Pandeglang, bimasislam – Matahari mulai menanjak menuju siang hari yang terasa terik. Debu-debu di jalanan terbang terbawa deru kendaraan yang hilir mudik di jalanan. Meski matahari mulai terik menyengat di kulit, namun sosoh Rodiah tegar menuntun motor yang setia mengantarnya dalam melakukan penyuluhan. Hampir 17 tahun sudah ia mengabdi sebagai penyuluh. Suka dan duka telah banyak tercatat dalam perjalanannya. Namun ia tetap tegar. Baginya, menjadi penyuluh adalah sebuah kebanggaan.
Bimasislam berkesempatan mengikuti kegiatan Yayah Rodiah, salah seorang penyuluh agama Islam yang ditugaskan di sekitar Ujung Kulon, Pandeglang. Di pundaknya sebanyak lima kecamatan menjadi wilayah kerja yang harus dilayani. Menempati rumah sederhana di Cibaliung, ia harus menempuh jarak terjauh 35 km dengan biaya transportasi Rp.100.000. Hari ini ia akan mengunjungi Kampung Cangkilun, Desa Cimanggu, Kecamatan Cimanggu.
“Kampung Cangkilun itu belum teraliri listrik. Jumlah KK-nya 13. Mereka ini selalu menunggu kehadiran para penyuluh. Alhamdulillah hingga saat ini kami konsisten untuk hadir di Cangkilun,” ujarnya di sela perjalanan menuju Cangkilun.
Untuk sampai di Kampung Cangkilung, ia harus melewati jalanan terjal, sungai dan perbukitan sepanjang 3 Km. Tak jarang ia harus menerobos hutan yang licin di musim hujan. Ia pun menunjukkan bekas luka patah tangan yang ia derita saat menunaikan tugas penyuluhan.
Yayah bercerita, lima kecamatan yang harus ia layani terasa sangat luas. Namun semua itu ia jalani dengan bahagia. Baginya terasa sangat bahagia tatkala dapat mengunjungi masyarakat yang berada jauh dari perkotaan.
Menyiasati jangkauan pelayanan yang cukup luas, ia pun memilih memaksimalkan keberadaan para penyuluh non PNS. Ia pun tak segan-segan untuk turun bersama para penyuluh setempat, serta menggandeng para tokoh agama setempat untuk mengoptimalkan penyuluhan agama.
“Di masing-masing kecamatan kami membuat komunitas yang fungsinya sebagai penanggung jawab penyuluhan. Ini sangat efektif menyiasati kekurangan SDM penyuluh,” ungkapnya.
Disinggung perihal tantangan dakwah, Yayah memandang keberadaan teknologi dan gaya hidup modern sebagai tantangan yang harus ia hadapi. Sebagai contoh, keberadan media sosial saat ini juga diakses anak-anak muda di pedesaan. Arus informasi pun tak dapat lagi ditahan penyebarannya, akibatnya beberapa sisi merusak kehidupan remaja.
Bermitra Dengan Tokoh Setempat
Tak banyak yang bisa dilakukan Yayah untuk bisa menjangkau lima kecamatan binaan. Dengan kondisi jarak yang cukup berjauhan, ditambah hambatan alam yang tak jarang “kurang ramah” di beberapa kesempatan, ia pun memutar otak agar penyuluhan tetap berjalan meski dalam keterbatasan.
“Kami membentuk Kelompok Persatuan Majlis Ta’lim (Permata) Tingkat Desa di masing- masing Kecamatan. Tujuannya agar simpul-simpul pengajian dapat tetap melaksanakan penyuluhan. Alhamdulillah selain menggandeng penyuluh honorer, kami juga bermitra dengan para tokoh agama,” tuturnya di sela-sela perjalanan menuju Desa Cimanggu.
Permata diisi oleh para penyuluh agama honorer dan para ustadz di wilayah masing-masing. Merekalah sebagai operator kegiatan majlis taklim. Guna menjaga kualitas dan pengawasan kegiatan penyuluhan, Yayah selalu melakukan koordinsi bulanan.
Yayah menambahkan, selain mensiasati keterbatasn personil, keberadaan permata semakin mempererat hubungan antar pengajian. Menurutnya, tak jarang terjadi sharing pendapat dan ide untuk kemajuan dakwah di wilayah Barat Pandeglang.
(Alatief-Jaja Zarkasyi/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



