Jakarta, bimasislam-- Salah satu ukuran kebesaran Nabi Muhammad terlihat pada warisan ajarannya yang dianut dan dijaga oleh milyaran penduduk bumi dan masih akan bertahan serta berkembang terus dari zaman ke zaman. Demikian dikatakan oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA dalam uraian hikmah Peringatan Maulid Nabi Kenegaraan di Istana Negara (15/1).
Lebih lanjut rektor UIN Jakarta ini memaparkan bahwa dalam perjalanan sejarahn semua agama mesti berinteraksi dengan budaya, sehingga pada urutannya agama dan budaya tidak mungkin dipisahkan, sekalipun asal-usulnya bisa dibedakan. Ajaran agama diyakini berasal dari Allah yang diwahyukan melalui RasulNya, sedangkan budaya adalah hasil kreasi budi-daya manusia, yang keduanya –agama dan budaya-- saling mendukung dan memerlukan. Agama tak akan berkembang tanpa instrumen budaya. Agama punya klaim kebenaran universal, sedangkan ekspressi budaya selalu bersifat lokal-kontekstual, sehingga kita mengenal konsep kebenaran normative-universal, dan kebajikan partikular (local wisdom/ma’ruf - ‘urf) yang diperhadapkan dengan munkar, yaitu sesuatu yang ditolak karena dianggap buruk oleh masyarakat, tegasnya.
Lebih lanjut, Piagam Madinah merupakan contoh yang sangat monumental bagaimana missi kerasulan Muhammad diekspressikan dan diimplementasikan dalam konteks masyarakat Madinah – sebelumnya bernama Yatsrib – yang penduduknya sangat majemuk dari segi etnis dan memiliki beragam kepercayaan/agama. Mereka terlibat pertikaian dan peperangan yang tak habis-habisnya demi membela kelompoknya.
Ada dua kata kunci (key ideas) yang disebutkan sembilan kali dalam dokumen tersebut, yaitu: al-ma’ruf dan al-qisth. Kata al-ma’ruf seakar dengan kata ‘uruf, bisa diartikan sebagai local wisdom, sebuah kebiasaan baik yang sudah diterima masyarakat, kebalikan dari al-munkar, perilaku yang tidak disenangi dan ditolak masyarakat. Sedangkan al-qisth berarti prinsip-prinsip yang memenuhi rasa keadilan. Kelahiran Piagam Madinah memerlukan proses negosiasi dan konsensus dengan sabar dan cerdas yang diinisiasi dan dipimpin oleh Nabi Muhammad, karena menabrak kebanggaan primordialisme suku dan komunalisme agama yang telah mengakar dalam bawah sadar masyarakat selama bertahun-tahun. Kata ma’ruf dan qisth yang menjadi titik temu antar suku dan agama juga ditemukan berulangkali dalam Alqur’an. Misalnya pada surat Alhujurat (49): 13.
Hadir dalam acara tersebut presiden RI, SBY, Wakil presiden Boediono, Menteri Agama, Suryadharma Ali, para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, perwakilan negara-negara sahabat, dan para pejabat di lingkungan Kemenag RI, serta tamu undangan dari berbagai elemen masyarakat. (bieb/foto:ilustrasi-wiki-p)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



