H. Subhan Nur Mahmud, Lc
Kepala Seksi Naskah Rekaman dan Siaran Keagamaan,
Direktorat Penerangan Agama Islam
--
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang memiliki berjuta-juta rahmat dan ampunan yang tidak tersedia di bulan-bulan selainnya. Bulan Ramadhan dipilih sebagai bulan untuk menjalankan ibadah puasa, dan pemilihan ini disebabkan karena Ramadhan dipilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an.
Secara bahasa, puasa adalah ibadah fisik dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, sehingga ibadah ini sangat dirasakan pengaruhnya secara fisik. Hal yang paling dirasakan bagi orang yang puasa adalah lemahnya tubuh dan terjadinya perubahan aroma bau mulut akibat tidak adanya asupan makanan maupun minuman. Bau mulut yang naik berupa uap akibat dari kekosongan lambung dari makanan ketika berpuasa. Bau mulut ini sangat tidak disukai oleh penciuman manusia, tetapi bernilai baik di sisi Allah karena muncul dari ketaatan dan mencari keridhaan Allah. Sebagaimana darah orang yang syahid akan datang pada hari kiamat, warnanya warna darah tetapi menebarkan wangi minyak misk.
Lalu bagaimana menetralisir bau mulut saat berpuasa? Atau bagaimana menjaga agar napas tetap segar sepanjang berpuasa? solusinya adalah perbanyak tilawah Al Qur’an. Bertilawah di saat berpuasa, selain mendatangkan pahala yang berlipat ganda, juga bisa mengurangi bau mulut. Saat berpuasa potensi bau mulut sangat besar yang disebabkan kekosongan lambung dan ketidak-aktifan proses pengunyahan. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya volume air liur dalam rongga mulut sehingga menyebabkan proses pembersihan dalam mulut pun akan berkurang secara otomatis. Dengan demikian, plak pada permukaan gigi pun akan terus berakumulasi dan bakteri yang terdapat di dalamnya bisa menyebabkan bau mulut yang tidak sedap.
Berkurangnya air liur dalam rongga mulut disebabkan 2 (dua) hal: Pertama, berkurangnya produksi air liur oleh kelenjar liur sehingga aliran air liur ke dalam rongga mulut menjadi berkurang. Kedua, produksi air liur oleh kelenjar liur tetap normal, tetapi aliran air liur ke dalam rongga mulut berkurang. Kondisi berkurangnya produksi air liur oleh kelenjar liur biasanya disebabkan oleh faktor penyakit dan faktor usia lanjut. Sedangkan kondisi berkurangnya aliran air liur ke dalam rongga mulut dapat disebabkan oleh penggunaan obat-obatan tertentu, pemakaian gigi palsu, merokok, dan puasa.
Cara terefektif untuk mengatasi bau mulut saat berpuasa adalah mengaktifkan kelenjar air liur agar terus memproduksi air liur dan meningkatkan alirannya ke rongga mulut. Perlu diketahui bahwa kelenjar air liur terletak di 3 (tiga) tempat, yaitu: di bawah lidah, dekat telinga, dan di ujung rahang bawah. Untuk mengaktifkan kelenjar liur tersebut, terlebih dahulu harus mengaktifkan otot-otot lidah, bibir dan pipi. Cara yang sering digunakan untuk memancing peningkatan aliran air liur ke dalam rongga mulut adalah mengkonsumsi air putih ataupun mengunyah permen karet. Di mana hal itu tidak mungkin dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa. Di sinilah peran tilawah Al Qur’an.
Dalam ilmu tajwid dikenal dengan istilah makharij al-huruf (tempat-tempat keluarnya bunyi huruf) yang terdiri dari syafatain (dua bibir), jauf (rongga mulut), lisan (lidah), dan halqi (tenggorakan). Tilawah Al-Qur’an yang dilakukan secara tartil dengan melafalkan huruf sesuai dengan makhrajnya dapat berperan mengaktifkan otot-otot lidah, bibir, dan pipi. Melafalkan huruf-huruf syafatain (dua bibir) dan lisan (lidah) akan dapat mengaktifkan otot-otot bibir dan lidah. Sedangkan melafalkan huruf-huruf jauf (rongga mulut) dan halqi (tenggorokan) akan mengaktifkan otot-otot pipi. Dengan aktifnya otot-otot tersebut maka kelenjar liur yang terdapat di bawah lidah, dekat telinga, dan di ujung rahang bawah akan aktif memproduksi air liur dan mengalirkannya ke dalam rongga mulut. Bila aliran air liur ke dalam rongga mulut telah meningkat, maka proses pembersihan secara mekanis juga akan terjadi, dan dapat mengurangi bau mulut saat berpuasa.
Inilah rahasia ibadah puasa yang berpadu dengan tilawah Al Qur’an menghasilkan kesehatan mulut yang tetap terjaga. Kondisi mulut orang yang berpuasa akan tetap terjadi perubahan aroma, tetapi tilawah Al Qur’an yang dilakukan dengan benar sesuai tuntunan tajwid dan makhraj dapat meminimalisir terjadinya perubahan aroma tersebut. Inilah kolerasi antara ibadah puasa, bau mulut, dan Al Qur’an yang menjadi solusi terhadap kesehatan mulut sepanjang ibadah puasa. Dan inilah rahasia menjadikan tilawah Al-Qur’an sebagai ibadah yang terbaik setelah ibadah-ibadah wajib di bulan Ramadhan. []
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



