinikmati dengan senang hati oleh pensiunan dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini sejak tahun 1961. Prinsip kepramukaan yang menekankan pada pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur telah ditekuni sebagai kegiatan yang inspiratif oleh Bunda As.
Berbekal izin orang tua dan besar dilingkungan kepramukaan, Bunda As aktif di organisasi kepanduan. “Masih lekat diingatan saya ketika menjahit baju-baju peserta yang akan dikirim ke Jakarta”, terang Bunda As. Waktu itu Bunda As menjadi pramuka perempuan satu-satunya di daerah asalnya. Memiliki ketrampilan menjahit dan memasak menjadi keahlian Bunda As yang sangat dibutuhkan Pramuka.
Kepramukaan di Indonesia diawali dengan organisasi kepanduan. Sejarah Pramuka lahir didasarkan pada Kepres RI No. 112 tahun 1961 tanggal 5 April 1961 tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka. Kemudian diikuti dengan pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari oleh Presiden pada tanggal 14 Agustus 1961 dimana Gerakan Pramuka diperkenalkan diseluruh Indonesia.
“Menjalankan kewajiban saya kepada Allah Subhanawata’ala dan negara menjadi prinsip saya dalam Pramuka”, sampai Bunda As. Hal ini senantiasa menjadi motivasi perempuan dari Krawda Bandung ini untuk membesarkan Pramuka. Mengamalkan Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka jadi modal Bunda As bersilaturahim dengan siapa saja.
Bagi Bunda As, Pramuka wajib menjadi insan yang bertakwa. Pramuka yang muslim wajib melaksanakan ibadah shalat dan ibadah-ibadah agama Islam lainnya. Oleh karena itu Bunda As sangat konsen terhadap pelaksanaan ibadah disetiap acara kepramukaan. Pribadi yang bertakwa akan melahirkan warga negara yang bertanggung jawab.
Memaknai Pramuka dalam kehidupan bernegara, Bunda As menyampaikan paparannya. “Dalam hal ini sangatlah penting semangat kepramukaan digali”. Nilai-nilai semangat kepramukaan perlu digali kembali demi terciptanya negara yang adil, damai, dan sejahtera.Perempuan yang fokus pada pengkaderan Pramuka ini berpesan agar para Pramuka teruslah berpramuka dan jadilah kader yang bertanggung jawab serta menjadi sosok teladan bagi semua.
(lady/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



