Oleh:
M. Fuad Nasar*
Saya membuka kembali koleksi bundelan majalah Suara Masjid edisi perdana No 1, Ramadhan 1394 H/Oktober 1974, Penerbit Yayasan Al-Hilal Ikatan Masjid Indonesia (IKMI) Jalan Kramat Raya 45. Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Syarbaini Karim dan Tata Usaha Ramlan Mardjoned.
Sejak era 1980-an dalam Dewan Redaksi Suara Masjid terdapat nama-nama besar seperti: Mohammad Natsir, M. Yunan Nasution, Prof. Osman Raliby, Dr. Anwar Harjono, K.H. Hasan Basri, Nawawi Dusky, H. Mawardi Noor, SH, M. Sabri Munier, K.M.S. Agustjik, Dr. Fuad Moh Fachruddin. Sekretaris Redaksi Suara Masjid sejak 1980-an adalah Natsir Zubaidi yang selanjutnya menjadi Ketua Penyunting/Penanggung Jawab. Dalam susunan redaksi yang diperbarui, Ramlan Mardjoned sebagai Pemimpin Usaha, dan terakhir Ketua Pengarah sampai Suara Masjid berhenti terbit sekitar tahun 1990-an. Sementara itu Wakil Pimpinan Umum/Pimpinan Usaha, terakhir sebagai Penyunting Pelaksana Suara Masjid, adalah Moch Lukman Fatahullah Rais.
Dalam penerbitan majalah Media Dakwah yang diterbitkan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sejak sekitar 1978, dengan Pelaksana Penerbitan H.S.M. Sjaaf, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi H. Buchari Tamam, Ramlan Mardjoned menjalankan amanah sebagai Pemimpin Usaha. Dewan Redaksi Serial Media Dakwah terdiri dari tokoh-tokoh Dewan Dakwah, yaitu M. Natsir, Mr. Moh Roem, Prof. Dr. H.M. Rasjidi, Prof. Osman Raliby, H.M. Yunan Nasution, H.S.M. Syaaf, dan Nawawi Dusky.
Dalam waktu bersamaan Ramlan Mardjoned mendapat amanah mengelola Majalah Serial Khutbah Jumat (SKJ) sebagai Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab, mulai dari edisi perdana tahun 1978. Pemimpin Umum Serial Khutbah Jumat (SKJ) waktu itu adalah H. Nawawi Dusky. Setelah Nawawi Dusky wafat, Ramlan Mardjoned melanjutkan estafet kepemimpinan majalah SKJ selaku Ketua Pengarah/Penyunting, terakhir Pemimpin Umum/Pimpinan Redaksi.
Separuh lebih dari usia almarhum Ramlan Mardjoned diisi dengan pengabdian mengembangkan media massa Islam di Kramat Raya 45 Jakarta dalam berbagai misi, peran dan aktivitas yang dijalankannya. Dakwah melalui media cetak merupakan “dakwah tanpa suara” yang memiliki peran dan kontribusi besar dalam mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa, merawat jiwa agama di tengah masyarakat, menebar syiar agama Islam serta membangun wawasan dan cara berpikir yang positif dan konstruktif.
Ramlan Mardjoned telah memberikan darma baktinya untuk umat melalui Dewan Dakwah sejak didirikan oleh Mohammad Natsir dan beberapa tokoh lainnya pada 26 Februari 1967. Saya membaca sejarahnya pertama kali Dewan Dakwah sempat menempati kantor sementara di salah satu ruangan Masjid Al-Munawwarah, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Ramlan Mardjoned lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 10 Juli 1943. Sejak muda aktif berorganisasi sebagai kader Pelajar Islam Indonesia (PII) di Pontianak dan masuk dalam jajaran Pengurus Besar PII tahun 1966 – 1970-an. Sebagai aktivis, ia belajar sambil berorganisasi dan berorganisasi sambil belajar.
Sampai saat terakhir Ramlan Mardjoned adalah Anggota Pembina Pengurus Pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Selain Pengurus Dewan Dakwah, beliau Pengurus Ikatan Masjid Indonesia (IKMI), dan salah satu Ketua PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) sejak periode Ketua Umum DMI Kafrawi Ridwan. Beliau juga diminta sebagai Redaksi Tabloid Jumat yang diterbitkan DMI.
Ramlan Mardjoned semasa mudanya menjadi sekretaris pribadi Bapak Mohammad Natsir dan Bapak Prawoto Mangkusasmito, dua orang tokoh panutan umat Islam dalam perjuangan menegakkan agama dan membela negara. Beliau belajar ilmu perjuangan dari para pejuang bangsa dan mendalami metode dakwah dari pengalaman, sesuatu yang tidak diperoleh di bangku universitas.
Saya punya kenangan dengan publikasi Dewan Dakwah sejak dekade 90-an. Saya sering mengirim tulisan dan dimuat dalam SKJ. Saya pernah pula sesekali menulis di Suara Masjid dan Media Dakwah yang semuanya bermarkas di Jalan Kramat Raya 45 Jakarta.
Sekitar pertengahan Oktober 1999 staf penerbit Media Dakwah, Sdr. Tatang Tahyar, diutus Pak Ramlan menemui saya di kantor, membawa titipan hadiah buku dari Pak Ramlan yaitu Keluarga Sakinah, Rumahku Surgaku (Jakarta: Media Dakwah, 1999). Buku Keluarga Sakinah memuat kumpulan khutbah nikah dan taujih (nasihat) pernikahan yang ditulis Pak Ramlan, dan disampaikan di berbagai kesempatan.
Dalam buku setebal 382 halaman itu, Ramlan Mardjoned memaparkan, rumah bukan sekadar tempat kembali dalam pengertian fisik. Rumah merupakan pelabuhan pasangan suami istri atau anggota keluarga dari aktivitas sehari-hari. Bangunan rumah yang bagus tidak otomatis dapat memberikan kebahagiaan bagi penghuninya. Syariat Islam mengatur kehidupan rumah tangga agar mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. Kemudian para tetangga di lingkungan rumahnya merasakan keberadaan rumah tangga tersebut.
Saya jarang berjumpa secara fisik dengan Pak Ramlan, akan tetapi beliau mencermati tulisan-tulisan saya yang dimuat di SKJ. Saya selalu menyimak pada setiap edisi majalah SKJ, beliau selaku Ketua Pengarah/Penyunting menulis rubrik Muqaddimah. Pelanggan dan pembaca Suara Masjid, SKJ, Media Dakwah, Sahabat dan Buletin Dakwah dari Kramat Raya 45 Jakarta tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dewan Dakwah adalah pelopor penerbitan buletin tiap hari Jumat dan diedarkan di masjid-masjid berisi santapan rohani bunga rampai ajaran Islam. Para da’i dan mubaligh di berbagai pelosok daerah di Tanah Air memperoleh banyak manfaat berupa bahan khutbah dan ceramah yang atual dan bermutu dari publikasi Dewan Dakwah.
Saya dapat membayangkan Ramlan Mardjoned bersama para pengasuh majalah berupaya mempertahankan keberlangsungan penerbitan media cetak warisan para ulama dan zuama, di tengah persaingan industri media yang makin ketat dan ekspansi media digital. Dampak krisis moneter mengakibatkan naiknya ongkos cetak dan biaya pengiriman majalah ke luar Jawa, sehingga satu demi satu majalah di lingkungan Dewan Dakwah hilang dari peredaran. Meski kita sekarang tengah menikmati kejayaan media digital, namun hemat saya media cetak tidak bisa ditinggalkan sama sekali dan tetap punya tempatnya sendiri dalam peradaban masyarakat.
Saya ingin menggaris-bawahi ungkapan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia tahun 2005 – 2007 yaitu Bapak Husein Umar, sebagaimana diungkapkan Lukman Hakiem dalam “In Memorium Ramlan Mardjoned” (Republika Online, 26 April 2020) mengemukakan, “Ketika penerbitan lain baru belajar, penerbitan di Dewan Dakwah sudah maju dan sudah punya percetakan sendiri. Tetapi mengapa orang lain maju, kita malah mundur. Keluhan Bang Husein itu harus dijawab oleh generasi mutakhir Dewan Dakwah. Bang Lan, seperti Bang Husein, sudah selesai tugasnya.” pungkas Lukman Hakiem yang juga pernah menjadi sekretaris pribadi Pak Natsir.
Menurut Lukman Hakiem, Ramlan Mardjoned (Bang Lan) adalah tempat curhat para yuniornya. Bang Lan adalah senior yang mau menjadi pendengar yang baik. Perhatian dan simpatinya kepada para yuniornya, sungguh luar biasa. Bang Lan dan Serial Khutbah Jumat (SKJ) adalah “juru selamat” saat aktivis Dewan Dakwah sedang kesulitan atau sedang memerlukan dana. Bang Lan membantu dengan “membeli” tulisan para aktivis Dewan Dakwah. Bukan satu atau dua tulisan. Seringkali 10 sampai 25 tulisan dibayar dimuka oleh Bang Lan.
Selain berdakwah melalui tulisan, Ramlan Mardjoned seorang yang memiliki kapasitas dan aktif melakukan dakwah mimbar. “Tabassumuka fii wajhi akhiika shadaqah” (senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah), demikian Hadis Nabi tentang pergaulan yang sering diucapkannya. Ramlan Mardjoned, salah satu pendiri dan takmir masjid di Komplek Perumahan DKI di Joglo Jakarta Barat, tempat tinggalnya hingga akhir hayat. Menurut informasi yang saya peroleh Pak Ramlan ikut merintis dan mendirikan Muhammadiyah Cabang Kramat Sentiong Jakarta. Menantunya Fajar Nugroho mengenang, beliau bukan orang yang kaya harta, tetapi pertanyaannya ke semua orang hanya satu, apa yang bisa dibantu.
Dalam kepanitiaan Tasyakur 80 Tahun Mohammad Natsir tahun 1988 yang menerbitkan sejumlah buku, Ramlan Mardjoned ditunjuk sebagai Bendahara Panitia. Pada waktu saya menghadiri pemakaman jenazah almarhum Bapak Dr. H. Anwar Harjono, SH, tokoh Masyumi terakhir, di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan, tahun 1999, Pak Ramlan yang memandu acara penguburan dengan khidmat dan sederhana sesuai tuntunan syariat.
Pada acara memperingati 100 Tahun Kelahiran Mohammad Natsir yang diadakan 18 Juli 2008, saya bertemu Pak Ramlan, duduk satu meja dengan Pak Fauzie Natsir, putra Pak Natsir dan Pak Moh Nadjib Issom, menantu Pak Prawoto Mangkusasmito, suami Ibu Sri Sjamsiar Prawoto. Pak Ramlan merupakan salah satu Ketua Panitia Buku Prawoto Mangkusasmito yang direpro/cetak ulang edisi revisi dengan editor Lukman Hakiem tahun 2014, mendampingi Pak A.M. Fatwa selaku Ketua Umum Panitia Buku.
Ramlan Mardjoned menulis sejumlah buku, di antaranya: Aqiqah, Wasiat Rasulullah Tentang Pergaulan, Dinamika Kekuatan Islam Dengan Haji dan Qurban, Memakmurkan Masjid Dengan I’tikaf, I’tikaf dan Lailatul Qadar, K.H. Hasan Basri 70 Tahun, Kembali Kepada Fitrah: Kumpulan Khutbah Hari Raya Idul Fitri, Akhlaq Islam, Akhlaq Belajar dan Mengajar Al Quran, Manajemen Masjid (ditulis bersama Moh E.Ayub dan Muhsin, MK), Amandemen UUD 1945 Tentang Piagam Jakarta (penyunting bersama Lukman Fatahullah Rais), Peranan Masjid Pada Lingkungan Hidup (ditulis bersama H. Abujamin Roham), dan Bahaya Riba dan Lilitan Hutang.
Sekitar 1990 beliau menulis buku K.H. Hasan Basri 70 Tahun: Fungsi Ulama dan Peranan Masjid (Jakarta: Media Dakwah, 1990). Buku sebelumnya adalah kumpulan Khutbah Jumat dan Khutbah Hari Raya K.H. Hasan Basri, Ketua Umum MUI, dengan judul Risalah Islamiyah Rahmat Bagi Alam Semesta (Jakarta: Media Dakwah, 1989).
Melengkapi tulisan in memorium ini, saya mengutip penuturan Ramlan Mardjoned tentang Pak Natsir, dalam wawancara dengan Saeful Rokhman, Redaktur Pelaksana Majalah Mimbar STID Mohammad Natsir, Oktober 2018.
Pak Ramlan menuturkan sebagai berikut:
“Satu saat Pak Natsir berbicara di Gedung Pancasila. “Kita membangun Jakarta menjadi kota metropolitan dengan Nalo dan Loto”. Itu judi, yang dibangun Bang Ali (Gubernur Ali Sadikin, pen). “Ibarat kisah seorang perempuan di dalam Al-Quran, malam dia bertenun, siang dia uraikan lagi”. Dijawab oleh Bang Ali, “Kalau ada orang yang tidak mau berjalan di Jakarta karena dibangun dengan judi, pindah ke Bandung”. Ini menyindir Pak Natsir yang dididik oleh Tuan Hassan di Bandung.
Saya katakan kepada Pak Natsir, “Ini jawaban Bang Ali seperti ini beritanya. Perlu dijawab nggak?”
“Nggak usah dijawab.” tungkas Pak Natsir. Beliau berkata lagi, “Ramlan harus tahu bedanya antara tentara dan da’i.”
“Tentara kalau mau merebut satu wilayah biar hancur, membangunnya kemudian. Tetapi da’i ketika merebut satu wilayah tidak boleh ada yang hancur. Da’i harus bertahta di hati umat”. Itu diucapkannya pada tahun 1967.
Saya buktikan setelah Pak Natsir menandatangani Petisi 50.
“Sekarang ini kita kehilangan keteladanan, seperti keteladanan yang ada pada Pak Natsir. Dia guru saya, dia ayah rohani saya dan dia pemimpin saya” kata Bang Ali ketika menyampaikan Petisi 50 di DPR.
Kalaulah dulu Bang Ali dijawab Pak Natsir dengan kasar, tidak akan ada pengakuan ini. Lima belas tahun saya membuktikan ucapan Pak Natsir. Bedanya da’i dengan tentara. Da’i harus bertahta di hati umat.
Pelajaran yang dapat diambil oleh generasi muda adalah akhlak Pak Natsir sangat terpuji. Pantun yang suka dipakai Pak Natsir, “Masih ada kemungkinan sembuh bila pedang melukai tubuh, kemana hendak dicari obat bila lidah melukai hati”.
Pak Natsir tidak punya dendam. Di zaman Pak Karno, Pak Natsir dibungkam sedemikian rupa, tapi tidak pernah ada umpatan kepada Bung Karno. Kata-kata Pak Natsir itu sangat lembut. Tidak pernah berkata kasar apalagi mengejek, termasuk kepada lawan-lawannya seperti Pak Karno dan Pak Harto. Pak Natsir itu menutup betul aib orang. Kita mengerti Pak Natsir tidak senang kepada beberapa orang, tapi itu tidak pernah dikeluarkannya, tidak pernah digunjingkannya.”
Pada tanggal 18 Juni 2018 saya silaturahim ke kediaman Pak Ramlan. Saya mendengar gangguan kesehatan yang beliau alami. Pikiran dan ingatannya masih jernih. Ketika membicarakan keteladanan para pemimpin Masyumi di masa lampau, tentang Pak Natsir dan kawan-kawan, Pak Ramlan sangat antusias. Pak Ramlan menyebutnya “Bapak-Bapak kita itu”. Saya menangkap bahasa penghormatan, kecintaan dan sikap tidak membeda-bedakan antara satu pemimpin dengan pemimpin lainnya. Pak Ramlan berpesan agar generasi penerus meneladani keikhlasan para pemimpin di masa lalu dalam berjuang dan mengabdi di tengah masyarakat.
Ramlan Mardjoned menghembuskan napas terakhir Sabtu 2 Ramadhan 1441 H/25 April 2020 di RS Pelni Jakarta. Ia berpulang ke rahmatullah pada usia 76 tahun.
Salah satu kolega beliau, Pak Natsir Zubaidi yang pernah sama-sama mengelola majalah Suara Masjid, mengenang Pak Ramlan seorang sosok pekerja keras, sederhana, teliti dan telaten dalam kerja dan mau membimbing yang muda.
Ramlan Mardjoned meninggal di saat Ibukota Jakarta sedang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sesuai protokol pencegahan penyebaran pandemik virus corona (COVID-19). Dalam kondisi darurat kesehatan, tidak banyak sahabat dan masyarakat yang bisa mengantar jenazah almarhum sampai ke pemakaman Al-Azhar Memorial Park Karawang, Jawa Barat.
Pak Ramlan pergi dalam sepi, namun beliau tidak akan kesepian. Amal baiknya insya allah akan menemani hingga akhir nanti. Semoga Allah SWT meridhai dan mengampuninya.
*Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Ditjen Bimas Islam



