Oleh:
Jamaluddin M. Marki*
Momentum Bulan Ramadan adalah fase penting bagi setiap muslim dalam mengikhtiarkan diri guna meraih derajat kemuliaan. Pada bulan tersebut setiap muslim berlomba-lomba menguji dan menasbihkan diri dalam ragam pengabdian kepada Allah Swt. Memasuki Ramadan 1422 H atau 2021 M ini, ada hal yang spesial dan tak terhindarkan yang dijalani kembali oleh umat Islam di Indonesia, dan juga bahkan dunia, yakni masa dimana kali kedua suasana pandemi covid-19 mengakrabi-melanda. Di tahun kedua masa pandemik ini kegiatan Ramadan selain wajib diimbangi terus menerus dengan penguatan sistem imun saat berpuasa secara personal, juga harus dibarengi dalam pelaksanaan ibadah (yang bersifat berjamaah) dengan penyelarasan protokol kesehatan, hal tersebut sebagaimana tertuang dalam SE No. 4 Menag tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H / 2021 M.
Syahdan, keistimewaan Ramadan meski berada di bawah kabut tebal masa pandemik namun ghalibnya ikhtiar meraih kemuliaan yang melekat bersamanya tak boleh menyebabkan kendornya kualitas peribadatan sedikitpun, melainkan justru harus menambah daya uji guna mencapai derajat ketakwaan dan kemuliaan yang lebih baik lagi.
Ikhtiar untuk tetap dapat menggapai maqam kemuliaan Ramadan serta mengantisipasinya dari dampak negatif penyebaran Covid-19, umat Islam lazimnya bisa menjadikan tadarus Al-Qurán sebagai satu bentuk ‘gacoan’ ibadah.
Tadarus Al-Qurán di bulan Ramadan menjadi sangat spesial, karena tidak hanya semata mengabadikan konteks waktu diturunkannnya Al-Quran namun juga menjadi ladang amal kebaikan yang dapat saling memengaruh antar para pembaca di tanah air. Bulan Ramadan yang dikenal sebagai bulannya Al-Qur’an turut diperkuat dalam firman Allah SWT, yang berbunyi, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al Baqarah : 185)
Berdasarkan ayat tersebut, sudah saatnya umat Islam mengisi amaliah bulan Ramadan dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Banyak hadist Rasulullah yang menjelaskan keutamaan keutamaan membaca Al-Qur’an, di antaranya adalah “Siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” ( HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)
Bahkan sosok Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin, menjelaskan tujuh keutamaan dalam membaca sekaligus mengkhatamkan Al-Qur’an, antara lain:
Pertama, Al-Qur’an kelak akan menjadi syafaat atau penolong di hari kiamat untuk para pembacanya. Dari Abu Amamah RA, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat.” (HR. Muslim);
Kedua, manusia yang mempelajari Al-Qur’an merupakan sebaik-baiknya manusia. Dari Usman bin Affan RA, Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Tirmidzi);
Ketiga, untuk orang-orang yang mahir membaca Al-Qur’an, maka kelak ia akan bersama para malaikat-Nya. Dari Aisyah ra, berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka kelak ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat kepada Allah.” (HR. Bukhari Muslim);
Keempat, untuk mereka yang belum lancar dalam membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an, tidak boleh bersedih, Sebab Allah tetap berikan dua pahala. Rasulullah bersabda, “Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim);
Kelima, Al-Qur’an dapat meningkatkan derajat kita di mata Allah. Dari Umar bin Khatab ra. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT. akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dengan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim);
Keenam, Allah akan menurunkan ketenangan, rahmat dan memuji suatu kaum yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, serta malaikat akan melingkarinya. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan mereka dilingkupi rahmat Allah, para malaikat akan mengelilingi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-Nya yang berada didekat-Nya (para malaikat).” (HR. Muslim)
Dan ketujuh, Mengkhatamkan Al-Qur’an adalah amal yang paling dicintai Allah. Dari Ibnu Abbas RA, beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi:2872, Sunan Tirmidzi, Bab maa jaa-a annal-Qur’an unzila ‘alaa sab’ati ahruf, juz 10, hal.202)
Batas Waktu Minimal
Setiap kali memasuki bulan Ramadan, selain fokus untuk menjalani ibadah shaum dan ibadah lainnya, fokus para shaimin adalah kembali bagaimana meluangkan waktu untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan suatu ibadah yang utama. Untuk mengkhatamkannya, harus senantiasa rutin membaca Al-Qur’an di tengah kesibukan harian masing-masing kita, mengatur cara bagaimana minimal bisa khatam dalam bulan suci Ramadan.
Namun, meskipun mengkhatamkan Al-Qur’an adalah sebuah amalan yang utama, Rasulullah Saw tetap memberikan batasan waktu minimal. Beliau melarang untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari, sebagaimana hadits dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Rasulullah Saw, beliau berkata, “Puasalah tiga hari dalam satu bulan.” Aku berkata, “Aku mampu untuk lebih banyak dari itu, wahai Rasulullah.” Namun beliau tetap melarang, hingga akhirnya beliau mengatakan, “Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan bacalah Al-Qur’an (khatamkanlah) dalam sebulan.” Aku berkata, “Aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?” Beliau terus melarang hingga batas tiga hari. (HR. Bukhari)
Mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari, ditakutkan pembacanya tidak bisa memahami dan menghayati kandungan dari Al-Qur’an Dari Ibnu Abbas RA, beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi).
Tips dan Trik Khatam Al-Qur’an
Ada beberapa tips dan trik agar dapat mengkhatamkan al-Qur’an di bulan Ramadan. Tips Pertama, Menggunakan Jumlah Juz dalam Mushaf Al-Qur’an. Caranya gunakan Mushaf Al- Qur’an yang dicetak per-juz, biasa disebut mushaf khataman. Satu juz berisikan 11 lembar atau 22 halaman. Gunakan sistem target, jika 1 hari dibaca 1 juz dalam sebulan akan khatam. Mushaf Al-Qur’an terdiri dari 30 juz yang panjangnya bervariasi, jadi target yang harus dicapai adalah membaca 1 juz setiap hari.
Tips Kedua, menggunakan Jumlah lembar dalam tiap Juz Al-Qur’an; apabila dirasakan berat untuk menamatkan 1 juz di satu waktu (misalnya ba’da tarawih/atau ba’da Subuh), dapat dipertimbangkan tips yang satu ini, yaitu dengan membagi jumlah lembar dalam 1 juz kemudian dibaca setiap selesai shalat wajib. Mushaf Al-Qur’an yang umum beredar di Indonesia, rata-rata dalam 1 juz terdapat 9-10 lembar (ada juga yang lebih). Sebagai contoh jika dalam juz pertama terdapat 10 lembar, kemudian dibagi dengan 5 (waktu shalat), maka tiap selesai shalat hanya akan membaca 2 lembar saja. Lebih enteng bukan? dan pastinya si pembaca juga merasa tidak terlalu berat dan tetap bisa menamatkan 1 juz per hari. Silahkan diatur saja dalam membagi jumlah lembar tiap juz lainnya dengan 5 waktu shalat.
Tips Ketiga, menggunakan jumlah lembar (halaman) Mushaf Al-Qur’an; Jumlah halaman pada mushaf Al-Qur’an berbeda-beda. Sebagai contoh adalah Mushaf Al-Qur’an yang jumlah halamannya sebanyak 604 halaman seperti Mushaf Al-Quran Standar Indonesia (MSI) yang di cetak oleh Unit Percetakan Al-Qur’an Kementerian Agama. Agar bisa khatam hingga akhir bulan Ramadan ini (jumlah hari 29), maka tiap hari harus membaca 21 s/d 22 halaman (604 halaman: 29 hari = 20.83 halaman). Dan ini bisa dibaca dengan variasi waktu kapan pun dalam 1 hari tersebut, dengan target 21 halaman perhari harus tercapai. Jika tidak bisa menyelesaikan 11 lembar (21 halaman) sekaligus, sebaiknya bawa selalu mushaf Al-Qur’an (atau gunakan aplikasi Al-Qur’an Digital pada smart phone) dan manfaatkan waktu-waktu luang. Misalnya: Saat jam istirahat Kantor/Sekolah; saat macet di jalan atau menunggu angkutan umum atau di dalam kendaraan dan sebagainya.
Bagaimana kalau Ramadan tidak genap 30 hari tapi 29 hari? untuk memudahkan, silahkan pada hari ke 29 segera selesaikan 2 juz dalam 1 hari. Dengan bacaan tartil bisa selesai dalam waktu ± 1 jam. Kalau dicicil berarti tiap habis shalat pada hari ke 29 digandakan menjadi 9–10 halaman.
Bagaimana untuk wanita yang karena halangan, mungkinkah bisa mengkhatamkan Al-Qur’an? Memang tidak semudah bagi lelaki untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sebulan. Ada sedikit tips bagi wanita yang ingin dapat menngkhatamkan Al-Qur’an, seperti dalam narasi berikut: Jika tamu datang di awal Ramadan, maka sangat mudah bagi wanita tersebut mengkhatamkan Al-Qur’an. Silahkan dihitung saja sisa hari yang di mana wanita tersebut dapat membaca Al-Qur’an. Jika wanita tersebut tidak tahu kapan tamu datang, maka usahakan membaca lebih dari 1 Juz perhari. Misalkan 1,5-2 Juz. Semakin banyak semakin bagus. Ini sebagai simpanan, jika tiba-tiba tamu tersebut tak kunjung berakhir.
Kuncinya sebenarnya lebih kepada niat masing-masing individu. Jika memang berniat betul-betul ingin mengkhatamkan Al-Qur’an, dengan izin Allah pasti bisa tercapai. Semakin banyak lagi halaman Al-Qur’an yang bisa dibaca, otomatis bisa lebih cepat mengkhatamkan Qur’an.
Apabila memiliki waktu lebih luang misalnya waktu weekend (sabtu-minggu) Ada baiknya juga membaca Terjemahan atau Tafsirnya atas Ayat-Ayat yang telah dibaca selama seminggu.
Sunnah dalam Teknis Mengkhatamkan Al-Qur’an
Bagaimana teknis mengkhatamkan Al-Qur’an sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw?. dalam menjawab hal tersebut dapat disimpulkan dari perlakuan sahabat Nabi. Adalah Anas bin Malik, beliau memiliki kebiasaan apabila telah mendekati akhir (khatam) dalam membaca Al-Qur’an, beliau menyisakan beberapa ayat untuk mengajak keluarganya guna mengkhatamkan bersama.
Dari Tsabit al-Bunnani, beliau mengatakan bahwa Anas bin Malik jika sudah mendekati dalam mengkhatamkan Al-Qur’an pada malam hari, beliau menyisakan sedikit dari Al-Qur’an, hingga ketika subuh hari beliau mengumpulkan keluarganya dan mengkhatamkannya bersama mereka. (HR. Darimi)
Hikmah yang dapat dipetik dari hadits Anas di atas, adalah bahwa ketika akan mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa kepada Allah. Dengan mengumpulkan seluruh anggota keluarga, akan dapat memberikan berkah kepada seluruh anggota keluarga. Karena, semuanya berdoa secara bersamaan kepada Allah mengharapkan rahmat dan berkah dari-Nya.
Dan bersama kehadiran Ramadan pada masa Pandemik di tahun kedua ini, tiga langkah peribadatan umat Islam senantiasa saling berjalan seiringan, antara menikmati kesyahduan beribadah secara lebih personal baik dengan membaca-mentadaburi Al-Quran, menjalani sunyinya fase kedahagaan dan rasa lapar, maupun dalam menggapai berkah kemuliaan dengan saling berbagi perhatian dan mewujudkan sikap kedermawanan antar sesama.
Semoga keberkahan Ramadan senantiasa meliputi aktifitas peribadatan dan kehidupan kita semua.
*Kepala Unit Percetakan Al-Qur’an



