Berau, bimasislam – Perjalanan yang ditempuh oleh Ustazah Salmah dar rumahnya ke satu titik penyuluhan cukup melelahkan. “Tapi rasa capek hilang ketika kami melihat mereka senang dan bahagia menerima kedatangan kami,” katanya.
Pertengahan September 2017 lalu, Salmah yang pada 2010 mendapatkan penghargaan sebagai salah seorang penyuluh teladan tingkat nasional menceritakan pengalamannya menyuluh di daerah terluar Indonesia yang berbatasan dengan wilayah Filipina.
“Saya memang lebih suka (melakukan penyuluhan) di kampung-kampung,” katanya. “Kami meresa perihatin tempat mereka jauh dan kurang mendapat siraman rohani,” tambahnya.
Apalagi ketika ada warga yang meminta dengan sangat agar dirinya datang sesering mungkin. Terkadang ada dai yang datang pada musim kampanye legislatif atau pemilihan kepala daerah, namun setelah itu mereka tidak pernah kembali lagi. Maka penyuluh yang mendapatkan tugas dari Kementerian Agama tidak boleh seperti itu. Mereka harus selalu hadir di tengah masyarakat yang ingin belajar dan mengamalkan agama Islam.
Karena perjalanan cukup lama dan melelahkan, sekaligus menjenuhkan, para penyuluh tidak berrangkat sendirian. Apalagi untuk penyuluh perempuan. Maka ada beberapa penyuluh yang berangkat dalam satu tim.
“Kami jalan berempat. Ada saya. ibu Yuli Hartati, Ibu Mamhudah, dan Ibu Raminah,” kata Salmah yang juga Ketua Pokjahulu Kantor Kemenag Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Salmah bertugas untuk wilayah Kecamatan Maratua. Dari Kantor Kemenag Berau, Kalimantan Timur, perjalanan darat ke satu titik ditempuh selama 5-6 jam. Jika ia dan rombongan berangkat dari pukul 6 pagi, lalu sampai di tempat penyuluhan, maka kira-kira pukul 11 malam ia baru sampai ke rumah bersama keluarga.
“Medannya lumayan. Itu baru satu titik. Kalau melanjutkan ke titik lain, harus bermalam. Maka kadang-kadang baru bisa ke satu titik dua minggu sekali saja,” katanya.
“Kalau ia melanjutkan ke Pulau Maratua, mengendarai speedboat, butuh waktu perjalanan laut selama 3 jam. Kalau naik kapal kapal malah butuh waktu satu hari dan harus menginap,” katanya.
Pulau Maratua ini lebih luas dari pulau Derawan. Ada Empat kampung atau kelurahan di sana. Untungnya, di kecamatan Maratua sudah ada 11 penyuluh agama (PAH) non PNS yang meringankan beban para penyuluh, meskipun disiplin ilmu agama mereka beragam.
Dari Pulau Maratua masih ada kampung lagi yang terpencil di tengah laut. Namanya Kampung Teluk Alulu. Para penyuluh harus menyewa speedboat lagi untuk melanjutkan perjalanan. Ini pulau yang terjauh dan cukup dekat dengan Filipina.
Jika hanya mengandalkan dana operasional dari Kementerian Agama, dana sebulan mungkin hanya habis untuk satu kali perjalanan.
Untungnya keluarga Salmah sangan mendukung dan mengerti betul tugas yang dikerjakannya. Kebetulan suaminya adalah seorang penghulu dan sangat memahami aktivitas istrinya.
Apa suka cita yang paling berkesan ketika menyuluh di wilayah terluar? Kata Salmah, ketika tim penyuluh sudah sampai di tempat penyuluhan, dan orang-orang kampung terlihat sangat sangat merespon, itulah suka citanya.
“Ketika kita melihat mereka sangat haus butuh bimbingan dan kita hadir di tempat itu, maka rasa lelah kita langsung hilang. Dengan kuasa Allah, ketika kita berada di jalan-Nya, insyaallah kita akan dimudahkan,” kata Salmah.
(anam/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



