Tasikmalaya, Bimas Islam — Puncak arus balik yang diprediksi terjadi pada 24–25 Maret 2026 membawa berkah bagi para pelaku usaha kecil di sekitar Masjid Besar Kecamatan Mangunreja, Tasikmalaya. Masjid yang berada di jalur strategis arus mudik dan balik ini menjadi salah satu titik singgah favorit para pemudik.
Berlokasi tepat di depan Polres Tasikmalaya, Masjid Besar Mangunreja memiliki daya tarik tersendiri. Selain fasilitasnya yang memadai, masjid ini juga menyediakan lahan parkir yang luas serta ruang bagi pedagang untuk menjajakan dagangan mereka.
Selama periode mudik, area masjid dimanfaatkan sebagai ruang pemberdayaan ekonomi. Masyarakat membuka berbagai stan penjualan, mulai dari kuliner hingga produk khas daerah seperti batik.
Pengurus masjid, Arip Husni, mengatakan bahwa meningkatnya jumlah pemudik menjadi peluang besar bagi warga sekitar untuk mengembangkan usaha.
“Masyarakat di sekitar sini sangat terbantu dengan adanya arus mudik. Mereka yang sebelumnya hanya berjualan di rumah, kini bisa membuka stan di area masjid, bahkan berkembang hingga memiliki cabang di beberapa tempat,” ujarnya saat ditemui tim Bimas Islam, Rabu (25/3/2026).
Ramainya pemudik yang singgah turut meningkatkan daya beli. Beragam produk lokal pun diminati, mulai dari makanan khas hingga oleh-oleh Tasikmalaya.
Menurut Arip, omzet pelaku UMKM meningkat signifikan saat puncak arus mudik, bahkan hampir dua kali lipat dibandingkan hari biasa.
“Kalau biasanya omzet per hari sekitar tujuh ratus ribu rupiah, saat puncak mudik bisa meningkat menjadi satu hingga dua juta rupiah, bahkan lebih,” ungkapnya.
Ia berharap keberadaan Masjid Ramah Pemudik tidak hanya menjadi tempat singgah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar, sekaligus membantu pemudik melanjutkan perjalanan dalam kondisi yang lebih baik.
“Harapan kami, pemudik mendapatkan pelayanan yang baik sehingga dapat melanjutkan perjalanan dengan sehat, aman, dan selamat sampai tujuan,” tambahnya.
Sementara itu, Plt. Kasi Bimas Islam Kabupaten Tasikmalaya, Ahmad Buhaeti, menyampaikan bahwa terdapat sembilan masjid yang ditetapkan sebagai Masjid Ramah Pemudik di wilayah Tasikmalaya, terdiri atas tiga masjid di jalur selatan dan enam di jalur utara. Tiga masjid di jalur selatan tersebut yaitu Masjid Besar Singaparna, Masjid Besar Mangunreja, dan Masjid Besar Salawu.
Ia menjelaskan, layanan di masjid-masjid tersebut didukung oleh penghulu dan penyuluh agama dari berbagai KUA di sekitar lokasi. Mereka bertugas secara bergiliran dalam tiga shift, yakni pagi, siang, dan malam.
“Masjid besar dipilih karena letaknya strategis di pinggir jalan serta berdekatan dengan Kantor Urusan Agama,” ujarnya.
Secara terpisah, Kasubdit Kemasjidan, Nurul Badruttamam, menegaskan bahwa program Masjid Ramah Pemudik tidak hanya berfokus pada layanan ibadah dan istirahat, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi umat.
“Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat berperan sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat. Kehadiran UMKM di masjid ramah pemudik menjadi bukti bahwa masjid mampu memberikan manfaat yang lebih luas,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan fungsi sosial dan ekonomi masjid merupakan bagian penting dalam menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Mwr/Mr
Mwr/Mr



