Profil kita bulan ini adalah Prof. Dr. H. M. Machasin, MA, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam. Lahir di Purworejo 13 Oktober 1956, Machasin banyak menghabiskan pendidikannya di kota kelahiran. Baru saat menginjak bangku kuliah, ia hijrah ke Kota Gudeg dan menempuh pendidikan S1 jurusan Sastra Arab pada IAIN Sunan Kalijaga.
Kini, selain menjabat sebagai Dirjen Bimas Islam, Prof. Machasinadalah Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beliau adalah satu diantara tokoh besar yang aktif mengembangkan pentingnya dialog antar agama. Sebelum dilantik sebagai Dirjen Bimas Islam, beliauadalah Kepala Pusat Litbang dan Diklat Kementerian Agama dan Staf Ahli Menteri Agama Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). Sebelum itu, beliau menjabat Direktur Pendidikan Tinggi pada Ditjen Pendidikan Islam.
Kehadirannya di tengah-tengah keluarga besar Bimas Islam telah memberi warna tersendiri. Sebagai seorang tokohyang mumpuni dalam keilmuan Islam, Prof. Machasin adalah sosok yang sederhana dan simple. Kesederhanaanya dapat dilihat dari cara memperlakukan birokrasi sebagai pelayanan masyarakat, bukan ingin dilayani. Sebagai seorang birokrat, beliau terus berupaya memberikan semangat perubahan, meningkatkan profesionalisme, keteladanan dan transparansi.
Sosok yang dikenal lembut dan bertutur secukupnya ini tidak menyukai hal yang ribet dan bertele-tele. Dalam setiap perjalanan dinas misalnya, ia lebih memilih mengurus sendiri segala keperluannya. Begitupula dalam berkomunikasi dengan staf, baginya efektifitas birokrasi diwujudkan melalui pola komunikasi yang efektif, tidak banyak basa basi. Hal ini dipengaruhi oleh ajaran tasawuf yang beliau dalami, bahwa hidup tidak untuk merepotkan orang lain dan tidak untuk dinampakkan.
“Birokrasi itu harus mencerminkan profesionalitas, cepat dan tepat serta akurat dalam pelayanan. Jadi, ya kita mulai dari diri sendiri dengan menyederhanakan tindakan yang sebenarnya tidaklah kompleks,” tuturnya.
Saat diminta menjabat sebagai Dirjen Bimas Islam, hal pertama yang dilakukan adalah menginventarisir program kerja yang tengah berjalan dan memperbaiki apa yang masih membutuhkan perbaikan. Menurutnya, kesinambungan adalah syarat utama bagi birokrasi yang profesional, transparan dan akuntabel.
“Saya tidak akan malu bertanya kepada Prof. Djamil (Dirjen Bimas Islam sebelumnya-red) jika ada yang belum paham. Ini demi kemajuan bersama,” tuturnya saat lepas sambut dengan Dirjen Bimas Islam sebelumnya, Prof. DR. Abdul Djamil, MA.
Rais Syuriah PBNU ini memiliki pandangan yang progresif terkait image building Bimbingan Masyarakat Islam. Menurutnya image building tidak ditujukan demi pencitraan politis, melainkan perubahan secara mendasar menuju perbaikan sehingga dapat menutupi kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat. Seperti hadits Nabi SAW, bahwa setiap keburukan mestinya diikuti dengan kebaikan-kebaikan sehingga dapat menghapus kesalahan-kesalahan dimaksud. Seperti itulah, image building harus memotivasi birokrasi untuk lebih baik dan profesional sehingga tercipta perbaikan yang baik bagi birokrasi.
Sebagai sosok yang dibesarkan oleh kampus Islam dengan pemikiran yang moderat, ada banyak kebijakan yang mencerminkan moderasi Islam, khususnya dalam menyikapi keragaman beragama. Baginya, dialog intra dan antar umat beragama merupakan sebuah keharusan. Dalam dialog, ada prinsip yang beliau ambil dari hadits nabi, bahwa yang mayoritas harus mengayomi minoritas, dan minoritas harus menghormati mayoritas (tidak boleh kurang ajar). Dengan demikian, lanjutnya, berbagai ekses negatif dari keragaman dapat diminimalisir.
Di tengah-tengah kesibukannya memimpin instansi pemerintah, Mantan Dekan Fakultas Adab dan Direktur PPs UIN Kalijaga ini masih menyempatkan mengajar. Baginya, mengajar bukan sekedar tangung jawab, melainkan sebuah hobbi dan memberikan feedback bagi hidupnya.
“Mengajar sudah saya lakukan sejak saya berumur 12 tahun, walaupun tidak terus menerus. Kini seminggu sekali masih mengajar dengan tugas utama memimpin instansi pemerintah,” pungkasnya.
Di tengah arah kebijakan pemerintah terkait peningkatan kualitas bimbingan dan pembinaan keagamaan, Prof. Machasin terus memotivasi seluruh jajaran Ditjen Bimas Islam untuk tetap istiqamah dan berdedikasi dalam memberikan pelayanan dan pembinaan pada masyarakat. Karena apapun yang kita perbuat adalah ibadah. Selamat bekerja Prof! (kangjeje/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



