Bengkulu, bimasislam— Berita korban kekerasan seksual dan pembunuhan terhadap ABG berusia 14 tahun bernama YY oleh kawanan anak-anak muda dan remaja tanggung mengguncang jagat nusantara beberapa waktu lalu. Mungkin bukan ini saja peristiwa serupa terjadi. Beberapa hari kemudian juga terjadi berita yang sama di Menado, dan juga pembunuhan terjadap mahasiswi di Yogyakarta. Yang membuat semua orang geram adalah karena dilakukan di sebuah desa, yang jauh dari perkotaan, dan dilakukan oleh begitu banyak orang hingga membunuhnya dnegan cara sadis.
Kementerian Agama, khususnya Bimas Islam merasakan kesedihan yang mendalam, karena terkait dengan fenomena generasi masa depan. Sebagai wujud dari rasa empati Kemnetreian Agama, Direktur Pemberdayaan Wakaf Ditjen Bimas Islam, Suardi Abbas, bersama Pgs Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu Bustasar, Kepala Kankemenag Rejang Lebong, dan Kepala Kankemenag Kepahyang mengunjungi keluarga korban (almh) YY, di Rejang Lebong, Minggu (08/05).
Suasana duka masih menyelimuti keluarga almarhumah. Kehadiran wakil Kemneterian Agama diterima orang tua Yuyun, kepala dusun, serta imam dan khatib masjid setempat. Selain menyampaikan rasa duka mendalam dan keprihatinan, Suardi Abbas memberikan santunan sebagai wujud empati yang mendalam atas nama Kemenag RI kepada keluarga (almh) Yuyun.
Dalam kesempatan itu, Kepala Kankemenag Kepahyang Paiman Sholihin yang juga hadir membacakan puisi karya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bertajuk “Nyala Untuk Yuyun”. Bait demi bait dibacakan mengantar kesedihan semua yang hadir di rumah sederhana keluarga almarhumah.
Menurut Suardi, kunjungannya sebagai rasa empati yang mendalam. “Kami berkunjung ke rumah orang tua Yuyun, sebagai wujud empati dengan memberikan santunan,” jelas Suardi Abbas.
Kunjungan rombongan Direktur Pemberdayaan Wakaf beserta diakhiri dengan berziarah dan berdoa di makam almarhumah. Menurut Suardi, setelah empat puluh hari, Kemenag akan menyiapkan batu nisan untuk dipasangkan di makam Yuyun. Dalam kunjungan ini, mereka juga sempat meninjau lokasi ditemukannya jenazah Yuyun yang berjarak sekitar 500 meter dari pemakaman.
NYALA UNTUK YUYUN
Tragedi Yuyun adalah puncak gunung es
Korban kekerasan seksual yang mengenaskan
Banyak kasus serupa yang tak terlaporkan
Luput dari kita punya perhatian
Yuyun juga bukan satu-satunya pihak korban
Tanpa mengecilkan kebejatan dan kebiadaban
Para pelaku pun sesungguhnya juga korban
Mereka semua korban dari lingkaran setan
Jeratan berkelindan rantai kemiskinan
Pada kasus di Bengkulu yang begitu menghentak
Semua pelaku adalah remaja yang habiskan waktu dengan arak dan tuak
Anak-anak putus sekolah yang kehilangan akal sehat
Melampiaskan energinya dengan berbuat jahat
Kondisi orang tua dan lingkungan setempat tak kalah kusut
Terhimpit beban hidup yang silang sengkarut
Ditambah pengabaian dan pembiaran elit
Kompleksitas persoalan menjadi begitu komplit
Maka kita semakin dituntut menghapus biang keladi masalah
Segala kemiskinan dan kebodohan haruslah enyah
Berdayakan remaja agar produktif di dalam dan luar sekolah
Kegiatan keagamaan, olahraga, seni, budaya, sosial, dan ilmiah
Mesti diperbanyak dan dikemas menarik sampai ke daerah-daerah
Tingkatkan fasilitasi remaja beraktifitas positif dan terarah
Kasus Yuyun makin nyalakan sinyal bahaya bagi remaja kita
Remaja putri dibayangi ancaman kekerasan seksual teramat sadis
Trauma seumur hidup atau berujung kematian tragis
Remaja putra diintai bahaya pornografi dan miras yang sarat mudarat
Membuat mereka mati nalar jadi nekat berbuat jahat dan bejat
Sinyal bahaya itu harus kita seriusi dengan lima hal
Hukum pelaku dengan sanksi berat yang cerminkan keadilan
Perkuat ketahanan keluarga sebagai jaring pengaman sosial dan moral
Batasi akses pornografi dan miras bagi remaja
Perbanyak aktivitas pendidikan keremajaan
Hindari cara pandang misoginis dengan meningkatkan kepekaan lingkungan atas potensi kekerasan terhadap anak dan perempuan
Selama ini kaum perempuan diposisikan sebagai biang masalah
Perempuan yang jadi korban kekerasan seksual justru dipersalah
Upaya pencegahan hanya fokus pada satu sisi berat sebelah
Intinya perempuan dilarang mengundang nafsu pria
Ini seperti penggembala yang diminta
Agar dombanya jangan menggoda serigala
Padahal dalam kasus Yuyun yang begitu pilu
Korban sama sekali tak hendak mengundang nafsu
Mempersoalkan baju yang ia pakai menjadi amat keliru
Ia dalam perjalanan pulang dari kegiatan mulia mencari ilmu
Rute yang dia tempuh pun sudah biasa dia tahu
Ia sama sekali bukan penyebab tragedi seperti yang dituduhkannya itu
Belajar dari kasus ini
Cara lebih adil menekan risiko terjadi
Adalah dengan massif menanamkan kesadaran diri
Bahwa kapan dan dimanapun anak dan perempuan wajib dilindungi
Juga perlu dicari apa penyebab liarnya nafsu syahwat penuh dengki
Hingga hilang kewarasan berbuat jahat bejat tak manusiawi
Bila ternyata pemicunya adalah miras dan pornografi
Penyalahgunaan dua hal ini harus pula dibasmi
Kasus ini sungguh menampar kita semua
Menyadarkan betapa tugas memanusiakan manusia
Menjadi semakin tak sederhana
Yuyun sayang
Kamu telah berpulang
Kembali kepadaNya dalam dekapan kasih sayang
Kematianmu tak boleh sia-sia
Kita di sini akan terus berjaga
Nyala perlindungan anak dan perempuan harus tetap dan terus mengada..
Kamis, 5 Mei 2016
Lukman Hakim Saifuddin
(thobib/mkd/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



