Batam, bimasislam-- MTQ Nasional XXV Tahun 2014 telah memasuki hari ketiga. Ajang bergengsi 2 tahun-an ini menampilkan para peserta yang memang berbakat di bidangnya masing-masing. Tidak terkecuali pada cabang musabaqah Fahm Al-Quran. Bertempat di Hall Universitas Batam sekitar 4 Km dari arena utama MTQ, tim reportase bimasislam dapat berkesempatan hadir menyaksikan babak penyisihan Musabaqah Fahm Al-Quran pada grup 5. Hari itu adalah babak akhir penyisihan para peserta pasca masuk ke babak semifinal.
Musabaqah cabang Fahmil al-Quran adalah salah satu cabang bergengsi, di mana para kafilah seluruh Indonesia mengutus 3 (tiga) orang putra/putri terbaiknya dari berbagai sekolah Madrasah Aliyah atau yg sederajat untuk mengikuti kompetisi pemahaman tentang isi kandungan Al-Quran. Untuk itu, peserta dituntut untuk lebih fokus kepada pemahaman tentang al-Qur'an, termasuk di dalamnya pemahaman tentang ilmu nagham (seni bacaan tilawah al-Quran).
"Peserta musabaqah Fahm al-Quran kali ini lebih siap, lebih tenang dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh majelis hakim", ungkap Prof. Amir Tjoneng. MA, Ketua majelis hakim Musabaqah Fahmil Quran. Hal ini terbukti pada babak penyisihan kali ini saja perolehan nilai para peserta lebih tinggi dari MTQ tahun lalu yang mencapai sampai 1700 poin", tambah Prof. Amir.
Pada Musabaqah Fahm al-Quran ini peserta dibagi menjadi empat regu dan diberi kesempatan menjawab 10 pertanyaan awal yang diberikan oleh majelis hakim". "Bahkan yang membanggakan sebagian para peserta mampu menjawab pertanyaan hakim tentang kandungan Al-Qur'an dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris dan mampu menghitung pembagian waris secara mendetail.
"Materi Musabaqah fahmil Al-Quran meliputi permasalahan soal kehidupan bernegara menurut Al-Quran, kehidupan sosial, ilmu tafsir, ilmu fiqih, ilmu nahwu, ilmu tajwid, dan ilmu faraidh." tegas Prof. Amir. "Akan tetapi, yang menjadi catatan penting dalam musabaqah fahm Al-Quran kali ini adalah pemahaman peserta dalam bidang sejarah Islam masih dirasakan kurang, ada pertanyaan tentang sejarah Islam yang tidak bisa dijawab, sebenarnya, imbuh Prof. Amir, hal ini dapat diantisipasi dengan lebih banyak mempelajari ensiklopedia sejarah Islam.
Pada babak penyisihan ini yang keluar sebagai pemenang dan berhak masuk ke babak semifinal adalah regu A delegasi dari Jawa Tengah dengan perolehan nilai 1230 point. (JML/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



