Oleh :
M. Fuad Nasar*
Bocah kecil penjual kue keliling kampung itu selalu mengintip dari celah dinding kelas saat Inyik Ibrahim Marah Sutan sedang menerangkan pelajaran di dalam kelas. Kebiasaan Marah Sutan sewaktu mengajar, suka bertanya untuk menguji apakah muridnya mengerti masalah yang diterangkan dengan mengajukan pertanyaan. Setiap pertanyaan, jawabannya seringkali datang dari luar kelas. Marah Sutan tentu heran: “Suara siapakah itu?” Suatu kali Marah Sutan melangkah keluar kelas. Di luar kelas seorang anak kecil tidak beralas kaki dan berpakaian seadanya menyimak pelajaran. Sinar matanya memancarkan kecerdasan, namun orangtuanya tidak mampu menyekolahkannya.
Budayawan A. A. Navis dalam buku Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Sjafei (1996) menceritakan, “Hampir setiap hari Marah Sutan melihat kepala Sjafei menongol di jendela kelasnya. Kepala yang menjunjung talam kue yang dibuat ibunya untuk dijajakan. Kadang-kadang, Sjafei ikut bernyanyi bila dalam kelas murid sedang belajar menyanyi. Marah Sutan tersentuh hatinya. Sjafei ditanyai ternyata Sjafei anak yatim yang tidak mengenal ayahnya karena sudah ditinggal selagi dia masih bayi. Ibunya bernama Sjafiah, sehari-hari membuat kue untuk dijajakan Sjafei.
Marah Sutan dan istrinya Anduang Chadidjah yang tidak dikaruniai keturunan ketika itu sudah memiliki dua orang anak angkat. Jiwa sosial dan kepedulian terhadap anak yang memiliki minat maju tapi miskin, menggerakkan mereka mengambil anak angkat ketiga (Sjafei) untuk diasuh dan disekolahkan.
Mohammad Sjafei lahir di Pontianak Kalimantan Barat tahun 1893. Sjafei menjadi anak angkat keluarga Marah Sutan dan Anduang Chalidjah, ibu berhati mulia yang buta huruf tapi memiliki intuisi yang tajam. Sang ayah angkat (Marah Sutan) adalah guru sejarah sekolah rendah asal Minangkabau yang waktu itu bertugas di Pontianak. Seizin ibu kandungnya Sjafei dibawa ke Sumatera Baratoleh orangtua angkatnya.
Di ranah Minang, Sjafei melanjutkan Sekolah Raja di Bukittinggi. Ia kemudian dikirim oleh Marah Sutan ke Jakarta (Batavia). Di sana Sjafei belajar melukis sambil mengajar diSekolah Kartini. Pada 1922 Sjafei menuntut ilmu di Negeri Belanda dengan biaya sendiri. Ia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia sebagai Ketua Seksi Pendidikan. Semasa belajar di Negeri Belanda ia berkawan akrab dengan Mohammad Hatta.
Semasa di negeri Belanda pernah ditawari mengajar dan menduduki jabatan disekolah pemerintah. Tapi Sjafei menolak dan kembali ke Sumatara Barat tahun 1925. Ia bertekad mendirikan sekolah yang dapat mengembangkan bakat murid-muridnya sesuai kebutuhan rakyat Indonesia.
Sekolah yang didirikan Mohammad Sjafei masih ada sampai sekarang, yaitu Ruang Pendidik INS Kayutanam, Sumatera Barat.INS singkatan dari Indonesische Nederlandsche Schooldidirikan tahun 1926. Pada waktu pembukaan sekolah menggunakan rumah penduduk yang disewa terletak di dekat stasiun kereta api di kanan jalan arah ke Bukittinggi. Jumlah murid pertama 79 orang, dan usia mereka tidak sama, bahkan di antaranya ada yang pernah menamatkan Sekolah Rakyat 3 tahun. Murid dibagi dalam 2 kelas, namun karena gurunya hanya Sjafei seorang, murid belajar berganti hari. Sekolah belum punya bangku dan meja belajar. Murid belajar sambil duduk bersila di atas tikar, sedangkan papan tulis disandarkan pada kursi.
Menurut Sjafei, inilah alasan nama sekolah yang didirikannya itu “Ruang Pendidik INS”. Pengertian “ruang” ialah suatu tempat yang luasnya tiada terbatas, sedangkan “pendidik” artinya belajar dan mengajar. Dengan demikian, arti Ruang Pendidik ialah suatu tempat yang luas yang digunakan untuk belajar dan mengajar, bukan hanya terbatas pada adanya guru dan murid, tetapi belajar dari pengalaman dan kehadiran alam di sekitarnya. Sedangkan pemakaian bahasa Belanda dalam kepanjangan nama INS ialah untuk menyatakan sekolah itu sama nilainya dengan sekolah Belanda. Pemakaian istilah Indonesisch di depan kata Nederlandsche adalah untuk menegaskan bahwa INS merupakan sekolah bangsa Indonesia yang mau maju dan statusnya tidak lebih rendah dibanding bangsa Belanda.
Mohammad Sjafei dikenang sebagai tokoh pejuang pendidikan yang membangkitkan harga diri bangsa Indonesia sejak zaman penjajahan. Dalam kancah gerakan politik dan sejarah nasional namanya dicatat sebagai pejuang kemerdekaan. Pada 29 Agustus 1945 Mohammad Sjefei atas nama bangsa Indonesia di Sumatera mengumumkan Proklamasi 17 Agustus 1945. Pengumuman kembali Proklamasi dilaksanakan di kota Bukittinggi yang dilanjutkan dengan pengibaran bendera merah putih.
Dalam masa perjuangan kemerdekaan RI di Sumatera Barat, Mohammad Sjafei menjadi pemimpin pemerintahan Sumatera Barat dengan jabatan Residen. Sejak 1 Oktober 1945 sampai 15 Nopember 1945. Mohammad Sjafei menjadi Residen Sumatera Barat Pertama dalam Provinsi Sumatera.
Pemerintah mengangkat Mohammad Sjefei menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan pada Kabinet Sjahrir. Namun tugas sebagai menteri tidak dapat dilaksanakannya karena tidak memungkinkan meninggalkan Sumatera Barat. Kemudian Sjafei diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan anggota KNIP.
Pada acara peresmian Perguruan Tinggi Pertanian di Payakumbuh, Sumatera Barat tanggal 30 November 1954 oleh Wakil Presiden RI Mohammad Hatta, Mohammad Sjafei didaulat memberikan sambutan. Dalam pidatonya, ia bercerita tentang mimpinya. Mohammad Sjafei menuturkan: tadi malam saya bermimpi, tiga orang pemuda sedang berjalan menuju surga.
Pemuda pertama saya lihat dengan langkah pasti dan tegap dia berjalan menuju surga dan di depan pintu surga Malaikat Ridwan bertanya:
“Hai anak muda, mau kemana engkau?”
“Saya mau masuk sorga, hai Malaikat Ridwan.” jawab pemuda itu.
“Apa usaha engkau di dunia yang berjasa untuk orang banyak, sehingga engkau memenuhi syarat masuk surga?” tanya Malaikat Ridwan lagi.
“Hai, malaikat penjaga pintu sorga, saya didunia menciptakan kapal dan pesawat terbang sehingga umat manusia lebih banyak dan cepat pergi ke Makkah untuk naik haji dan umrah.“ jawab pemuda itu.
“Masuk!“ jawab Malaikat Ridwan.
Pemuda kedua, saya lihat dengan langkah bergegas dia juga menuju surga dan di depan pintu surga Malaikat Ridwan bertanya:
“Hai anak muda, mau kemana engkau jalan tergesa-gesa?”
“Saya mau masuk surga, hai Malaikat Ridwan,” jawab pemuda itu.
“Apa usaha engkau di dunia yang berjasa untuk orang banyak sehingga engkau memenuhi syarat masuk surga?” tanya malaikat Ridwan lagi.
“Hai, malaikat Ridwan, saya di dunia menciptakan tenunan kain atau tekstil untuk menutup aurat umat manusia di dunia,“ jawab pemuda itu.
“Masuk!“ jawab Malaikat Ridwan.
Tiba giliran pemuda ke tiga, saya lihat dengan langkah santai menuju surga dan di depan pintu surga Malaikat Ridwan bertanya :
“Hai anak muda, mau kemana engkau?”
“Saya mau masuk surga, hai Malaikat Ridwan.” jawab pemuda itu.
“Apa usaha engkau di dunia yang berjasa untuk orang banyak, sehingga engkau memenuhi syarat masuk surga?” tanya Malaikat Ridwan.
Anak muda itu terkejut mendengar pertanyaan Malaikat Ridwan. Lalu dia menunduk tanpa menjawab hanya berdecah tiga kali, cheh.. cheh..cheh“. Lalu Malaikat Ridwan berseru, ”Pergilah dari sini!“ teriak Malaikat Ridwan.
Nah, dari mimpi saya semalam tersebut, saya membayangkan hari ini, karena ini adalah Perguruan Teknologi Pertanian Pertama di Pulau Sumatera dapat menciptakan pemuda seperti pemuda pertama dan kedua yang mampu menciptakan teknologi yang memberikan manfaat bagi umat manusia. Para tamu dan undangan yang hadir, termasuk Bung Hatta, terkesima mendengar cerita Mohammad Sjafei. Semuanya bertepuk tangan.
Mohammad Sjafei berpulang ke hadirat Allah SWT tanggal 5 Maret 1969 di Jakarta pada usia 76 tahun. Meninggalkan istri, Johanna Sicrie serta 3 orang anak. Jenazahnya dibawa ke Sumatera Barat dan dimakamkan di dalam Komplek Kampus INS Kayutanam. Kepergian Mohammad Sjafei untuk selamanya dirasakan sebagai kehilangan besar, terutama bagi Sumatera Barat. Simpati terhadap kelangsungan INS datang dari kalangan pejabat pemerintahan dan tokoh masyarakat, yaitu untuk menjaga dan melanjutkan warisan cita-cita perjuangan Mohammad Sjafei.
Menurut catatan A.A. Navis, surat kabar Aman Makmur yang terbit di Padang ketika itu membuka “dompet amal” untuk menghimpun dana dari masyarakat guna merehabilitasi bangunan sekolah INS. Bupati Padang Pariaman M. Noer mengerahkan warga masyarakat gotong-royong mengumpulkan bahan bangunan, seperti batu dan pasir. Sepeninggal Mohammad Sjafei, Pemimpin Umum Badan Wakaf Ruang Pendidik INS dipercayakan kepada A. Hamid sampai wafat, dan kemudian Bustanil Arifin, SH (mantan Menteri Koperasi dan Kepala Bulog) dan A.A. Navis.
Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari sejarah dan pengalaman hidup tokoh pejuang pendidikan Engku Mohammad Sjafei. Jika Allah SWT hendak mengangkat derajat seseorang pasti ada jalannya. Dari keluarga miskin banyak lahir anak-anak berbakat, mutiara terpendam, yang tidak selayaknya disia-siakan. Suatu masa mereka akan bersinar di tengah umat dan bangsanya jika mendapat asuhan dan pendidikan yang memadai.
Sewaktu mampir di Kompleks Sekolah INS Kayutanam dan mengunjungi makam pahlawan pendidikan Mohammad Sjafei pada 8 Maret 2015 lalu, saya mendoakan amal perjuangan Engku Mohammad Sjafei diterima di sisi Allah SWT. Semoga generasi sekarang bisa memelihara dan mengembangkan INS Kayutanam sebagai aset dunia pendidikan masa kini dan masa depan.
*Sekretaris Direktorat Jenderal Ditjen Bimas Islam



