Assalamu'alaikum Wr. Wb.
KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT, PARA PEMIRSA DI SELURUH INDONESIA YANG BERBAHAGIA
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu kembali dengan bulan yang penuh berkah, bulan suci Ramadlan.
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, Nabi pembawa kedamaian, Nabi yang mengajarkan agar kita dapat hidup rukun dan saling menghormati kepada sesama umat manusia.
Malam ini, Kementerian Agama Republik Indonesia telah menyelenggarakan sidang itsbat untuk mengambil keputusan penetapan awal bulan Ramadlan tahun ini. Alhamdulillah, sidang telah diikuti oleh perwakilan dari beberapa negara sahabat, para alim-ulama, para pimpinan ormas Islam, anggota Badan Hisab Rukyat, dan para ahli astronomi.
Sidang itsbat telah menyepakati dan memutuskan bahwa tanggal 1 Ramadlan 1438 H bertepatan dengan hari Sabtu tanggal 27 Mei 2017. Dengan demikian, puasa Ramadlan akan kita mulai pada hari Sabtu besok. Untuk itu, kami atas nama Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan selamat menunaikan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan suci Ramadlan. Semoga Allah SWT menerima segala kebaikan dan amaliyah ibadah yang kita lakukan, sehingga kita menjadi orang-orang yang mencapai derajat muttaqin, amin.
KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT, PARA PEMIRSA DI SELURUH INDONESIA YANG BERBAHAGIA
Dalam kesempatan menyambut bulan suci Ramadlan ini, izinkan kami menyampaikan beberapa hal:
Pertama, kami mengajak seluruh umat Islam di seluruh pelosok negeri untuk benar-benar menjaga kesucian bulan Ramadlan dalam makna yang sepenuhnya. Sebagaimana kita mafhumi, terminologi "ramadlan" dalam bahasa Arab berasal dari kata dasar "ra-ma-dla" yang berarti "membakar". Hal ini bermakna bahwa bulan "ramadlan" merupakan bulan untuk membakar hawa nafsu, amarah murka, caci maki, dan perilaku-perilaku destruktif lainnya. Oleh karenanya, marilah kita jaga kesucian Ramadlan ini, jangan sampai dikotori dengan ujaran kebencian, caci maki, menghina, dan memfitnah, baik dalam ruang sosial, lebih-lebih dalam ruang keagamaan. Jangan sampai ruang keagamaan, apalagi ruang ibadah, yang bersifat sakral itu dikotori dengan ujaran kebencian yang justru dapat menghilangkan kesucian dalam beribadah. Jadikan bulan Ramadlan ini sebagai ruang untuk ber-muhasabah, mengevaluasi dan memperbaiki kualitas diri, yang di samping dituntut untuk saleh secara individual juga saleh secara sosial, yang mampu menjalin kedamaian di antara sesama umat manusia.
Beribadah puasa hendaknya juga mampu ditunjukkan dengan sikap kasih sayang terhadap sesama, menghargai dan menghormati kepada orang lain. Hadis Nabi Muhammad SAW menyatakan:
"Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga."
Orang yang melakukan ibadah puasa tidak akan mendapatkan balasan apapun jika dirinya tidak mampu membangun kedamaian dalam kehidupan sosialnya. Meski berpuasa, jika lisan dan tindakannya tidak terkontrol maka ia tidak akan mendapatkan balasan pahala apapun.
Dalam ilmu tasawuf dijelaskan bahwa manusia itu terdiri dari 2 (dua) unsur, yakni unsur nasut (kemanusiaan) dan unsur lahut (ketuhanan). Unsur lahut merupakan sifat-sifat yang baik (immaterial), seperti kesucian, kedamaian, kebaikan, ikhlas, menghargai, jujur, dan semisalnya. Sementara unsur nasut merupakan sifat-sifat materialistik yang melekat pada manusia, seperti sikap hedonis, pamrih, permusuhan, adu-domba dan semisalnya. Dalam konteks Ramadlan, ibadah puasa itu sesungguhnya menghilangkan unsur-unsur nasut, dan dalam waktu bersamaan memperkuatkan unsur-unsur lahut. Puasa itu meminimalisasi bahkan menghilangkan sikap hedonistik-materialistik, dan dalam waktu bersamaan mengaktifkan orientasi yang bersifat kebaikan, kedamaian, kelemahlembutan, menghargai orang lain, dan lain-lain. Jika sifat-sifat Tuhan atau unsur-unsur lahut itu terbiasa disemai dalam diri kita, maka potensi kita untuk semakin dekat dengan Allah SWT tentu akan semakin tinggi.
KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT, PARA PEMIRSA DI SELURUH INDONESIA YANG BERBAHAGIA
Kedua, dalam konteks kebangsaan, keagungan Ramadlan hendaknya dimanifestasikan memperteguh komitmen kebangsaan dalam merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila.
Negara kita adalah negara yang masyarakatnya tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai agama. Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Menempatkan Pancasila sebagai ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan kesepakatan berupa konsensus nasional, yang mempersatukan seluruh elemen bangsa, baik agama, suku, golongan, dan budaya yang beraneka. Momentum Ramadlan hendaknya dapat dijadikan sebagai pusat gerakan bersama dalam menegaskan dan meneguhkan kembali ideologi Pancasila sebagai basis membangun negara yang religius.
Kami mengajak kepada seluruh umat beragama di Indonesia untuk terus memperkuat kembali militansi dan patriotisme kebangsaan kita. Kami mendorong semua umat beragama untuk menjadikan semangat juang keagamaan sebagai basis dalam memperkuat ideologi kebangsaan kita.
KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT, PARA PEMIRSA DI SELURUH INDONESIA YANG BERBAHAGIA
Dengan menjadikan Ramadlan sebagai basis penguatan kualitas diri sebagai muslim dan sekaligus penguatan kebangsaan sebagai warga negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai keluhuran agama dan negara, diyakini ritual Ramadlan akan semakin bermakna. Di samping menjadikan pribadi muslim yang paripurna, Ramadlan juga memperkuat komitmen kebangsaan sebagai warga negara.
Mari kita sambut kehadiran Ramadlan dengan penuh suka cita. Ramadlan sebagai bulan yang pintu ampunan dan kasih sayang-Nya terbuka lebar, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di siang hari diwajibkan berpuasa, sementara di malam harinya disunnahkan untuk memperbanyak shalat malam. Seluruh waktu kita gunakan untuk berbagai aktivitas yang bermanfaat.
KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT, PARA PEMIRSA DI SELURUH INDONESIA YANG BERBAHAGIA
Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengajak seluruh umat beragama, mari kita jaga suasana kerukunan dan persaudaraan di antara kita sebagai sesama anak bangsa. Mari kita jaga suasana penuh kedamaian ini agar saudara-saudara kita dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusu' dan khidmat.
Semoga dengan datangnya bulan suci Ramadlan 1438 H, Allah SWT memberkahi bangsa dan negara Indonesia, dan semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan-Nya.
Akhirnya, atas nama Pemerintah Republik Indonesia, kami mengucapkan "Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadlan, semoga Allah SWT menerima seluruh ibadah dan amal kebajikan kita.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Jakarta, 1 Ramadlan 1438 H
Menteri Agama RI
Lukman Hakim Saifuddin
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



