Ciamis, bimaislam— Bagi sebagian orang, memungut sampah plasktik itu sebagai hal yang menjijikkan. Apalagi bercampur dengan kotoran lain dalam bak-bak sampah yang bau menyengat. Hal yang sama ketika bertemu dengan para pemulung, cenderung sinis dan curiga. Namun bagi KH. Asep Saiful Millah, Pengasuh Pesantren Ar-Risalah, Cijantung, Ciamis, justru sangat peduli pada mereka. Bagi Kyai Asep, mengelola sampah plastik di tengah budaya instan masyarakat menggunakan plastik yang sulit terurai menjadi kebutuhan saat ini. Apalagi ini bertujuan untuk memberdayakan para pemulung agar terangkat secara ekonomi. Demikian dikatakan Kyai Asep kepada bimasislam beberapa waktu silam.
Saat bimasislam meliput untuk kedua kalinya (17/4), ditemui oleh menantu sekaligus koordinator bidang pemberdayaan ekonomi pesantren, Ustadz Ade. Menurutnya, Kyai Asep Saiful Millah, dianggap oleh sebagian orang sebagai “kyai rongsok”.
“Pesantren kok ngurus sampah atau rongsokan”, begitu ustad Ade menirukan sinisme sebagian masyarakat.
Menurutnya, tidak semua masyarakat sekitar pesantren bisa menerima program pemberdayaan wakaf produktif dalam bentuk pengolahan sampah plastik (daur ulang).
“Masyarakat belum semuanya menerima program pengelolaan sampah plastik (daur ulang). Mereka menganggap bahwa ini pabrik plastik yang menggunakan bahan-bahan kimia. Padahal kalau mereka lihat, harusnya mereka mendukung. Pabrik ini justru mengurangi limbah plastik yang menjadi kesukaan masyarakat yang sulit terurai. Makin banyak orang yang peduli soal daur ulang sampah, maka semakin baik buat kesehatan masyarakat”, tegas sarjana agama yang belajar otodidak dalam bisnis.
Ketika ditanyakan tentang apa hasil dari pabrik ini, Ade mengatakan bahwa pabrik ini telah memberdayaan masyarakat sekitar, khususnya para pemulung dan kelompok usia lanjut yang menganggur.
“Alhamdulillah, meski belum menghasilkan margin yang besar, setidaknya pabrik ini telah memberdayakan masyarakat sekitar. Untuk ibu-ibu lanjut mereka bisa dapat upah dari hasil memisahkan plastik-plastik yang dhimpun dari para pengepul. Belum lagi dari pengepul terdapat para pemulung, yang berarti memberi lapangan pekerjaan buat mereka”, ujarnya.
Ade juga mengatakan bahwa usaha ekonomi produktif bukan hanya pabrik ini, tetapi ada lima bidang usaha yang dikelola oleh pesantren, yaitu bidang perikanan, perkebunan, pertambangan, peternakan, dan pabrik daur ulang plastik.
“Kami memiliki lima bidang usaha ekonomi produktif pesantren, yaitu perikanan, perkebunan, pertambangan, peternakan, dan pabrik daur ulang plastik. Namun, usaha yang paling menghasilkan dari sekian usaha adalah bidang pertambangan. Bahan baku sudah tersedia, pemasaran juga bagus. Hasil dari sebagian usaha untuk pengembangan pendidikan dan pemberdayaan umat”, tutupnya. (thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



