Oleh:
Syafaat*
Mungkin banyak yang bertanya mengenai hubungan pelaksanaan ibadah haji tahun 2024 dengan "Rashdul Kiblat", dan apa yang dimaksud dengan “Rashdul Kiblat” atau “Istiwa’ A’zam” dan Hari Sejuta Kiblat yang dicanangkan Kementerian Agama. Ini adalah gerakan untuk mengukur kembali arah kiblat dengan bantuan bayang-bayang matahari karena cara ini dianggap paling mudah dilakukan. Tanpa keahlian khusus, setiap orang dapat mengukur arah kiblat secara tepat. Perlu diketahui, peristiwa “Istiwa’ A’zam” di Kakbah merupakan fenomena saat matahari berada di titik zenit Kakbah pada saat transit. Pada saat itu, nilai sudut deklinasi matahari sama dengan nilai koordinat lintang Kakbah yang berada di Kota Makkah, yang pada tahun ini bertepatan dengan tanggal 27 dan 28 Mei 2024, ketika umat Muslim sedang melaksanakan ibadah haji.
Bisa dibayangkan cuaca Kota Makkah ketika matahari tepat di atas Kakbah, tentunya suhu udara semakin panas dibandingkan biasanya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi jamaah haji dalam melaksanakan ritual haji, terutama bagi mereka yang belum terbiasa dengan kondisi panas yang menyengat. Dehidrasi bisa saja timbul yang mengakibatkan jamaah haji mengalami kelelahan dan sakit, terlebih dengan banyaknya jamaah haji lanjut usia yang berangkat tahun ini.
Berbagai upaya persiapan dilakukan sebelum pelaksanaan ibadah haji, dengan pemeriksaan kesehatan yang ketat agar jamaah haji yang berangkat benar-benar siap menghadapi cuaca ekstrem yang akan terjadi pada musim haji tahun 2024 ini. Hal ini dilakukan dengan mengingat semakin banyaknya jamaah haji yang berangkat, sedangkan perluasan tempat pelaksanaan ibadah haji tidak sebanding dengan banyaknya jamaah.
Peristiwa "Rashdul Kiblat" sebenarnya merupakan hal biasa yang terjadi setiap tahun, namun banyak dari umat Muslim tidak memanfaatkan peristiwa tersebut untuk mengecek kembali arah kiblat masjid, musala, maupun tempat salat yang ada di rumahnya. Dengan mengingat hal tersebut, tidak berlebihan jika Kementerian Agama menjadikan peristiwa ketika matahari tepat di atas Kakbah sebagai gerakan untuk bersama-sama mengecek arah kiblat.
Ilmu pengetahuan maupun aplikasi arah kiblat telah banyak digunakan untuk menentukan arah kiblat, dan kecenderungan kesalahan dengan menggunakan ilmu maupun aplikasi tersebut sangat kecil. Namun, tidak ada salahnya kita memanfaatkan peristiwa alam yang sangat akurat ini untuk mengukur kembali arah kiblat kita.
Tentunya, tidak serta-merta kita membongkar tempat ibadah yang telah kita bangun hanya karena arah kiblat kita kurang benar. Begitu pun, tidak ada yang berpendapat jika kita salat menghadap arah kiblat yang kurang tepat mengakibatkan ibadah kita tidak diterima. Ketika kita mendapati arah kiblat dari sebuah bangunan kurang tepat, tentunya hanya arah saf salat saja yang kita luruskan tanpa harus mengubah bangunannya.
Peristiwa matahari tepat di atas Kakbah pada musim haji ini tidak terjadi setiap tahun. Peristiwa ini bisa jadi bertepatan dengan sejarah ditemukannya air zamzam pada zaman Nabi Ibrahim, mengingat pada masa tersebut bertepatan dengan kekeringan yang terjadi pada musim panas.
Pelaksanaan ibadah haji pada musim panas lebih mendekati peristiwa aslinya dibandingkan dengan pelaksanaan haji pada musim dingin. Hal ini terjadi karena peristiwa napak tilas perjalanan Siti Hajar ketika mencari air untuk anaknya terjadi pada musim panas. Begitupun dengan kegiatan di ARMUZNA (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) yang terasa lebih hikmat ketika dilakukan pada musim panas.
"Rashdul Kiblat" adalah peristiwa alam yang berlangsung setiap tahun, begitu pun dengan pelaksanaan haji yang waktunya juga hanya terjadi sekali setiap tahun. Namun, peristiwa "Rashdul Kiblat" dan ritual haji ini belum tentu terjadi sejalan beriringan, mengingat hitungan pelaksanaan haji menurut kalender Hijriah yang setiap tahunnya berbeda dengan penanggalan yang berpedoman pada beredarnya matahari.
Tentunya, para jamaah haji berharap kesehatan dan keselamatan selama menjalankan ibadah haji, meskipun dengan kondisi matahari tepat di atas Kota Makkah yang mengakibatkan suhu udara semakin panas. Ditambah lagi dengan kondisi Saudi Arabia yang sebagian besar daratannya berupa gurun yang sangat jarang dijumpai pepohonan yang dapat memberikan kesejukan alami.
*ASN Seksi Bimas Islam Kemenag Kabupaten Banyuwangi
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



