Jakarta, Bimas Islam — Ketua Komisi VIII DPR RI periode 2024–2029, Marwan Dasopang, mengatakan, arah pembangunan nasional tidak boleh dilepaskan dari nilai kemanusiaan dan agama. Menurutnya, pembangunan yang hanya bertumpu pada aspek teknokratis berisiko kehilangan ruh dan tujuan dasarnya, yaitu memuliakan manusia dan menjaga keberlanjutan kehidupan.
“Pembangunan itu harus kita letakkan pada nilai kemanusiaan. Ketika pembangunan dibangun dari nilai kemanusiaan yang benar, maka hasilnya akan membawa kebaikan bersama,” ujar Marwan saat memberi sambutan pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Tahun 2026, yang digelar di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Marwan mengungkapkan kecenderungan pembangunan yang memisahkan dimensi manusia dengan nilai spiritual. Ia menilai, ketika pembangunan dilepaskan dari fondasi moral dan keagamaan, maka dampak yang muncul justru ketimpangan dan kerusakan, termasuk terhadap lingkungan hidup.
“Orang hari ini banyak bicara soal ekologi, membangun harmoni antara manusia dan bumi. Tapi kalau itu hanya dibangun dari pemikiran manusia semata, tanpa nilai agama, hasilnya justru kerusakan alam yang besar,” tegasnya.
Ia mengingatkan, dalam perspektif keagamaan, manusia bukanlah penguasa mutlak atas bumi, melainkan penjaga yang diberi amanah. Karena itu, pengelolaan alam harus dilandasi kesadaran etis dan tanggung jawab spiritual, bukan semata kepentingan kekuasaan dan keuntungan.
“Manusia sering merasa menjadi raja di bumi, lalu sesuka hati mengelola alam. Padahal dalam pemahaman agama, manusia adalah makhluk yang diberi amanah, bukan penguasa yang bebas berbuat apa saja,” kata Marwan.
Marwan juga merefleksikan berbagai peristiwa bencana yang berulang dalam sejarah umat manusia. Ia menyebut, kisah-kisah umat terdahulu dalam tradisi keagamaan memberikan pelajaran penting tentang hubungan antara perilaku manusia, nilai iman, dan konsekuensi sosial maupun ekologis.
“Kalau kita bicara bencana hanya dari sisi ekologi, itu tidak cukup. Kita harus melampaui ekologi dan melihat akar persoalannya, yakni bagaimana nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan dijalankan,” ujarnya.
Dalam konteks kekinian, ia menilai kerusakan lingkungan yang masih terjadi menunjukkan lemahnya komitmen moral dalam pembangunan. Menurutnya, iman tidak cukup berhenti pada keyakinan personal, tetapi harus tercermin dalam sikap dan kebijakan yang menjaga kehidupan bersama.
“Yang paling lemah itu bukan hanya iman secara lisan, tapi iman dalam tindakan. Ketika alam dirusak, dampaknya kembali ke manusia sendiri,” ungkapnya.
Marwan menyebut, pembangunan berbasis agama bukan berarti menafikan kemajuan teknologi. Justru sebaliknya, teknologi harus diarahkan dan dipandu oleh nilai-nilai dasar keagamaan agar benar-benar membawa kemaslahatan.
“Teknologi itu penting, tetapi harus berbasis nilai. Nilai-nilai agama menjadi fondasi agar teknologi tidak kehilangan arah dan tetap berpihak pada kemanusiaan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya persatuan dan kesadaran kolektif dalam membangun bangsa. Menurutnya, pesan-pesan agama tentang persatuan dan tanggung jawab sosial harus terus dihidupkan melalui kebijakan dan program nyata.
“Kalau nilai agama dan persatuan ini bisa kita gerakkan bersama, saya yakin kita bisa menghadapi berbagai tantangan ke depan,” ucap Marwan.
Dalam kesempatan tersebut, Marwan menjelaskan posisi Komisi VIII DPR RI sebagai mitra strategis Kementerian Agama. Ia menyatakan komitmennya untuk terus mendukung program-program pelayanan keagamaan yang berorientasi pada penguatan nilai dan kemaslahatan umat.
“Komisi VIII adalah mitra Kementerian Agama. Kami akan terus mendukung kerja-kerja pelayanan keagamaan yang membawa pesan-pesan keutamaan dan nilai-nilai Tuhan dalam kehidupan masyarakat,” tandasnya.
Rakernas Ditjen Bimas Islam Tahun 2026 ini diikuti seluruh pimpinan dan jajaran Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Kegiatan ini juga dihadiri Wakil Menteri Agama Romo H. R. Muhammad Syafi’i, serta para pejabat dan pemangku kepentingan bidang layanan keagamaan Islam.
Rakernas Bimas Islam 2026 digelar secara hybrid dan diikuti 10.000 peserta. Kegiatan ini berlangsung hingga Jumat (23/1) dan mengusung tema besar “Menyiapkan dan Melayani Umat Masa Depan” dengan tagline “Terwujudnya Implementasi Perilaku Ekoteologis di Indonesia” sebagai komitmen memperkuat layanan keagamaan yang berkelanjutan, humanis, dan berlandaskan nilai-nilai agama.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



