Dr. H. Jamaluddin M. Marki, Lc. M.Si*
Mari kita bersyukur kepada Allah SWT, karena kita masih diberi kekuatan dan kesehatan untuk bersama-sama mengisi bulan Ramadan di tahun ini. Semoga kita termasuk orang-orang yang Allah janjikan keluar dari Ramadan dalam keadaan suci, seperti bayi yang baru keluar dari rahim ibunya.
Mari kita bersyukur kepada Allah SWT, karena kita masih diberi kekuatan dan kesehatan untuk bersama-sama mengisi bulan Ramadan di tahun ini. Semoga kita termasuk orang-orang yang Allah janjikan keluar dari Ramadan dalam keadaan suci, seperti bayi yang baru keluar dari rahim ibunya.
Sebagai umat Islam, sudah sepatutnya kita bersyukur karena selain dipertemukan dengan bulan Ramadan, kita juga masih diberikan hidayah untuk menjalankan salah satu ibadah yang paling agung, yakni PUASA. Dengan izin Allah semua pasti sanggup menjalankannya selama sebulan penuh karena Ramadan sudah dinantikan kehadirannya sejak jauh-jauh hari sebelumnya.
Puasa memang ibadah yang amat istimewa. Puasa Ramadan yang dilakukan satu kali dalam setahun ini begitu mengagumkan. Kedatangannya disambut suka cita, lalu kepergiannya banyak yang menangisi. Bak tamu, puasa Ramadan adalah tamu agung yang telah lama dinantikan kehadirannya oleh segenap umat Muslim di seluruh dunia. Hadirnya bulan Ramadan menjadi suatu bulan yang istimewa bagi umat Islam. Sesuai dengan perintah Allah SWT di bulan Ramadan ini diwajibkan setiap orang orang yang beriman berpuasa sesuai dengan umat terdahulu.
﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣ ﴾ ( البقرة/2: 183)
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah/2:183)
Di bulan ini juga terbuka pintu rahmat, hidayah, dan pengampunan serta di salah satu dari malam Ramadan dijadikan satu malam kemuliaan yang kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan seribu bulan. Di samping sebutan Ramadan sebagai Syahrul Qur’an (bulan diturunkannya al-Qur’an) Syahrul Mubarak (Bulan penuh keberkahan), dan Syahrul Muhasabah (Bulan intropeksi diri), Rasulullah SAW juga menyebut Ramadan sebagai Syahrul Muwasah atau bulan kepedulian sosial. Dinamakan demikian karena pendidikan dan pelatihan di bulan Ramadan sangat komprehensif di mana tidak sekedar kecerdasan emosional-spiritual saja yang ditekankan, tetapi juga kepekaan dan solidaritas sosial.
Ibadah puasa melatih dan mengajarkan seseorang untuk merasakan betapa beratnya haus dan lapar itu. Padahal haus dan laparnya orang yang berpuasa bersifat sementara dan terbatas, yaitu mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Bagaimana halnya dengan orang-orang miskin yang dalam hidupnya serba kekurangan? Sepanjang hidupnya mereka selalu dalam keadaan lapar? Orang yang beriman tidak selayaknya membiarkan mereka dalam keadaan lapar dan haus tersebut secara terus-menerus. Puasa akan melahirkan sikap lebih menyayangi si miskin dan bersikap lemah lembut terhadap sesama dan berbuat baik kepada mereka.
Dengan puasa, seseorang akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang fakir dan miskin yang penuh kekurangan. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang mereka rasakan. Dalam ibadah puasa ditanamkan, bahwa kita adalah bagian dari mereka dan mereka pun adalah bagian dari kita. Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis riwayatkan Imam Bukhari:
مثل الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta dan kasih sayang di antara mereka bagaikan tubuh yang satu, apabila ada anggota (tubuh) yang merasa sakit, maka seluruh anggota yang lainnya merasa demam dan tidak bisa tidur.”
Dengan puasa, akan lahir kecerdasan sosial, dalam pengertian selalu memiliki rasa empati, simpati, dan selalu ingin menolong orang yang mengalami kesulitan dalam kehidupannya. Kecerdasan sosial ini akan menghilangkan sifat egois, kikir dan materialis, dan digantinya dengan sifat kedermawanan.
Orang yang memiliki kecerdasan sosial tinggi, yang terwujud dalam sikap kedermawanan, akan mendapatkan anugerah kedekatan dengan Allah SWT dan dengan sesama manusia. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki kepedulian sosial dan bakhil akan mendapatkan azab, jauh dari Allah dan jauh dari manusia. Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah Saw bersabda:
السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ ، وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنَ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنَ الْجَنَّةِ ، وَالْجَاهِلُ السَّخِيُّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْعَابِدِ الْبَخِيلِ.
“Orang yang pemurah itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Dan orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang yang jahil (bodoh) tapi pemurah, itu lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah tapi bakhil.”
Di antara peningkatan kecerdasan sosial, di dalam bulan puasa adalah perintah mengeluarkan zakat fitrah. Kewajiban ini semakin menyempurnakan dimensi sosial dari ibadah puasa. Karena, tanpa zakat, pahala puasa kita belum sampai kepada Allah. Ia masih bergantung dan berputar-putar di atas langit. Artinya, Allah SWT tidak menerima amal ibadah seseorang yang hanya mengutamakan kepentingan individualnya saja, sekadar mensalehkan diri sendiri tetapi lalai terhadap kewajiban sosial.
Dari semangat puasa inilah, kita dilatih dan dididik untuk menjadi the giver (sang pemberi), bukan peminta-minta _(the taker)_. Al-Qur’an sendiri telah memberikan tuntunan kepada siapa saja kita harus memberikan zakat. Ada delapan golongan yang berhak di santuni. Sebagaimana firman Allah:
﴿ ۞ اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ٦٠ ﴾ ( التوبة/9: 60)
"Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah/9:60).
Mengapa harus kepada mereka? Islam menekankan aspek keadilan sosial dan ekonomi. Orang-orang yang disebutkan dalam delapan golongan tersebut ada yang masuk dalam kategori lemah secara ekonomi, yakni fakir dan miskin. Kemiskinan tentu bukan keinginannya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya, sebagai orang yang memiliki kelebihan harta turut membantu, meringankan dan menguatkan semangat hidup mereka. Kelompok ini harus diprioritaskan. Selain itu, hamba sahaya serta orang-orang yang memiliki banyak hutang juga merupakan kelompok prioritas setelah fakir miskin.
Kategori kedua adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah, fisabilillah. Pemberian zakat kepada mereka karena dedikasinya terhadap agama Allah. Mereka yang siang dan malamnya tak lelah membumikan nilai-nilai ketuhanan, mendidik dan mengajarkan ilmu agama. Para fisabilillah penerima zakat saat ini dapat berupa organisasi masyarakat Islam di kota-kota besar, proyek pembangunan masjid, maupun syiar Islam di daerah terpencil.
Mualaf juga termasuk orang yang berhak menerima zakat untuk mendukung penguatan iman dan takwa mereka dalam memeluk agama Islam. Zakat yang diberikan kepada mualaf memiliki peran sosial sebagai alat mempererat persaudaraan sesama muslim. Sementara itu, amil atau pengelola zakat adalah kelompok terakhir yang berhak menerima zakat apabila tujuh kelompok lainnya sudah mendapatkan. Inilah pengajaran Ramadan yang secara khusus ditujukan kepada orang beriman.
Semoga puasa ini semakin mengeratkan tali persaudaraan sesama muslim-muslimat. Jadikanlah, bulan Ramadan ini momentum untuk melatih diri menjadi orang yang bertakwa: cerdas imannya, cerdas kepekaan sosialnya, dan cerdas ibadahnya. Kita berdoa semoga Allah tetap memberikan kekuatan dan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan ibadah puasa yang baik dan sukses meraih gelar muttaqin.
*Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam



