Jakarta, Bimas Islam— Ketua Pengurus Pusat Kelompok Kerja Majelis Taklim (Pokja MT), Nyai Sururin, menggagas penyusunan Direktori dan Ensiklopedia Majelis Taklim Nasional sebagai langkah strategis memperkuat ekosistem pembinaan majelis taklim di Indonesia. Gagasan ini disampaikan dalam rangkaian Grand Final Festival Majelis Taklim 2025 yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (26/11/25).
Nyai Sururin menilai, kebutuhan basis data yang akurat sudah sangat mendesak mengingat keberagaman karakter majelis taklim di berbagai daerah. Ia menjelaskan, keberadaan direktori nasional akan membuka akses informasi yang komprehensif mengenai profil majelis taklim, program, kapasitas jemaah, hingga model dakwah yang berkembang.
“Kita ingin majelis taklim memiliki wajah data yang rapi. Dengan direktori, masyarakat akan mudah mengenal program-programnya dan kita pun lebih mudah melakukan pembinaan,” ujarnya. Menurutnya, keberagaman profil majelis taklim merupakan kekayaan yang perlu dipetakan secara ilmiah dan sistematis.
Ia memberi contoh beberapa majelis taklim memiliki jemaah dari kelompok khusus, termasuk anak-anak jalanan atau anak punk. Setiap kelompok memerlukan pendekatan dakwah yang berbeda dan tepat sasaran. “Di sinilah pentingnya profiling. Dari data itu kita tahu kebutuhan mereka dan bisa mendampingi lebih baik,” katanya.
Sururin menambahkan, direktori tersebut nantinya akan menjadi rujukan publik dan pemangku kepentingan untuk memahami dinamika majelis taklim di Indonesia.
Selain direktori, Pokja MT juga menggagas penyusunan Ensiklopedia Majelis Taklim Nasional, yang menghimpun pengetahuan, sejarah, dan tradisi majelis taklim secara lebih mendalam. Ia menyebut bahwa majelis taklim tidak hanya ruang pengajian, melainkan entitas khas Indonesia yang memiliki sejarah sosial keagamaan panjang. “Ensiklopedia ini akan menjadi warisan literasi. Kita ingin majelis taklim tidak hanya kuat dalam tradisi lisan, tetapi juga tradisi tulisan,” tuturnya.
Ia berharap kedua inisiatif tersebut mendapat dukungan luas, baik dari Kementerian Agama maupun para penggerak majelis taklim di daerah. Nyai Sururin berharap, penyusunan direktori dan ensiklopedia dapat dimulai setelah pendataan nasional majelis taklim berjalan optimal. “Kami bermimpi sistem informasi Majelis Taklim ini kelak bisa diakses dan dinikmati seluruh masyarakat,” imbuhnya.
Pada kesempatan itu, Nyai Sururin juga berkomitmen Festival Majelis Taklim 2025 akan terus dilanjutkan, karena menjadi ruang ekspresi kreatif dan literatif jemaah. Menurutnya, festival ini sejalan dengan gagasan memperkuat budaya menulis dan dokumentasi keagamaan. “Dari lomba karya tulis ilmiah sampai cerita fiksi, semuanya memperlihatkan bahwa majelis taklim siap menyongsong era baru literasi,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa Pokja MT akan terus memperkuat tiga program prioritas: pendataan majelis taklim, penyelenggaraan festival tahunan, dan pengembangan pusat informasi majelis taklim. Ketiga program ini, katanya, saling terhubung dan menjadi dasar perumusan arah pembinaan ke depan.
Keterlibatan Kemenag: Penegasan Sinergi dan Dukungan Teknis
Kasubdit Kemitraan Umat Islam Ditjen Bimas Islam, Ali Sibromalisi, menyambut baik gagasan Pokja MT dan siap mendukung proses teknis yang diperlukan. Ia menyebut bahwa pendataan dan pemetaan majelis taklim sudah masuk dalam program kerja Subdit Kemitraan Umat Islam, terutama untuk memperkuat kolaborasi pembinaan lintas daerah. “Gagasan penyusunan direktori dan ensiklopedia ini sangat relevan. Kami melihatnya sebagai wujud komitmen memperkuat layanan keagamaan yang akuntabel,” ujarnya.
Ali menjelaskan, kegiatan Festival Majelis Taklim 2025 yang saat ini memasuki babak grand final diikuti 427 peserta dari 237 Majelis Taklim se-Indonesia. Festival ini menjadi ruang pembelajaran bersama mengenai pentingnya dokumentasi, literasi, dan inovasi dalam dakwah. “Festival bukan hanya lomba, tapi juga wahana bertukar gagasan dan melihat potensi setiap majelis taklim,” katanya.
Ia menambahkan, Subdit Kemitraan Umat Islam telah menyiapkan dukungan teknis agar festival berjalan objektif, transparan, dan sesuai standar penilaian yang telah disepakati. Kerja panitia, dewan juri, dan ofisial disebutnya menjadi bagian penting dari keberhasilan kegiatan. “Antusiasme peserta luar biasa. Ini menandakan bahwa majelis taklim memiliki energi besar yang perlu terus difasilitasi,” ujarnya.
Ali berharap ide-ide strategis yang muncul dalam festival, termasuk gagasan direktori dan ensiklopedia, menjadi pintu masuk bagi penguatan kelembagaan majelis taklim secara berkelanjutan. “Kita ingin majelis taklim tetap menjadi ruang keagamaan yang moderat, inklusif, dan mencerahkan. Karena dari sinilah harmoni sosial bertumbuh,” pungkasnya.
An/Mr



