Bandung, Bimas Islam — Sebanyak 300 mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) mengikuti kegiatan Halal Goes to Campus yang digelar pada Selasa (3/1/2026), di Auditorium Bale Sawala Unpad. Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut ialah Ngobral (Ngobrolin Halal) yang dikemas dalam bentuk talkshow interaktif dengan menghadirkan narasumber dari kalangan pemerintah dan akademisi.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, dalam arahannya mengungkapkan pentingnya menjadikan gaya hidup halal sebagai kebiasaan generasi muda. “Halal lifestyle harus menjadi kebiasaan bagi generasi muda. Kita jangan sampai kalah dengan negara-negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim. Halal lifestyle bahkan sudah dikembangkan di negara-negara non-Muslim karena menyangkut kesehatan dan kualitas hidup,” tegasnya.
Talkshow Ngobral menghadirkan Abdullah Alkholis, Ketua Tim Perumusan Jaminan Produk Halal Direktorat Jaminan Produk Halal (JPH) Kementerian Agama, serta Souvia Rahimah, Ketua Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Unpad.
Dalam pemaparannya, Abdullah Alkholis menjelaskan peran strategis Kementerian Agama dalam ekosistem halal nasional. Ia menyebutkan, setelah Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menjadi badan mandiri yang memiliki otoritas sertifikasi halal, Kementerian Agama membentuk Direktorat Jaminan Produk Halal dengan mandat khusus.
“Kementerian Agama memiliki peran strategis dalam ekosistem halal di Indonesia. Setelah BPJPH menjadi badan mandiri dan memiliki otoritas sertifikasi halal, Kemenag membentuk Direktorat Jaminan Produk Halal yang bertugas dalam literasi dan edukasi halal, serta sosialisasi, evaluasi, pemantauan, hingga pelaporan,” jelas Kholis.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan literasi halal di lingkungan kampus agar mahasiswa semakin percaya diri menggunakan produk dalam negeri.
“Peningkatan halal lifestyle harus diwujudkan dengan menjadikan halal sebagai gaya hidup dan kebiasaan dalam setiap aspek kehidupan. Sosialisasi ini merupakan upaya meningkatkan literasi halal di kalangan kampus. Semakin tinggi literasi halal, masyarakat akan semakin percaya diri menggunakan dan membanggakan produk Indonesia, terutama yang telah berlabel halal. Produk berlabel halal bukan sekadar pilihan konsumsi, tetapi bagian dari jati diri dan nilai hidup,” ujarnya.
Sementara itu, Souvia Rahimah mengungkapkan, halal harus menjadi way of life atau kebiasaan hidup, termasuk bagi generasi muda. Ia menyampaikan bahwa Unpad telah menunjukkan komitmennya melalui pengembangan akademik dan kelembagaan halal.
“Halal harus menjadi way of life, terutama bagi generasi muda. Di Unpad ada mata kuliah produk pangan halal, dan pada jenjang magister terdapat program teknologi pangan halal. Tidak heran jika di Unpad juga berdiri Halal Center,” paparnya.
Menurutnya, Halal Center Unpad tidak hanya berfokus pada literasi, tetapi juga sertifikasi dan riset produk halal sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Halal Center Unpad mengurusi literasi hingga sertifikasi halal. Kami juga menjadi pusat riset produk halal. Intinya, ini bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kualitas makanan berbanding lurus dengan kualitas hidup. “Kualitas makanan sama dengan kualitas hidup. Apa yang kalian makan akan memengaruhi kualitas hidup dari berbagai aspek. Banyak studi menunjukkan pengaruhnya terhadap kesehatan fisik maupun batin, termasuk moralitas. Sumber kehidupan ada pada makanan,” ungkapnya.
Souvia juga menyebut bahwa standar halal tidak hanya dimaknai sebagai pemenuhan syariat, tetapi juga sebagai standar mutu yang bersifat universal. “Halal bukan sekadar memenuhi syariat Islam, tetapi juga standar mutu seperti BPOM atau PIRT. Standar halal harus diperlakukan sama dengan standar mutu pangan lainnya. Ini bukan hanya kebutuhan umat Islam, tetapi kebutuhan semua orang. Standar halal tidak hanya melihat aspek keamanan pangan, tetapi juga aspek filosofis, mulai dari cara memperlakukan hewan hingga produk tersebut layak dan baik untuk dikonsumsi,” tegasnya.
Ia pun mengajak mahasiswa lebih peduli terhadap konsumsi sehari-hari. “Mulai sekarang kita harus peduli terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh. Jangan hanya memanjakan lidah, tetapi perhatikan juga kualitas makanan yang kita konsumsi,” pesannya.
Dalam kegiatan itu, Direktorat JPH juga menggelar challenge poster halal. Pemenangnya adalah Hanina Shafa Deliana dan Lasya Alinsky, mahasiswa Program Studi Televisi dan Film Unpad.
“Saya sangat senang bisa mengikuti kegiatan ini. Kami mendapatkan ilmu dan pengalaman yang sangat berharga,” ujar Shafa.
Melalui kegiatan Halal Goes to Campus, diharapkan literasi dan kesadaran halal di kalangan mahasiswa semakin meningkat. Kegiatan ini juga diharapkan mendorong lahirnya generasi muda yang bangga terhadap identitasnya serta menjadikan halal sebagai gaya hidup yang berkualitas dan berdaya saing global.
Mwr/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



