Jakarta, bimasislam-- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Ibu Negara Hj. Ani Bambang Yudhoyono memperingati perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 Hijriyah di Istana Negara, Jakarta, Rabu (15/1). Acara digelar mulai pukul 20.00 wib dan dihadiri Wakil Presiden RI beserta Ibu Herawati Boediono. Hadir pula Pimpinan Lembaga Tinggi Negara, perwakilan Duta Besar Negara sahabat, pimpinan Ormas Islam dan jajaran Kabinet Indonesia Bersatu II.
Acara diawali dengan Pemabacaan Ayat Suci Al-Quran oleh Shidik, Juara kedua pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Asean di Brunei Darussalam tahun 2013, dilanjutkan dengan Hikmah maulid Nabi oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA. Selanjutnya Menteri Agama H. Suryadharma Ali memberikan sambutan. Usai Presiden menyampaikan pidato, ulama Kharismatik, Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya memimpin doa bersama.
Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan bahwa Maulid Nabi dimaksudkan untuk merenungkan kembali nilai-nilai yang ditanamkan oleh Nabi Muhammad sebagai tauladan dan inspirasi yang dilandasi dengan etika serta moment untuk menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
“Saya mengajak seluruh komponen bangsa untuk hidup rukun, bersatu dan jauh dari pertentangan, rasul telah memberi keteladanan untuk menjadi insan yang bertaqwa dan berakhlak mulia”, pesan SBY dihadapan 250 undangan yang hadir.
Presiden SBY juga menegaskan bahwa tatanan kehidupan kenegaraan yang dibangun Nabi Muhammad di Madinah menjadi inspirasi untuk membangun Indonesia yaitu masyarakat yang dinamis, harmonis, santun dan beretika. “Kita perlu mengenang, meneladani kearifan, tutur kata dan kesantunan beliau, sikap kepemimpinan yang agung, nabi selalu mengayomi semua pihak dan membangun toleransi dan persamaan”, Terangnya.
Diakhir pidatonya, presiden mengajak semua pihak untuk mencegah potensi konflik dan provokasi yang dapat meruntuhkan kerukunan. Presiden berharap, Indonesia sebagai negara muslim terbesar didunia harus mampu membangun kehidupan yang adil dan mengayomi. “Umat Islam harus dijauhkan dari paham radikalime dan terorisme, piagam madinah dalam konteks keindonesiaan dapat kita temukan dalam pancasila, syaratnya harus diimplementasikan dan diteladankan sacara nyata”, pungkasnya. (syam/foto:bimasislam)



