Jakarta, bimasislam— Sekretaris PP Muhammadiyah, Dr. Abdul Muktie, M. Ag., mengatakan bahwa pluralitas dalam masyarakat kita merupakan sebuah kemestian atau sunnatullah. Sehingga umat Islam harus memiliki pemahaman yang baik soal ini dan memiliki sikap dan perilaku toleran terhadap berbagai perbedaan yang ada.
“Pluralitas itu sebuah keniscayaan. Umat Islam harus paham soal ini sebagai bagian dari berislam yang kaffah di tengah masyarakat yang majemuk. Ada dua hal yang perlu dicatat, pertama, pluralitas. Pluralitas merupakan kondisi obyektif, dimana di dalam masyarakat kita terdiri dari berbagai paham dan aliran. Kedua, pluralisme, yaitu bagaimana kita menyikap atas pluralitas itu”, tegasnya.
Lebih lanjut dosen Fakultas Tarbiyah UIN Jakarta ini mengatakan bahwa mayoritas umat Islam Indonesia sebenarnya cenderung moderat, dan toleran terhadap berbagai perbedaan.
“Paham Islam moderat dan toleran sebenarnya mayoritas pemeluk Islam di negeri ini. Namun mereka rata-rata memilih diam. Menurut saya, paham keagamaan moderat dan toleran harus lebih sering disuarakan agar kelompok intoleran tidak menguasai panggung”, tegasnya.
Muktie juga menggarisbawahi bahwa selain mempromosikan ajaran-ajaran moderat berdasarkan dalil-dalil agama, umat Islam, khususnya Kemenag, juga harus berani menegaskan tentang eksklusifisme beragama yang sering berlindung pada ayat-ayat tertentu.
“Di dalam ayat Alquran memang ada beberapa ayat yang sering dijadikan tameng kelompok eksklusif untuk terus memperjuangkan keyakinaannya. Sebagai contoh ayat tentang agama Islam merupakan agama yang diridhai Allah (inna al-diina indallahi al-Islam). Ada juga yang berbunyi: walan tardha anka al-yahudu walan al-nashara hatta tattabia millatahum. Nah Kemenag harus berani menjelaskan soal tafsir ayat ini agar tidak dijadikan alat propaganda kelompok untuk menbenci agama lain”, pintanya.
Dalam kalimat penutupnya Muktie menyampaikan bahwa bersikap inklusif dalam beragama tidak berarti kita menjadi agnostik. Pengalaman dalam menjalin hubungan dengan pihak yang berbeda atau non muslim akan membangun pemahaman yang utuh tentang bagaimana kita harus bersikap dengan sesama.
“Saya orang Muhammadiyah yang sudah bergaul dengan banyak pihak. Saya akrab dengan Habib Riziq, akrab dengan para tokoh agama lain. Apalagi dengan tokoh-tokoh NU. Kita boleh berbeda, namun perbedaan tidak boleh menjadi kita berkonflik, apalagi terpecah belah”, harap Sekjen PP Muhammadiyah ini. (thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



