Kendari, Bimas Islam — Riuh tepuk tangan dan lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di Arena Utama Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) Nasional XXVIII Tahun 2025 di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Ribuan masyarakat dari berbagai kabupaten dan kota memadati lokasi sejak sore hari untuk menyaksikan malam puncak yang mempertemukan para finalis terbaik dari seluruh provinsi di Indonesia.
Sejak pukul 16.00 WITA, jalanan menuju arena utama di Kompleks Eks MTQ Kendari sudah dipenuhi kendaraan. Warga datang berbondong-bondong untuk ikut merasakan kemeriahan malam grand final STQH Nasional 2025.
Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat. Ia menilai, perhelatan nasional ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga momentum memperkuat spiritualitas, persaudaraan, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
“Sulawesi Tenggara malam ini bukan hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga pusat getaran spiritual bangsa. Ribuan umat Islam berkumpul dengan niat yang sama, memuliakan Al-Qur’an. Ini bukti bahwa nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dapat berjalan seiring dalam membangun peradaban damai,” ujar Andi saat menonton malam final STQH Nasional 2025, Jumat (17/10/2025).
Gubernur juga mengapresiasi seluruh panitia, aparat keamanan, dan masyarakat yang telah menjaga suasana kondusif selama rangkaian kegiatan STQH berlangsung, mulai dari pembukaan hingga malam grand final.
Salah satu penonton, Afrizal asal Kolaka, mengaku datang jauh-jauh hanya untuk menyaksikan langsung acara tersebut. “Saya dari Kolaka dan menginap di rumah saudara. Saya ingin anak-anak saya melihat bahwa membaca Al-Qur’an itu indah dan membanggakan,” katanya.
Di tengah lautan penonton, semangat generasi muda tampak mencolok. Banyak pelajar dan mahasiswa hadir untuk menyaksikan penampilan para finalis. Tia Putri, mahasiswi asal Konawe Selatan, mengaku terinspirasi oleh para peserta.
“Melihat para qari dan qariah tampil di panggung membuat saya ingin belajar Al-Qur’an lebih dalam lagi. Saya ingin bisa seperti mereka,” ungkap Tia.
Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa nilai-nilai religius masih tertanam di tengah dinamika sosial dan modernisasi. Selain lomba tilawah dan tafsir, kegiatan ini juga diramaikan dengan pameran UMKM, bazaar literasi Islam, serta pertunjukan budaya daerah yang mencerminkan semangat moderasi beragama.
Fn/Mr



