Oleh:
Syafaat, SH, MHI*
Pagi itu saya dapat surat tugas menjadi narasumber sebuah workshop dengan pokok bahasan yang berkaitan dengan perkembangan remaja, terutama perkembangan calon ibu yang sekarang masih menempuh pendidikan sebelum masuk perguruan tinggi. Beberapa kali menangani kasus yang menimpa remaja serta belasan tahun berinteraksi dengan calon manten sedikit membuat saya mempunyai gambaran tentang perilaku remaja dan problemnya di era millenial, ini bukan hanya karena saya pernah mengalami masa remaja meskipun berbeda masa, namun lebih kepada hasil beberapa penelitian yang dilakukan terhadap pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang kurang dari usia yang ditentukan menurut perundang undangan dimana disaratkan adanya dispensasi dari Pengadilan.
Diskusi yang kami lakukan disebuah Halroom Hotel berkenaan dengan kenakalan remaja yang terjadi pada masa sekolah dan beberapa data yang kami kumpulkan dari anak anak yang terpaksa menikah ketika masa sekolah terkumpul data bahwa sebagian besar anak anak yang (terpaksa) menikah (karena hamil duluan) tersebut orang tuanya tidak lengkap, baik satu maupun keduanya. Sebagian besar orang tua berada diluar negeri, karenanya pengawasan diluar sekolah kurang.
Pernikahan pada usia dini sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan dan kwalitas keturunan yang dihasilkannya, pernikahan yang dilakukan pada usia yang terlalu dini terlebih karena keterpaksaan memberikan banyak problem bagi perkembangan keluarga tersebut, karenanya memberikan kesadaran tentang reproduksi dan penguatan keimanan serta pendidikan keagamaan sangat diperlukan untuk mengurangi pergaulan yang tak terkendali dari para remaja tersebut.
Pusat Informasi dan Konsultasi Remaja (PIK-R) yang dibentuk di sekolah maupun madrasah dapat dijadikan sarana efektif bukan hanya masalah kesadaran pendidikan kependudukan dan generasi berencana, namun juga berbagai permasalahan yang dialami oleh para Remaja, terlebih yang berkaitan dengan perkembangan reproduksi dimana hal ini sangat penting (terutama perempuan) untuk mempersiapkanpkan diri sebagai Istri bagi suaminya dan sebagai Ibu dari anak anaknya. Dimana persiapan perempuan sebagai calon ibu sangat penting untuk menghasilkan generasi yang lebih unggul, sebagai bidadari dari rumah surgakeluarganya.
Beberapa remaja putri memilih diet ketat yang kadangkala tidak sehat bagi perkembangan dirinya, terlebih dimasa sekolah dimana masih dibutuhkan banyak energi untuk menyerap ilmu disekolah yang banyak menyita energi. Dimana anak anak sering mengabaikan pola makan dan asupan gizi yang dibutuhkan. Hal ini akan berakibat pada perkembangan dirinya, mereka pada akhirnya juga kurang maksimal dalam menyerap pengetahuan disekolah.
Siklus haid bulanan pada perempuan menyita energi dan keluarnya darah, karenanya asupan gizi yang cukup bagi remaja putri sangat penting untuk perkembangan dan persiapan menjadi seorang ibu, dimana bagi seorang ibu yang baik bukan hanya kondisi fisik saja yang harus siap, tetapi mental dan pendidikan serta pengetahuan yang cukup. Dengan harapan seorang ibu yang menjadi titik awal bagi pendidikan bagi putra putrinya tersebut benar-benar siap untuk melahirkan generasi unggul. Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) segara gratis yang dilakukan pada Remaja Putri dalam pendidikan setingat SLTP dan SLTA merupakan salah satu upaya pencegahan anemia dan peningkatan kualitas calon ibu.
Memberikan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan, pencegahan anemia, serta segala hal yang berkaitan dengan reproduksi dan masalah remaja lainnya dapat dilakukan dengan mengaktifkan konsultan teman sebaya dalam wadah PIK-R dimana diantara remaja tersebut dapat saling mengingatkan. Begitu juga dengan peran guru, terlebih Guru Pembimbing Akademik (PA) / Wali Kelas serta Guru Bimbingan dan Konseling (BK), dengan mengingat guru merupakan pengganti orangtua selama berada dilingkungan sekolah.
Prevelensi kejadian anemia pada remaja peremopuan di Indonesia masih tinggi yakni sebesar 22,7 % hal ini dalam jangka panjang akan sangat berdamoak bukan hanya pada remaja itu sendiri, namun remaja yang dalam masa tumbuh dan berkembang ini mrembutuhkan zat besi yang tinggi yang pada akhirnya akan menjadi ibu tersebut juga akan berdampak pada anak yang akan dikandungnaya. Dimana Ibu yang mengalami anemia akan lebih parah ketika dia mengandung.
Dibandingkan dengan laki-laki, pada usia yang sama kebutuhan berdasarkan Tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG) bagi perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki, hal ini diakibatkan asupan zat besi bagi perempuan bukan hanya diperlukan untuk mendukung pertumbuhannya saja, namun juga untuk mengganti zat besinya yang hilang melalui darah mnestruasi setiap bulan.
Problem bulanan pada remaja putritentang bagaimana membuang pembalut secara sehat juga belum sepenuhnya dimengerti oleh sebagian remaja putri, karenanya sering terjadi ditemukan pembalut bekas pakai tersebut dibuang ditempat sampah begitu saja tanpa terlebih dahulu dibersihkan darah kotor yang menempel. bagaimana dengan ibadah wajib yang harus dimengerti, dimana dalam hal ini penyuluhan dari ahli agama juga sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalahan dalampelaksanaan Ibadan ketika sedang menstruasi.
Peran seorang ibu sangat vital dalam membentuk rumah tangga dan pendidikan bagi anak anaknya, dengan mengingat seorang Ibu merupakan guru utama bagi anak anaknya, karenanya mempersiapkan remaja untuk benar benar siap menjadi istri dan menjadi ibu sangat diperlukan dalam peningkatan mutu keluarga. Seorang ibu merupakan soko guru pengembangan karakter bagi putra putrinya. Perkembanga seorang anak sangat dipengaruhi oleh kemampuan seorang ibu dalam mendidik putra putrinya, dimana cara mendidik putra dan putrinya ini bukan sekedar diperlukan pengetahuan yang luas, namun perhatian terhadap perkembangannya. Karenanya tidak jarang seorang ibu dengan pendidikan rendah dapat juga mengharkan kesuksesan bagi putra putrinya.
Islam Mewajibkan menuntut Ilmu bagi laki laki maupun perempuan, namun Islam tidak mewajibkan seorang perempuan untuk mencari nafkah, meskipun tidak ada larangan. Pendidikan yang cukup yang diperoleh bagi seorang perempuan sangat diperlukan agar nantinya dapat mendidik anak anaknya dengan kasih sayang dan pengetahuan yang diperolehnya.
Program sinergi pemerintah dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dimulai sejak dini bukan hanya Pendewasaan Remaja Usia Nikah (PRUN), namun juga peningkatan pengetahuan bagi remaja sebelum memasuki gerbang rumah tangga. Sunergi ini dapat dilakukan dalam kegiatan selaras yang dilakukan dari beberapa Kementerian diantaranya Kementerian Kesehatan berkaitan dengan peningkatan gizi dan pencegahan anemia bagi remaja, Kementerian Agama yang dalam hal ini adalah Kantor Urusan Agama dimana instansi ini bukan hanya sebagai tempat pencatatan pernikahan saja, namun juga melakukan pembinaan dan upaya pelestarian keluarga yang salah satu programnya adalah peningkatan kwalitas calon manten serta BKKBN.
*Penulis adalah Alumni Diklat Pembentukan Jabatan Penghulu BDK Surabaya Tahun 2016



