Jakarta, Bimas Islam— Pendakwah muda Habib Husein Ja’far mengungkapkan, ekoteologi bukan sekadar opsi dakwah, melainkan kewajiban yang harus dijalankan umat Islam. Pernyataan itu disampaikan Habib Ja'far saat menjadi narasumber pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Ia mengingatkan, saat ini umat Islam menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. “Kita tidak bisa lagi memisahkan iman dengan alam. Ketika bumi rusak, iman pun ikut terganggu,” ujarnya.
Menurutnya, ekoteologi menjadi titik temu antara ajaran agama dan realitas lingkungan. Ia menyebut, dakwah yang tidak membahas isu lingkungan akan kehilangan relevansi bagi generasi muda. “Generasi milenial dan Gen Z tidak hanya mencari pesan spiritual, tetapi juga solusi nyata atas persoalan kehidupan mereka,” kata Habib Ja'far.
Ia mengatakan, dakwah tidak cukup berhenti pada ceramah. Ekoteologi harus diterjemahkan dalam tindakan nyata, seperti pengurangan sampah, hemat energi, dan pengelolaan sumber daya secara bijak. “Dakwah itu harus bergerak, bukan hanya di bibir. Ketika kita menjaga lingkungan, kita sedang menjaga amanah dari Allah,” tegasnya.
Ia mencontohkan bagaimana pesan keagamaan dapat dikaitkan dengan gaya hidup yang ramah lingkungan. Ia menekankan, perilaku sederhana dan tidak berlebihan adalah bagian dari etika beragama. “Kita tidak perlu hidup mewah untuk terlihat saleh. Yang penting adalah keseimbangan dan kesadaran,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyatakan bahwa masjid harus menjadi pusat gerakan ekoteologi. Menurutnya, masjid tidak hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang pendidikan dan pusat penggerak perubahan sosial. “Masjid harus menjadi pusat kampanye hidup ramah lingkungan, dari pengelolaan sampah hingga penggunaan energi yang efisien,” katanya.
Habib Ja'far juga menyinggung peran umat dalam menjaga lingkungan melalui ekonomi berbasis keadilan. Ia menilai, ekonomi yang hanya berorientasi pada keuntungan tanpa memperhatikan dampak sosial dan lingkungan akan merusak tatanan kehidupan. “Ekonomi harus berkeadilan dan berkelanjutan. Kalau tidak, kita hanya membangun dunia yang rapuh,” ujarnya.
Dalam paparan tersebut, ia mengajak seluruh peserta Rakernas untuk memetakan strategi dakwah yang sesuai dengan konteks zaman. Ia menekankan pentingnya memadukan dakwah tradisional dengan pendekatan digital agar pesan ekoteologi dapat menjangkau masyarakat luas. “Dakwah digital bukan sekadar tren. Ini adalah kebutuhan agar pesan agama tetap relevan,” katanya.
Habib Ja'far juga mengingatkan pentingnya integritas dalam membangun relasi dengan generasi muda. Ia menyebut bahwa generasi milenial dan Gen Z sangat sensitif terhadap ketidaksesuaian antara kata dan tindakan. “Jika kita menyampaikan pesan lingkungan, maka kita harus menjadi contoh. Jangan hanya mengajak, tetapi kita sendiri tidak menjalankan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Kementerian Agama harus terus menguatkan literasi lingkungan di kalangan masyarakat. Menurutnya, literasi ini tidak hanya berupa pengetahuan, tetapi juga kesadaran dan tindakan. “Ketika masyarakat memahami dampak kerusakan lingkungan, maka perubahan perilaku akan terjadi,” katanya.
Ekoteologi, menurutnya, adalah bagian dari upaya membangun umat masa depan yang beradab dan berdaya. "Jika kita ingin umat masa depan kuat, maka kita harus membangun generasi yang peka terhadap alam dan mampu menjaga bumi sebagai amanah," ujarnya.
Rakernas Bimas Islam 2026 dihadiri Wakil Menteri Agama Romo H. R. Muhammad Syafi’i, Ketua Komisi VIII DPR RI periode 2024–2029 Marwan Dasopang, Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad, dan seluruh pimpinan di lingkungan Bimas Islam Kemenag.
Rakernas ini menjadi wadah konsolidasi program dan anggaran yang berfokus pada pencapaian Asta Protas Kementerian Agama dan menindaklanjuti agenda Rakernas Kemenag. Kegiatan ini diadakan pada 22–23 Januari 2026 dengan tema besar “Menyiapkan dan Melayani Umat Masa Depan” dan tagline Terwujudnya Implementasi Perilaku Ekoteologis di Indonesia.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



